Hidup Susah? Tenang, Allah Selalu Bersama Kita!

sumber: liputan6.com

الحَمْدُ للهِ، نَحْمَدُكَ اللهُمَّ عَلَي مَا قَدْ أَنعَمْتَنَا بِدِيْنِكَ القَوٍيمِ وَهَدَيتَنَا بِصَراطِكَ المُستَقِيمِ، نُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ المُصْطَفَي وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالوَفَا. أَمَّا بَعْدُ. يَا أَيُّهَا المُسْلِمِينَ أُصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الكَرِيِمِ: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ ١٨٦

Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah,

Mari kita bersyukur kepada Allah Swt., berkat limpahan rahmat dan limpahan hidayah-Nya kita bisa melaksanakan salat Jumat dengan kesehatan.

Tentu tanpa rahmat-Nya kita tidak akan bisa berkumpul di tempat ini. Coba bayangkan saja, kalau kita diberi sakit akankah kita bisa datang ke sini? Tentu tidak bisa, bukan? Maka kedatangan kita di sini berkat pertolongan Allah, Allah menghendaki kebaikan meliputi kita.

Jemaah rahimakumullah,

Kalau ada pertanyaan, kira-kira kita hidup di dunia ini banyak susahnya atau banyak bahagianya? Tentu, jawabannya bakal bervariasi, ya!

Andai kita pandai bersyukur, mungkin hari-hari di dunia akan terasa menyenangkan, bukan?

Tetapi andai saja kita sedang susah, sedih, entah itu disebabkan banyak masalah, atau karena banyak hutang—misalnya, atau karena apapun itu. Kelihatannya Allah sedang rindu—dengan rajukan—kita.

Allah itu selalu bersama kita! Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 186.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ ١٨٦

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”

Maka tidak ada alasan bahwa kita bingung mencari sandaran, mencari teman curhat, mencari tempat bercerita.

Kalau kita punya pasangan, orang tua, atau teman yang selalu mendengarkan cerita kita, cuma, ingat! Mereka hanya manusia yang sama seperti kita—memiliki keterbatasan juga. Sedangkan Allah? Dia lah Zat Maha Perkasa nan Maha Berkuasa tanpa ada batasan!

“Wah, dosa saya banyak sekali. Paling-paling doa saya tidak akan dikabulkan!” Kalau kita berperasangka demikian, ya, yang bakal terjadi demikian. Ungkapan itu seakan-akan meremehkan kuasanya Allah.

Cuma pengabulan doa-doa kita apakah akan langsung seketika atau masih ditangguhkan waktunya? Ya, tergantung, adakalanya langsung adakalanya menunggu waktu yang tepat.

Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah,

Ibarat anak kecil yang sedang meminta pisau ke ibunya, akankah sang ibu bakal meminjami pisau itu saat ia masih kecil? Tentu tidak, bukan! Sang ibu akan meminjami pisau saat ia sudah besar, mengerti apa kegunaan, dan bisa menggunakan pisau tersebut dengan baik.

Dawuh Allah Swt. dalam hadis qudsi-Nya

أَنَا عِندَ ظَنِّ عَبْدِي بِيْ

Apa artinya?

Masyallah …, kalau kita sadar betul dan memahami ini, kelihatannya kita bakal malu atas prasangka (buruk) kita kepada ketetapan-Nya Allah.

“Aku (Allah) tergantung pada prasangkan hambaku.”

Prasangka kita kepada Allah Swt. sangat menentukan apa yang dikehendaki-Nya dalam setiap ketetapan-Nya. Ini lah pentingnya optimistis dan berprasangka baik kepada Allah Swt.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Redaksi lengkap hadis qudsi di atas, berikut lengkapnya.

