



Ada harapan diam-diam yang dibawa banyak orang, sering kali tanpa menyadarinya, yaitu jika Tuhan ada dan sepenuhnya logis, maka hidup seharusnya bermakna dan masuk akal. Tidak harus mudah, tidak harus adil, tetapi setidaknya koheren, terstruktur seperti argumen yang tersusun dengan baik, di mana sebab mengarah dengan jelas ke akibat dan hasil mengikuti dari premis yang jelas.
Namun demikian, pengalaman hidup kerap bertentangan dengan alur semacam itu. Hidup terasa terfragmentasi, tidak dapat diprediksi, dan sering kali kontradiktif. Niat baik gagal, dan usaha tidak selalu menghasilkan hasil. Penderitaan bahkan tampak terdistribusi tidak merata. Jika Tuhan itu logis, mengapa hidup tampak begitu kacau?
Ketegangan di sini muncul dari asumsi tersembunyi bahwa rasionalitas ilahi harus menyerupai logika manusia. Ketika kita mengatakan sesuatu itu “logis”, kita sering kali memaksudkan itu sebagai mengikuti rantai penalaran yang transparan, seperti bukti matematika. Setiap langkah terlihat, setiap kesimpulan dibenarkan.
Akan tetapi, model logika semacam itu justru terbatas. Ia bekerja dengan baik dalam sistem tertutup, di mana variabel dikendalikan dan definisi ditetapkan, dan kehidupan manusia bukanlah sistem tertutup. Kehidupan bersifat terbuka, dibentuk oleh faktor-faktor yang berinteraksi tak terhitung jumlahnya, mulai dari pilihan individu, kontingensi historis, peristiwa alam, hingga kompleksitas batin kesadaran manusia.
Mengharapkan kehidupan berjalan seperti silogisme yang rapi berarti memaksakan struktur yang tidak dimiliki oleh realitas. Ini tidak berarti bahwa kehidupan itu irasional. Sebaliknya, mungkin justu ia menunjukkan bahwa jenis rasionalitas yang mengatur eksistensi berbeda dari jenis yang kita gunakan untuk menyelesaikan persamaan.
Logika ilahi, jika hal seperti itu sungguh dapat dibicarakan, mungkin tidak dapat direduksi menjadi penjelasan linier. Logika ilahi mungkin mencakup lapisan makna yang tidak langsung dapat diakses dari perspektif kita yang terbatas.
Pertimbangkan perbedaan antara membaca satu kalimat dan memahami seluruh novel. Sebuah kalimat yang diambil secara terpisah mungkin tampak membingungkan atau bahkan kontradiktif. Hanya ketika ditempatkan dalam narasi yang lebih luas barulah kalimat itu mulai masuk akal.
Dalam hal ini, pengalaman manusia sering kali menyerupai kalimat yang terisolasi itu. Kita menghadapi peristiwa tanpa akses ke konteks lengkap di mana peristiwa itu berada. Apa yang tampak kacau pada satu saat mungkin merupakan bagian dari pola yang melampaui pemahaman kita saat ini.
Pandangan ini tidak menghilangkan kekacauan kehidupan, tetapi membingkainya kembali. Masalahnya bukan berarti realitas tidak memiliki keteraturan, tetapi keteraturan tersebut tidak sepenuhnya terlihat oleh kita secara langsung dan terang benderang.
Ada juga dimensi temporal yang perlu dipertimbangkan. Logika manusia sering beroperasi di masa kini, mencari kejelasan dan penyelesaian segera, tetapi banyak proses dalam kehidupan berlangsung seiring waktu.
Pertumbuhan, misalnya, jarang terjadi secara linier. Pertumbuhan melibatkan kemunduran, jeda, dan transmutasi yang tak terduga. Pengalaman yang sulit mungkin tampak tidak berarti pada saat itu, tetapi justru memperoleh makna gamblang di kemudian hari. Apa yang tampak sebagai kekacauan, jika dilihat kembali, akan mengungkapkan semacam koherensi yang awalnya tidak tampak.
Ini menimbulkan pertanyaan filosofis yang lebih mendalam, yaitu apakah kekacauan merupakan tanda irasionalitas atau merupakan ciri kompleksitas?
Di banyak bidang, dari biologi hingga fisika, sistem kompleks tidak berperilaku dengan cara yang sepenuhnya dapat diprediksi. Mereka menunjukkan pola, tetapi pola tersebut tidak selalu sederhana.
Kita mesti catat bahwa perubahan kecil dapat menyebabkan efek yang tidak proporsional. Hasil muncul dari interaksi daripada semata-mata dari penyebab langsung. Jika dunia itu sendiri beroperasi dengan tingkat kompleksitas ini, tidak mengherankan jika kehidupan manusia—yang berjalan di dalam dunia itu—akan mencerminkan karakteristik serupa.
Pemikiran religius, khususnya dalam tradisi yang lebih reflektif, telah lama mengakui ketegangan ini. Alih-alih bersikeras bahwa segala sesuatu harus segera dapat dipahami, pemikiran religius sering menekankan kepercayaan dalam menghadapi pengetahuan yang parsial. Kepercayaan ini bukanlah penerimaan buta, tetapi pengakuan akan keterbatasan epistemik, suatu kesadaran bahwa pemahaman manusia terbatas.
Jika Tuhan itu logis, pertanyaan “mengapa hidup tampak begitu kacau dan berantakan?” kemudian bukan berkenaan mengidentifikasi kekurangan dalam logika ilahi, sebab ia sebetulnya tentang memeriksa kerangka ekspektasi yang kita bawa ke realitas.
Kita berasumsi bahwa kejelasan harus segera, bahwa keadilan harus terlihat, bahwa makna harus transparan. Ketika harapan ini tidak terpenuhi, kita menafsirkan kesenjangan tersebut sebagai kekacauan. Mungkin kesenjangan itu sendiri bahkan bersifat informatif dan edukatif.
Kekacauan mungkin adalah sesuatu yang memungkinkan kebebasan. Dunia yang sepenuhnya dapat diprediksi akan menyisakan sedikit ruang untuk pilihan yang autentik. Jika setiap tindakan mengarah pada konsekuensi yang jelas dan langsung, perilaku manusia akan menyerupai perhitungan daripada keputusan moral.
Ketidakpastian menimbulkan risiko, tetapi juga membuat tanggung jawab menjadi bermakna. Artinya, ambiguitas hidup memaksa individu untuk bertindak tanpa jaminan penuh, untuk memilih tanpa pengetahuan penuh. Dalam pengertian ini, kurangnya keteraturan yang terlihat bukanlah suatu kekurangan, melainkan suatu syarat bagi jenis eksistensi tertentu.
Isu tersebut juga memiliki dimensi eksistensial. Pencarian akan kejelasan logis yang sempurna dapat menjadi cara untuk menghindari tantangan hidup yang lebih mendalam. Jika semuanya dijelaskan sepenuhnya, kebutuhan akan interpretasi, refleksi, dan keterlibatan eksistensial akan berkurang, sebab kekacauan hidup memaksa kita untuk mengajukan pertanyaan, mencari pola, dan membangun makna, membuat kondisi manusia tetap terbuka, bukan tertutup.
Tidak berarti bahwa penderitaan atau kebingungan harus dianggap sepele. Kesulitan hidup itu nyata, dan keinginan untuk memahami adalah sah, tetapi ketiadaan jawaban sederhana tidak selalu menunjukkan ketiadaan akal sehat dan mengarah pada ketidakmasukakalan. Sebaliknya, hal itu mungkin menunjukkan bentuk rasionalitas yang beroperasi di luar pemahaman langsung.
Jika Tuhan itu logis, maka mungkin logika yang dimaksud bukanlah logika linier yang rapi seperti yang sering kita bayangkan, tetapi tatanan yang lebih dalam dan lebih luas, yang mencakup kompleksitas, ambiguitas, ketidakpastian, kementakan, dan ambivalensi makna.
Dari dalam tatanan itu, hidup mungkin tidak berantakan dalam arti acak atau kacau. Mungkin hanya tampak demikian karena kita melihatnya dari dalam, dari satu fragmen pada satu waktu tertentu belaka. Jadi, pertanyaannya bukanlah mengapa hidup itu berantakan atau kacau, tetapi apakah harapan kita akan kerapian itu sendiri sungguh tepat sasar.
Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com