



Salat sebagai salah satu kewajiban yang mesti dilaksanakan muslim perlu dibaca kembali dengan perspektif baru. Berakar pada gerakan tubuh yang tepat dan waktu yang terstruktur, salat ialah koreografi ritmis yang dilakukan lima kali sehari, menyelaraskan tubuh dengan ritme perintah Tuhan.
Namun, bagaimana jika kita menilik praktik ini bukan hanya dengan lensa disiplin spiritual atau kewajiban teologis, tetapi sebagai kumpulan materi, afek, dan relasionalitas? Menggunakan sudut pandang materialisme baru (new materialism)—permenungan filosofis yang menantang antroposentrisme dan mempertimbangkan kembali agensi materi—salat dapat dimaknai ulang sebagai ritual performatif di mana manusia, nonmanusia, dan yang ilahi saling membentuk satu sama lain dalam momen dinamis yang terus berkembang.
Materialisme baru mengganggu dualisme klasik, seperti pikiran/tubuh, subjek/objek, roh/materi, dengan mengusulkan gagasan bahwa materi tidaklah pasif, melainkan diresapi dengan vitalitas dan agensi. Pemikir seperti Jane Bennett dan Karen Barad berpendapat bahwa pengalaman manusia terjahit dalam jaringan kekuatan, materi, dan pengaruh yang bersama-sama menghasilkan apa yang kita sebut diri, yang sakral, atau yang nyata.
Dalam kerangka yang demikian, salat tidak lagi sekadar penyerahan diri orang beriman kepada Sang Pencipta belaka, tetapi juga merupakan praktik material-diskursif di mana tubuh, lantai, udara, gelombang suara, pakaian, dan orientasi spasial menjadi peserta aktif dalam signifikansi ibadah itu sendiri.
Ambil contoh gerakan sujud. Tubuh terlipat ke dalam dirinya sendiri, dahi menempel ke tanah. Dari perspektif teologis, ini menandakan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Namun, dari sudut pandang materialisme baru, ini bukan sekadar simbolis, melainkan merupakan pengetahuan jasmani.
Dalam keadaan itu, tanah tidaklah pasif; ia menerima beban manusia, dan dalam kontak intim itu, sebuah hubungan terwujud. Sujud menjadi tempat di mana manusia dan bumi—debu, gravitasi, suhu, lantai—berinteraksi, membentuk mikrokosmos hubungan ekologis. Salat dalam pengertian ini bukan hanya tindakan penyerahan diri, tetapi juga tindakan keterikatan dengan bumi atau kosmos secara keseluruhan.
Lebih lanjut, kita mesti merenungkan kembali peran sajadah yang kita hamparkan, yang sering diabaikan dalam diskusi teologis padahal sangat penting dalam praktik salat kita sehari-hari. Sajadah adalah ambang pintu yang lembut, yang membatasi ruang sakral. Teksturnya membentuk pengalaman sentuhan jari-jari kaki, lutut, tangan, dan dahi.
Kita tahu bahwa pola atau motif sajadah sering kali berbentuk bunga atau geometris, yang menggemakan arsitektur yang tak terlihat. Dari perspektif materialisme baru, sajadah tidaklah lembam, melainkan ia adalah peserta dalam salat, yang mengundang keheningan, membumikan tubuh, dan menyalurkan memori melalui kainnya. Sajadah menyimpan sejarah, membawa keausan, menyerap aroma. Ia menjadi perantara antara tubuh dan bumi, membentuk selaput kekhidmatan.
Waktu juga memperoleh dimensi baru dalam pembacaan ini. Lima kali salat wajib membagi rentang hari menjadi beberapa interval penanda sakral: subuh, zuhur, asar, magrib, dan isya. Setiap salat tidak terikat pada jam, tetapi pada transisi surgawi: fajar, siang, sore, matahari terbenam, dan malam.
Kesemua itu mendemonstrasikan salat dalam materialitas kosmik, sebuah praktik yang selaras dengan ritme planet. Matahari menjadi kompas temporal, dan dengan demikian, agen yang menginformasikan perilaku manusia. Melalui salat, tubuh tidak hanya berorientasi pada dimensi spiritual, tetapi juga tersinkronisasi secara ekologis. Ini menolak homogenisasi waktu kapitalis, memperkenalkan kembali relasionalitas planet sebagai inti kehidupan sehari-hari.
Selain itu, suara memainkan peran sentral. Azan menandai ruang publik dengan seruan sonik. Suara muazin bergema melalui udara, dinding, dan tubuh. Getaran ini bukan sekadar pembawa makna, tetapi juga merupakan kekuatan afektif: menyentuh, memantik, menggerakkan, menarik.
Seperti yang dikemukakan Barad, suara tidak dapat dipisahkan dari materi; suara merupakan pola difraksi gaya yang bergerak. Azan mengumpulkan masyarakat bukan hanya melalui perintah, tetapi juga melalui resonansi. Azan bergema melalui jalan-jalan, masjid, paru-paru, dan kulit, menciptakan jaringan kewaspadaan spiritual yang terasa.
Lebih jauh, salat mewujudkan intra-aksi, istilah yang dicetuskan oleh Barad untuk menggambarkan bagaimana entitas hadir tidak mendahului hubungan mereka melainkan justru muncul melalui hubungan tersebut. Diri yang salat bukanlah subjek tetap yang mengekspresikan kesalehan, melainkan subjek yang sedang berkembang yang terbentuk melalui tindakan berulang dengan materi: air wudu, arah kiblat, bacaan, postur tubuh (rukuk, sujud).
Dengan demikian, setiap salat merupakan kinerja material yang menyeruakkan iman seseorang, tidak dapat direduksi menjadi segumpal doktrin mati, melainkan dihayati melalui ingatan otot yang bergerak dan seluruh jaringan interaksi lingkungan yang ada.
Pembingkaian ulang ini menantang biner sekuler dan religius. Salat bukan sekadar ranah batin seperti niat yang bertentangan dengan ritual eksterior. Sebaliknya, salat adalah peristiwa intra-aktif di mana interioritas dan eksterioritas melebur. Jiwa tidak hanya “menggunakan” tubuh, melainkan ia juga terbentuk bersamaan dengan tubuh. Artinya, yang sakral tidak “melampaui” materi, tetapi justru muncul melaluinya.
Dalam konteks ini, salat adalah ajakan radikal untuk memikirkan kembali hubungan kita dengan materialitas. Salat menjadi koreografi kebertubuhan jiwa sehari-hari bersama dengan vitalitas entitas-entitas lain, mengingatkan kita bahwa spiritualitas bukanlah pelarian dari materialitas, melainkan lebih tepatnya pendalaman terhadapnya.
Melalui lensa materialisme baru, salat tidak menjadi ritual ibadah belaka, tetapi jaringan ekologi kehadiran, yakni konvergensi bumi, tubuh, suara, dan perintah ilahi yang melaluinya manusia diingatkan bahwa mereka tidak terpisah dari materialitas, tetapi selalu terjerat di dalam dan bersamanya.
Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com