



WASHINGTON, SEATTLE- Musim dingin tahun 2012 masih merangkak senyap, saya sendirian tiba di sini dan bertemu dengan Ibu Arlene Lev (istri mendiang Prof Daniel S. Lev) dan sejarawan Asia Tenggara Prof Laurie Sears, diantar oleh Mia Siscawati MA, waktu itu kandidat PhD di University of Washington (UW), Seattle, AS.
Ibu Arlene dan Ibu Laurie bilang,’’ Mia Siscawati mahasiswi yang tekun, gigih dan mumpuni, bakal beres PhD-nya nanti’’. Mia Siscawati PhD merampungkan sarjana di IPB dan gelar MA di Brandeis University, AS, kini dia mengabdi sebagai Direktur Program Studi Kajian Gender- Pascasarjana Universitas Indonesia . Waktu itu angin lewat kelu berbisik padaku,’’Selamat datang, anak bengal Bagelen, tepian pantai Khatuliswa yang sepi dan sendu.’’
Saya bertemu Prof Daniel S. Lev kurun 1990-an ketika terlibat sebagai salah satu aktivis yang terlibat dalam kegiatan Soedjatmoko Memorial Lecture, Yayasan Soedjatmoko, Jakarta dimana Dan Lev diundang menjadi pembicara tunggal untuk pidatonya yang mengesankan mengenai pentingnya memaknai kembali Republik, Hak Asasi Manusia dan Demokrasi dalam konteks Indonesia yang masih dicekam otoriterianisme dan pola lama kekuasaan feudal-patrimonial era Presiden Soeharto.
Dan Lev waktu itu dengan tenang, tegas dan kadang lembut, sesungguhnya bersuara sangat kritis dan keras atas semua keburukan otoriterisme itu karena kuasa Orde Baru itu membelenggu rakyat yang menghendaki keadilan, kebebasan dan kemajuan secara individu dan sosial. Setelah itu saya sesekali mendengarkan ceramahnya di Jakarta, terutama sesudah Soeharto jatuh, namun tidak sempat berbicara kepadanya mengingat kesibukannya yang sangat padat.
Saya tak sempat lagi ketemu Prof Daniel S. Lev, dan baru ketemu Ibu Arlene Lev tahun 2012 silam ketika saya menjadi akademisi tamu di universitas kesohor itu atas kebaikan sahabat lamaku Dr Loren Ryter MA ( alumnus UW dan mantan Assistant Professor di Universitas Cornell, New York, kini berafiliasi di Southeast Asian Studies, University of Michigan, Ann Arbor) yang ketika riset untuk PhD-nya di Indonesia kurun 1990-an sering kutemani kluyuran di Jakarta.
Kalau tak keliru, Loren Ryter bilang ke Ibu Laurie dan Ibu Arlene begini,’’Herdi is my ‘wayward friend’ during my research days in Jakarta in 1990s.’’ Saya tergelak tawa. Loren Ryter dikenal berani dan blusukan juga keman-mana, dia menulis artikel ‘’Pemuda Pancasila: The Last Loyalist Free Men of Suharto’s Order ‘’(Indonesia, journal, New York: Cornell University, Vol. 64, h.45-73, 1998) yang seingat saya merupakan bagian dari disertasi PhD-nya di University of Washington.
Loren Ryter memintaku ke University of Washington, Seattle setelah mendengar kabar bahwa saya berada di San Fransisco. Loren Ryter tahu bahwa saya telah mengabdi sebagai dosen tetap di Universitas Paramadina, sekolah perjuangan bagi pluralisme, multikulturalisme, kebhinekaan dan Islam peradaban yang didirkan Prof Nurcholish Madjid, dan tidak cuma jungkir balik bergulat di LSM dan jurnalisme di mana Loren Ryter mengetahui sepak terjangku di situ di masa Orde Baru.
Saya ingat, Indonesianis Universitt of Washington, Prof Daniel S. Lev (Dan Lev, panggilan akrabnya) , sebelum wafat, dengan susah payah meneliti dan menulis mengenai Yap Thiam Hien, seorang pengacara (advokat) Indonesia keturunan Tionghoa yang gigih dan kesohor itu. Di musim dingin, Februari tahun 2012, saya berdialog bebas dengan Ibu Arlene Lev (Istri Dan Lev) dan Prof Laurie Sears di kampus Universitas Washington, termasuk soal buku Dan Lev ini. Arlene menulis satu bab dalam buku monumental ini.
Arlene juga bercerita padaku bahwa semangat Pak Dan Lev untuk terus memperkenalkan Indonesia dan membela HAM di Tanah Air kita tak pernah padam. Di hari-hari terakhir hidupnya, Prof. Lev masih berupaya menyelesaikan bukunya tentang Yap Thiam Hien, ahli hukum dan pejuang hak-hak asasi manusia pada tahun 1960-an.
Laporan Tempo dan Antara menyingkapkan, Arlene bercerita bahwa sesaat sebelum suaminya meninggal dunia, seorang sahabat lamanya yang juga guru besar di Universitas Cornell, Prof. Benedict Anderson, duduk di sisi tempat tidur Lev. Saat itu Anderson membisikkan kata-kata agar Prof. Lev tak perlu mengkhawatirkan tentang bukunya itu, dan memastikan buku itu selesai pada akhirnya. Setelah mendengarkan itu, Prof. Lev berpaling, lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan tenang.
Prof Daniel Son Lev, kita memanggilnya Pak Dan Lev, sangat perduli dengan tegaknya Negara Hukum di Indonesia setelah berpuluh tahun RI di bawah rezim otoriter yang menekankan Negara Kekuasaan,yang diwarnai kuatnya rezim patrimonial dan praetorian di mana bayangan ‘’a long shadow of one man under the New Order’’ sangat dominan.
“Suami saya memang sudah berpesan kepada saya jika ia meninggal dunia nanti agar jenazahnya dikremasi,” tutur Arlene Lev, istri Daniel Lev dalam suatu “memorial service” atau upacara peringatan mengenang suaminya Daniel Lev, di University of Washington, tempat Pak Dan Lev mengajar.
Dalam edisi khusus “Yap Thiam Hien Sang Pendekar Keadilan” (2013), Tempo menyebutkan bahwa buku Dan terdiri dari 13 bab. Lima bab pertama sudah selesai. Sementara bagian-bagian lainnya masih berbentuk draf. Draf-draf inilah yang mengganggu pikiran Dan. Arlene, istri Dan, tak tega melihat suaminya menderita. Ia meminta Benedict Anderson untuk memberikan motivasi pada Dan Lev. Dari situ, terucaplah janji Ben Anderson. Tak lama setelah Ben membisikinya, Dan Lev tersenyum simpul sebelum akhirnya menutup mata, tepat hari itu 12 tahun silam, di usianya yang ke-72.
Selanjutnya: Mengenal Yap Thiem Hien… (2)
Dosen di Sekolah Pascasarjana Universitas Paramadina