



Hijrah salah satu fenomena yang dilakukan oleh masyarakat terutama bagi pemeluk agama Islam dimana pun mereka berada, di era milenial ini perubahan para remaja penuh dengan kejutan dalam waktu yang sangat singkat, sebuah perubahan yang mengantarkan petualangan pada diri mereka pada titik dimana yang jauh bertolak belakang dari sebelumnya, yang dari awalnya suka mencaci maki tiba-tiba menjadi seseorang yang sangat diam, dari yang awalnya berpakaian seksi berubah menjadi seseorang yang berpakaian syar’i bahkan juga memakai cadar. Semua itu pasti ada alasan dibalik berubahannya tetapi sering kali alasannya itu susah untuk difahami dengan melihat secepat perubahannya.
Seseorang berhijrah dari awalnya negatif menuju positif untuk bertaat kepada Allah sebagai bukti bahwa manusia sejauh manapun bagi mereka yang mengingkari Tuhannya dan tidak menjalankan perintahnya mereka akan tetap membutuhkan Agama untuk menuntun kehidupannya. Jadi ketika ada gerakan hijrah mereka harus berperan aktif dalam mengajak orang-orang khususnya anak muda jaman sekarang untuk mendekatkan dan memperbaiki diri kepada Allah SWT, dan membuat mereka tidak mendekati manusia saja tapi juga mendekatkan dirinya kepada penciptanya juga.
Dalam berhijrah seseorang harus didorong oleh keinginan dalam dirinya seperti keyakinan dalam dirinya bahwa dirinya ingin berhijrah karena merupakan kewajiban bagi dirinya untuk melakukan perintahkan oleh Allah SWT, dan juga untuk kebaikan dirinya. Seseorang berhijrah harus meninggalkan keadaan yang dianggap baik dirinya tetapi suatu keburukan menurut Allah. Orang berhijrah juga harus mendapatkan dukungan dari lingkungan seperti majelis ilmu yang dapat menjadikannya ketetapan untuk hatinya dalam menjalini perintah agama islam karena adanya komunikasi antara dia dan lingkungan mengenai kegiatan hijrahnya yang dijalaninya.
Pada saat ini banyak gerakan yang terbentuk dalam berbagai aspek seperti sosial, agama, dan gerakan lainnya. Di Indonesia sendiri banyak berbagai macam gerakan sehingga msyarakat bebas untuk memilih yang ingin di ikutinya sesuai dengan keinginannya, dan banyak gerakan yang mendapat perhatian dari masyarakat adalah gerakan keagamaan. Salah satunya media sosial sebagai media menyampaikan informasi tentang kajian, dikarenakan media sosial pada saat ini sudah menjadi dari bagian kehidupan para remaja masa kini, dan selain itu juga hampir setiap remaja pada saat ini memiliki media sosial baik itu WA, IG, facebook, line, dan lain sebagainya. Selain media sosial, mereka juga melakukan ajakan dengan cara membuat poster dengan desain yang lebih update dan dengan gaya anak remaja masa kini.
Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia dan media sosial di ramaikan dengan acara festival hijrah atau biasa disebut dengan Hijrah Fest. Di mana festival ini salah satu yang dapat mendukung fenomena hijrah yang sedang menjadi salah satu gaya hidup kaum muda Muslim perkotaan saat ini. “Kegiatan ini sebagai wadah mempertemukan seseorang maupun komunitas dalam rangka saling menguatkan satu sama lain dalam Ukhuwah Islamiyah. Dan di harapkan melalui acara ini juga nantinya bisa meningkatkan perekonomian masyarakat”, kata Ari Kuncoro Untung selaku ketua panitia hijrah fest 2018.
Festival hijrah 2018 lalu, yang diadakan pada tanggal 9-11-2018 di Hall A. Jakarta Convention Center senayan, Jakarta ini dihadiri oleh lebih dari 2 pengusaha muslim dengan menampilkan 10 merek produk, seminar serta jumpa penggemar hijrah. Selain itu juga terdapat jasa penghapus tato, dan pelatihan membuat fidio, juga terdapat makan dan pakaian muslim. Pengajian yang dikemas dengan menciptakan histeria masa bersaing dengan konser musik, area gedung yang elit.
Menurut Fachry Ali pengamat sosial agama “Masa depan Indonesia ternyata terletak pada Islam, nah fenomena hijrah fest itu membuktikan bahwa Islam yang sebenarnya menjadi tulang punggung persatuan bangsa yang disebut Indonesia raya itu”. Fachry Ali juga mengatakan bahwa ini salah satu pembuktian bila tanpa Islam maka akan hadir hanyalah negara yang bersifat wangsa (keluarga) dan kedaerahan .
Disisi lain Fachry lebih lanjut mengatakan “Munculnya hijrah fest ini seharusnya dapat menjadi ajang auto kritik terhadap peran ulama dan tokoh keagamaan masa kini karena mereka yang larut dalam politik dan yang mengabaikan ekspresi umat yang sudah tak lagi menjadi sandaran batin generasi milenial. Mereka harus sadar dan ingat bahwa generasi sekarang ini punya pemahaman dan logika sendiri yang tak bisa lagi sepenuhnya didoktrin ataupun di dekte oleh pihak lain”.
Di dalam sosiologi, agama tidak hanya untuk sebagai sesuatu yang abstrak bersifat doktrin ideologis, akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari juga muncul dalam bentuk material. Bahkan identitas ke agamaan saat ini lebih mudah di materialisasikan melaluli akal (berfikir), bertindak, dan berprilaku. Agama dalam rana ini di pandang sebagai dari kebudayaan, dengan kata lain “Praktik Keagamaan” ketika agama dalam rana ini bukan hanya tentang “Doktrin Keagamaan” tapi dalam perspektif ini Agama merupakan cara bagaimana seseorang menjalankan keagamaannya.
Loouis Althusser berpendapat bahwa ideologi dapat dimaterialisasi dalam bentuk yang kongkrit dan tertentu. Seperti halnya jilbab, baju koko, sarung dan kegiatan pengajian merupakan salah satu bentuk materi dari ideologi Islam itu sendiri yang dapat di materialisasikan dalam bentuk kultural, secara tidak langsung cara seseorang beragama menjadi sesuatu yang bersifat kultural. Seperti halnya komodifikasi yang telah mengubah simbol dan arti dari keagamaannya menjadi barang dan benda ekonomi dari keinginan religius di pasar agama. Komodifikasi agama telah beroperasi di pasar dengan cepat memanifestasikan dirinya dalam pertumbuhan “Ekonomi Simbolik”.
Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya