



Dalam kalender Hijriyah, bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan mulia yang mana pada bulan tersebut Allah memeritahkan umat Islam untuk menjalankan ibadah kurban. Ibadah tersebut diperintahkan melalui peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim as. dan putranya, Ismail as.
Suatu ketika, saat Nabi Ibrahim tidur, ia bermimpi menyembelih anaknya anaknya sendiri, yaitu Ismail. Setelah bangun dari tidurnya, ia merenungi mimpinya tadi, apakah mimpi itu berasal dari Allah atau dari setan. Karena masih ragu, akhirnya ia tak mempedulikannya lagi.
Besoknya, saat ia tidur, mimpi itu datang lagi; sama persis seperti mimpi yang kemarin. Ia menyembelih Ismail. Setelah bangun dari tidurnya, ia pun merenungi kembali mimpinya karena sudah dua kali ia bermimpi tentang kejadian yang sama.
Dalam hatinya, Nabi Ibrahim masih menyimpan sedikit keraguan dalam dirinya, jika itu adalah perintah Allah, lalu mengapa Ia menjadikan anaknya sesbagai objek penyembelihan. Namun, saat ia tidur dikeesokan harinya, mimpi itu ternyata datang lagi, persis sama seperti mimpi-mimpi sebelumnya.
Akhirnya, Ibrahim as. lalu meyakinkan dirinya bahwa memang itu adalah perintah dari Allah. Ia lalu memberi tahu Ismail tentang mimpi selama tiga hari berturut turut. Ismail pun saat mendengar cerita dari ayahnya, bukannya takut, khawatir, atau cemas, justru malah meyakinkan ayahnya untuk melaksanakan perintah itu. Sebagaiamana termaktub dalam Al Qur’an surah As Saffat ayat 102.
Singkat cerita, mereka bersepakat untuk menjalankan perintah Allah tersebut. Ketika proses penyembelihan akan dilakukan, saat pisau sudah menempel di leher Ismail, Allah lalu mengganti tubuh Ismail dengan seekor domba sebagaimana disebutkan dalam QS. As Saffat ayat 104-108.
Dari peristiwa tersebut, setidaknya kita dapat mengambil beberapa hikmah dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim.
Pertama, melatih diri agar menjadi pribadi yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Perintah berkurban ada dalam Al Qur’an surat Al kautsar ayat 2, dan juga surat Al Hajj ayat 34-36. Itu adalah ayat yang memerintahkan umat Islam untuk berqurban, selagi mampu.
Kedua, melatih diri agar bersyukur dan memiliki sikap dermawan. Kurban adalah bentuk rasa syukur manusia kepada Allah. Seorang yang berkurban dilatih untuk menjadi seorang dermawan karena ia hanya diperbolehkan untuk mendapatkan sepertiga bagian dari hewan yang dikurbankan.
Ketiga, menumbuhkan cinta sesama manusia. Karena orang yang berkurban hanya boleh mendapatkan sepertiga daging hewan kurban, sedangkan jatah yang lebih banyak diberikan kepada orang lain, hal ini tentunya melatih kita untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap sesama manusia.
Keempat, menurunkan atau bahkan menghilangkan ego pribadi seperti sombong, tinggi hati, dan ujub. Dalam ibadah kurban ini, hakikatnya yang disembelih bukan hanya sebatas hewan saja. Lebh dari itu, ibadah juga mengajarkan kita untuk ‘menyembelih’ sikap merasa diri lebih mulia, merasa derajatnya lebih tinggi, merasa lebih terhormat dari orang lain.
Ismail diuji oleh Allah apakah ia merasa lebih terhormat karena ayahnya seorang Nabi, apakah ia merasa lebih mulia, apakah ia merasa lebih tinggi derajatnya dari orang lain. Namun itu semua tak berlaku bagi Ismail. Ia justru ia dengan penuh keteguhan hati menerima untuk disembelih jika memang itu perintah Allah. Melalui ibadah kurban, Allah menuntun manusia untuk tidak terjerumus dalam penyakit hati yakni, merasa lebih terhormat dan mulia, lebih tinggi derajatnya. Yang membedakan manusia hanyalah tingkat ketakwaannya pada Allah. Maka mari kita selalu meningkatkan takwa kepada Allah dimanapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun.
Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya