



Manusia modern adalah arsitek yang terobsesi pada kendali. Kita hidup di era di mana ketidakpastian dianggap sebagai musuh utama, sehingga setiap jengkal kehidupan mulai dari tangga karier, proyeksi masa depan, hingga validasi sosial di jagat maya harus direncanakan dengan presisi.
Ironinya, semakin keras kita menggenggam kendali, semakin rapuh pula kewarasan kita. Obsesi untuk mengatur segala hal yang berada di luar kontrol manusia ini justru bermuara pada satu titik akut: stres, kecemasan (anxiety), dan rasa lelah mental yang tak berkesudahan akibat ekspektasi yang patah.
Di tengah kepungan dunia yang bising oleh tuntutan untuk terus memegang kendali inilah, momentum bulan Dzulhijjah hadir bukan sekadar sebagai kalender ritual tahunan. Lebih dari itu, Idul Adha, Haji, dan Kurban sejatinya adalah sebuah ruang kontemplasi atau “terapi psikologis” untuk manusia modern. untuk menepi sejenak, melonggarkan ego, dan kembali berserah diri (surrender) untuk melepaskan keterikatan duniawi.
Dimensi psikologis dari ‘berserah diri’ ini pertama-tama dapat kita lihat melalui visualisasi ibadah haji, khususnya saat jutaan manusia mengenakan pakaian ihram dan berkumpul di Padang Arafah. Secara psikologis, manusia modern sangat bergantung pada “topeng” dan atribut duniawi untuk mendefinisikan keberhargaan dirinya.
Manusia sering merasa aman hanya ketika dibungkus oleh pangkat, pakaian bermerek, gelar akademis, atau status sosial. Namun, dalam ritual haji, semua struktur artifisial itu dipreteli tanpa sisa. Selembar kain putih tanpa jahitan yang dikenakan oleh seorang presiden, korporat kaya, maupun buruh pabrik mengirimkan pesan psikologis yang menghunjam: di hadapan semesta dan Sang Pencipta, ego kita tidak memiliki ruang untuk bersikap arogan.
Puncak dari peluruhan ego ini terjadi saat Wukuf di Arafah. Di bawah terik matahari, jutaan manusia bersimpuh dalam kondisi yang setara. Di momen inilah, manusia seolah dipaksa untuk “telanjang” secara psikologis, melepaskan semua gengsi, mengakui kerapuhan, dan menumpahkan segala beban batin di hadapan Tuhan.
Dari kacamata psikologi, Wukuf berfungsi sebagai ruang self-resetting atau pemulihan diri yang sangat masif. Saat kita menyadari betapa kecil dan ringkihnya diri kita di tengah hamparan gurun, ada beban besar yang luruh dari pundak kita. Kita sadar bahwa kecemasan berlebih yang selama ini menghantui hari-hari kita sebenarnya lahir dari ilusi bahwa kita adalah pusat dari segalanya.
Menyadari ketidakberdayaan diri di Arafah justru melahirkan kedamaian batin, karena saat itulah kita berhenti berpura-pura menjadi makhluk yang maha kuasa atas hidup sendiri.
Namun, peluruhan ego sebagaimana dilatih dalam ibadah haji belumlah cukup. Manusia tidak hanya terbelenggu oleh ego dalam dirinya, tetapi juga oleh berbagai objek di luar dirinya yang menjadi sumber keterikatan emosional. Pada titik inilah pesan kurban menemukan relevansinya.
Jika ibadah haji mengajarkan kita untuk meluruhkan ego internal, maka ibadah kurban melatih kita untuk memutus keterikatan neurotik terhadap hal-hal eksternal, keterikatan duniawi.
Secara historis, penyembelihan Ismail oleh ayahnya sendiri, Nabi Ibrahim, merupakan bentuk kepatuhan mutlak. Namun, dari sudut pandang psikologis, peristiwa tersebut adalah visualisasi dari sebuah konflik batin yang sangat hebat.
Dalam konteks kehidupan modern, Ismail tidak lagi dipahami semata sebagai sosok anak yang dicintai Nabi Ibrahim. Ia dapat dibaca sebagai simbol dari segala sesuatu yang paling kita cintai, banggakan, dan takut kehilangannya; bisa berupa karier yang mapan, reputasi yang telanjur wangi, ekspektasi ideal, atau ambisi-ambisi yang kita tuhankan secara tidak sadar.
Psikologi modern mengajarkan bahwa akar dari penderitaan batin dan kecemasan kronis sering kali bersumber dari keinginan untuk menggenggam sesuatu secara berlebihan (over-attachment). Ketika kita merasa memiliki sesuatu sepenuhnya, kita akan selalu didera kecemasan akan kehilangan. Semakin kuat keterikatan itu, semakin besar pula ketakutan yang muncul ketika kemungkinan kehilangan mulai membayangi.
Perintah untuk menyembelih Ismail sejatinya adalah latihan psikologis untuk memutus unhealthy attachment (keterikatan yang tidak sehat) terhadap dunia. Kurban mengajarkan bahwa melepaskan sesuatu bukan berarti kita kalah atau kehilangan kendali.
Sebaliknya, berserah diri adalah keberanian untuk melonggarkan cengkeraman pada keterikatan duniawi dalam hidup kita, seraya percaya bahwa mengembalikan semua itu kepada Allah yang justru akan mendatangkan kedamaian batin yang sejati.
Akhirnya, refleksi dari bulan Dzulhijjah ini meluruskan kembali miskonsepsi kita tentang makna “berserah diri” atau tawakkal. Dengan demikian, tawakkal bukanlah lawan dari ikhtiar, melainkan cara untuk membebaskan diri dari beban psikologis yang lahir dari obsesi mengendalikan hasil akhir.
Sebaliknya, ia adalah sebuah kecerdasan psikologis sekaligus spiritual untuk menjaga kewarasan jiwa. Berserah diri berarti kita tetap melebarkan ikhtiyar, namun di saat yang sama, kita mengizinkan hati kita untuk bersandar pada ketetapan Allah.
Esensi dari bulan Dzulhijjah sejati tidak diukur dari seberapa jauh langkah kaki kita telah menapak di tanah suci, atau seberapa mahal hewan yang kita alirkan darahnya. Ukuran keberhasilan itu terletak pada apa yang terjadi setelah semua selebrasi dan ritual ini usai.
Pertanyaannya kemudian kembali kepada diri kita masing-masing: seberapa siap kita membawa “seni berserah diri” ini ke dalam ruang-ruang keseharian kita? Siapkah kita untuk melonggarkan cengkeraman kecemasan, menyembelih keangkuhan ego, dan melangkah ke masa depan dengan jiwa yang lebih tenang dan lapang?
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Pemerhati isu Psikologi Islam