Islam Melarang Umatnya untuk Ingkar Janji

Kompasiana.com

Semakin bertambahnya hari bertambah pula kenalan kita. Hal ini adalah sebuah dambaan bagi banyak orang karena kita bisa berbagi kebahagiaan bersama dan saling membantu jika dalam keadaan susah. Tetapi jalan cerita dalam persaudaraan tidak semulus kelihatannya, banyak sekali rintangan yang harus dilewati salah satunya teman/saudara yang suka ingkar janji.

Mulutmu harimaumu adalah ungkapan yang tepat jika dikaitkan dengan orang-orang yang suka ingkar janji. Arti dari pepatah itu adalah kekuatan mulut itu sangat besar. Mulut diibaratkan harimau yang sangat buas karena keinginan memangsa korbannya. Maka dari itu gunakanlah dengan sebaik-baiknya agar tidak menjadi boomerang bagi diri sendiri dan orang lain.

Seiring berjalannya waktu, banyak orang yang menggunakan mulutnya untuk mengeluarkan janji-janji busuk. Seperti ketika berjanji untuk menyelesaikan pekerjaan malam hari namun akibat tenggat waktu yang masih lama membuat beberapa orang menunda nunda pekerjaan, dan janji untuk menghadiri kegiatan saat kita tahu tidak dapat mengikuti kegiatan tersebut namun untuk membuat pengundang senang akhirnya memberikan alasan lain pada saat kegiatan berlangsung nanti.

Hal tersebut jika terus dilakukan hingga menjadi kebiasaan dapat membuat orang lain mengurangi rasa percaya pada diri kita, lambat laun hubungan dekat menjadi jauh hingga jarang bertegur sapa yang menandakan semakin enggannya seseorang melihat kita. Kebiasaan inilah yang akan merusak tali silaturahmi secara perlahan.

Selain itu dalam dunia politik, banyak sekali pejabat-pejabat yang ingkar janji. Dengan menyebarkan janji-janji manis sebelum acara pemilihan berlangsung, namun setelah naik jabatan, mereka semua lupa akan janji manis yang lalu. Hal ini akan memunculkan kekecewaan masyarakat akibat janji manis yang tak kunjung pernah menjadi kenyataan.  Dampak yang ditimbulkan adalah  pecahnya sebuah persaudaraan dan kelompok secara sepihak. Bukan main lagi perihal janji busuk merusak silaturahmi.

Perlu diketahui bahwa mengingkari janji dapat membuat seseorang dekat dengan sifat munafik karena menurut Imam Bukhari dan Muslim ada empat perkara sebagai ciri dari kemunafikan. Ciri pertama sifat munafik adalah jika berbicara berdusta yaitu apa yang dikatakan dengan apa yang terjadi sesungguhnya jauh berbeda dan hal tersebut sengaja dilakukan. Ciri kedua adalah tidak menepati janj atau ingkar janji.

Ciri ketiga adalah jika diberi amanah dia berkhianat, hal tersebut dapat kita temukan dalam kepengurusan sebuah organisasi, ketika sesi wawancara mereka memberikan yang terbaik dari dirinya namun saat menjalankan tugas sebagai fungsionaris organisasi masih ada yang menghilang bahkan susah untuk dihubungi, banyak argumen berupa alibi yang mereka katakana untuk menjauh dari tugas yang diamanahkan..

Islam pun secara tegas akan menghukum orang-orang yang ingkar janji. Mengenai pentingnya menepati janji terdapat dalam surat an Nahl ayat 91 dan 92, yang berbunyi:

Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya mengujimu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari Kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu”.

Dari terjemahan ayat di atas menunjukkan bahwa agama Islam sendiri mengajurkan umatnya untuk selalu menepati janji. Apabila dalam praktik kita ingar janji dengan alasan yang orang lain tidak mengetahuinya, Allah melihat apa yang kita lakukan di dunia. Orang tersebut akan dilaknat dan mendapat siksaan diakherat bahkan di dunia. Siksaan didunia yakni dijauhi teman-temannya dan tidak dipercaya lagi karena sudah berlabel manusia ingkar janji.

Ayat diatas juga diperkuat dengan hadist nabi mengenai orang yang ingkar janji yang bersumber dari Abdullah bin Amr radhiallahu’anhuma, beliau berkata, Rasulullah sallallahu’alahi wa sallam bersabda:

Empat (prilaku) kalau seseorang ada padanya, maka dia termasuk benar-benar orang munafik. Kalau berbicara berdusta, jika berjanji tidak menepati, jika bersumpah khianat, jika bertikai, melampaui batas. Barangsiapa yang terdapat salah satu dari sifat tersebut, maka dia memiliki sifat kemunafikan sampai dia meninggalkannya.” (HR. Bukhari, 3178 dan Muslim, 58).

Berdasarkan pendapat penulis, ada baiknya kita melaksanakan janji sesuai dengan apa yang ada dalam perjanjian tanpa menunda lagi. Sebagai umat muslim tentu saja kita akan berharap untuk dijauhkan dari laknat yang pedih terutama laknat dari kemunafikan. Lalu bagaimana cara seorang hamba terlepas dari perkara kemunafikan atau terlepas dari kebiasaan mengingkari janji ?,

Hal pertama yang harus dipahami oleh setiap orang yang akan melakukan janji adalah mengetahui maksud dan tujuan dari janji tersebut, jangan sampai berjanji tanpa tujuan dan maksud yang jelas. Kedua, adalah selalu ingat bahwa mengobral janji palsu sangatlah dibenci oleh Allah, dengan mengingatnya insyaallah kita akan terhindar dari hal ini.

3

Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya dan Universitas Muhamamdiyah Surabaya

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.