أَنَا عِندَ ظَنِّ عَبْدِي بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي، فَاِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَاِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأٍ  خَيرٌ مِنْهُ، وَاِنْ اقْتَرَبَ اِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ اِلَيهِ ذِرَاعًا، وَاِنْ اِقْتَرَبَ اِلَيَّ ذِرَاعًا اِقْتَرَبْتُ اِلَيهِ بَاعًا وَاِنْ أَتَانِي يِمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Aku (Allah) tergantung prasangka hambaku padaKu. Aku selalu bersamanya saat ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku pada dirinya Aku pun mengingatnya, kalau ia mengingat-Ku dalam keramaian Aku pun mengingatnya bahkan lebih baik dari padanya. Andai ia mendekat kepadaku sejengkal Aku lebih dekat sehasta, andai ia mendekatiKu sehasta Aku pun merangkulnya, andai ia mendekati-Ku dengan berjalan Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (Mutawalli Asy-Sya’rawi, Sharah al-Hadaist al-Qudsiyah, 12)

 Selagi kita masih menghadirkan Allah dalam kebahagiaan atau kesedihan, Allah  bakal selalu hadir untuk kita.

Pertanyaannya adalah sudahkah kita menghadirkan Allah dalam setiap urusan kita?

Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah,

Mengingat-Nya adalah kunci kebahagiaan.

Selagi kita menjalankan syariat-Nya dengan baik, menjalankan salat lima waktu dengan tertib. Sudah, tidak ada kesedihan dan kesusahan yang berarti bagi kita.

Bagaimana demikian? Lah wong, kita sudah punya lima waktu khusus untuk selalu mengingat dan terhubung dengan Allah. Kenapa merasa susah?

Ma’syiral muslimin rahimakumullah,

Khatib izin mengutip percakapan menarik antara Nabi Ibrahim a.s dan malaikat saat mau dibakar oleh Namrud sebagai hukuman.

Kala itu Nabi Ibrahim a.s. harus menerima hukuman, beliau diikat di atas perapian dan dibakar. Meski demikian, api tidak dapat membakar Nabi Ibrahim a.s. sedikit pun, malah yang terbakar adalah tali ikatannya.

Saat seekor burung melewati pembakaran Nabi Ibrahim, burung itu pun langsung terbakar.

Durasi lama Ibrahim a.s. dibakar ada banyak pendapat. Ada yang berpendapat selama tuju hari, ada yang berpendapat sembilan hari, ada yang berpendapat empat puluh hari.

Bukan malah terbakar, Ibrahim a.s. malah merasakan api itu seperti air tawar nan dingin. Wajar kalau beliau tidak terbakar.

Kala sebelum perapian dibakar oleh para eksekutor, malaikat (penjaga) air datang untuk menawarkan bantuan kepada Nabi Ibrahim a.s.

“Kalau pun engkau berkenan wahai Ibrahim, akan aku padamkan api itu.”

Begitu pun malaikat (penjaga) angin datang juga untuk menawarkan bantuan.

“Kalau pun engkau berkenan, akan aku kerahkan angin agar padamkan api!”

Coba bayangkan, apa jawaban dari Nabi Ibrahim a.s. atas tawaran bantuan itu. Dengan halus Nabi Ibrahim menolak tawaran bantuan dari dua malaikat tersebut.

!أَمَّا عَلَيْكُمَا، فَلَا

“Saya tidak butuh bantuan itu dari kalian”

Setelah menolak tawaran kedua malaikat itu, malaikat Jibril turun untuk memastikan (bantuan) apa yang dibutuhkan, sesaat sebelum Ibrahim masuk ke tempat perapian.

“Adakah yang engkau butuhkan, sampaikan kepadaku?”

“Kalau kepadamu (Jibril), tentu aku tidak butuh (bantuan).”

“Kalau begitu, minta lah kepada Allah!”

Nabi Ibrahim a.s. dengan tetap tenang dan penuh keyakinan kepada Allah, sambil senyum merekah beliau menjawab,

حَسبِي مِنْ سُؤَالِي عِلْمُهُ بِحَالِي

“Permintaanku sudah cukup, Allah lebih mengetahui ihwal (kebutuhan atas) diriku.” (Nawawi al-Bantani, Fathul Majid, 23)

Dengan kuasa-Nya Allah, Nabi Ibrahim terselamatkan dari hukuman pembakaran berkat keyakinan dan prasangka baik kepada Allah. Indah, bukan?

Semoga khutbah ini bermanfaat kepada khatib dan jemaah hadirin semuanya.

أَقُوْلُ قوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتغْفِرُ اللهَ ُ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعدُ.

فَيا أَيُّها الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفسِيْ بِتقْوَى اللهِ  الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغيَ وَالسُّيوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ  يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

0

Alumni Ponpes Mambaus Sholihin, Gresik.

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.