Tren Pengajian Outdoor: Beribadah Sekaligus Rekreasi

Menikmati keteduhan spiritual melalui tren pengajian outdoor yang memadukan esensi beribadah sekaligus rekreasi.

Selama bertahun-tahun, masjid menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Muslim. Selain sebagai tempat ibadah, masjid juga menjadi ruang utama penyelenggaraan pengajian dan majelis taklim.

Namun, belakangan ini lanskap tersebut mulai bergeser. Sebuah fenomena baru lahir ketika ruang publik seperti perkebunan, kafe, hingga hamparan pantai beralih fungsi menjadi panggung pengajian.

Fenomena ini tidak lagi menjadi kasus kasual di satu-dua daerah, melainkan telah menjelma sebagai tren kolektif di berbagai wilayah. Gejala ini mengisyaratkan adanya perubahan cara masyarakat modern dalam memaknai ruang keagamaan.

Pengajian tidak lagi terkungkung dalam batas-batas arsitektur formal masjid. Pergeseran ini lantas memantik sebuah pertanyaan mendasar: mengapa banyak kelompok keislaman kini lebih tertarik memindahkan altar spiritualitas mereka ke alam terbuka?

Pengajian dan Ruang Sosial Baru

Bagi sebagian kelompok masyarakat, pengajian kini tidak hanya dipandang sebagai ibadah yang berfungsi sebagai sarana menambah pengetahuan agama. Pengajian juga menjadi ruang sosial yang mempertemukan frekuensi dan orang-orang dengan latar belakang yang sama.

Jika selama ini pengajian di masjid cenderung tersegmentasi, misalnya khusus untuk kelompok ibu-ibu dengan anggota yang itu-itu saja, maka ruang terbuka menawarkan fleksibilitas yang berbeda. Karakter tempatnya yang publik mengubah pengajian ini menjadi ruang inklusif (pengajian umum) yang memperluas jangkauan sosial para anggotanya.

Menariknya, fenomena ini tidak hanya terjadi pada kelompok ibu-ibu pengajian. Berbagai kalangan mulai terlibat dalam model pengajian semacam ini. Kalangan bapak-bapak, para remaja pun turut hadir di pengajian tersebut. Mereka yang biasanya tidak pernah terlibat dalam kegiatan pengajian, kini mulai tertarik untuk mengikutinya.

Memang banyak cara untuk menarik perhatian masyarakat dalam praktik keagamaan, salah satunya pengajian di alam terbuka semacam ini.

Di sisi lain, bukan hanya ruang sosial saja yang menjadi kompaknya para jama’ah, tetapi pakaian seragam yang digunakan oleh jama’ah juga salah satu indikator kekompakan mereka.

Mereka mengenakan baju atau kaos panjang dengan model dan warna yang senada, kemudian tertulis identitas kelompok jama’ah tersebut. Hijab pun bukan hanya model yang sama, tapi warna dan motif juga seragam.

Seragam yang mereka pakai memiliki makna yaitu simbol kebersamaan, di ruang terbuka semakin terlihat kekompakan dalam solidaritas sosial. Kegiatan yang terbuka untuk umum, dan juga memakai pakaian yang seragam.

Pada umumnya, alam terbuka seringkali hanya dianggap sebagai tempat rekreasi semata. Pengunjungnya didominasi oleh para kaum remaja dibanding orang tua. Seperti pegunungan biasanya dijadikan tempat camping bagi anak-anak dan remaja, dan juga pantai biasa dijadikan tempat paling ramai untuk berekreasi.

Meskipun alam terbuka yang dominan dijadikan tempat rekreasi bagi anak-anak dan remaja, tetapi kelompok jama’ah juga memiliki inspirasi bahwa tempat terbuka juga bisa dijadikan tempat spiritual keagamaan dalam pengajian.

Adanya ruang baru bagi jama’ah masjid kini pengajian bukan hanya untuk ibadah saja, namun mereka akhirnya mempunyai ruang baru yang dapat mempererat silaturahim.

Selain masjid yang menjadi ruang formal peribadatan, alam terbuka juga dijadikan ruang sosial dalam beragama. Dengan adanya kegiatan di tempat yang terbuka, jama’ah bisa mengikuti pengajian sembari menikmati dan merenungi kebesaranNya melalui ciptaanNya.

Dampak Sosial Agama

Dengan adanya ruang baru dalam kegiatan keagamaan ini, agama kemudian bisa hadir di ruang sosial. Masjid yang menjadi ruang formal dalam praktik keagamaan, dan alam kemudian menjelma menjadi ruang yang menawarkan suasana baru sekaligus menjadi ruang sosial dalam bingkai praktik keagamaan yang melengkapi posisi Masjid sebagai ruang formal.

Hal ini kemudian memberi dampak besar bagi masyarakat. Salah satunya adalah peningkatan ketertarikan dan minal masyarakat untuk mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan yang telah dibungkus dengan model baru ini.

Melalui lensa antropologi agama, fenomena ini memperlihatkan bagaimana simbol (berupa seragam), ruang (alam terbuka), dan tradisi (pengajian modern) berkelindan membentuk suatu budaya keagamaan baru. Agama tidak lagi mengisolasi diri di dalam ruang sakral yang privat, melainkan hadir secara cair di ruang sosiologis masyarakat modern.

Walhasil, tren pengajian di alam terbuka membuktikan bahwa praktik keagamaan selalu adaptif terhadap kebutuhan sosial penganutnya. Ruang baru ini berhasil mempertemukan dua kebutuhan manusia modern sekaligus: soliditas sosial yang inklusif dan pemenuhan spiritualitas yang menyatu dengan semesta.

0

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.