“Hustle Culture” versus Tawakal: Harus Produktif atau Pasrah?

Di era tenggat waktu yang seolah-olah terus membayangi, banyak anak muda hidup dengan ketakutan yang terpendam. Jika ia melambat, ia akan tertinggal. Internet penuh dengan suara-suara yang mendesak kita untuk “bekerja lebih keras”, “tidur lebih larut”, dan “jangan pernah berhenti mengejar”.

Produktivitas di sini menjadi ukuran moral, dan istirahat tampak menjadi kesenangan yang bersalah. Inilah logika hustle culture (budaya kerja keras), suatu ritme kehidupan yang memperlakukan manusia sebagai mesin yang ditenagai oleh kafein, kecemasan, dan motivasi diri berlebih.

Dalam kebijaksanaan Islam, khususnya tradisi spiritual tasawuf, terdapat orientasi hidup yang sangat berbeda dari hustle culture. Namun, ini tidak meromantisasi kemalasan, tetapi juga tidak mengagungkan kelelahan. Sebaliknya, ia menawarkan jalan tengah, sebuah pendekatan yang menyatukan usaha dan penyerahan diri, gerak dan diam, ambisi dan kepercayaan. Inilah konsep tawakal, yaitu ikhtiar yang tenang dalam melakukan yang terbaik sambil menyadari bahwa dunia tidak hanya berputar di sekitar kemauan pribadi.

Untuk memahami ketegangan antara budaya kerja keras dan tawakal, bayangkan sesuatu yang sederhana, seperti menanam benih misalnya. Budaya kerja keras akan mengajarkan kita untuk memantau tanah setiap menit, mencabut daun agar tumbuh lebih cepat, dan menghitung produktivitas hingga skala milimeter.

Jika tanaman membutuhkan waktu terlalu lama, mungkin kita harus mengganti tanahnya, atau membandingkan pertumbuhannya dengan tanaman di kebun orang lain. Sebaliknya, para guru sufi mengingatkan kita bahwa menanam adalah sebuah kemitraan dalam penciptaan, manusia yang menggali dan menyiram, tetapi kehidupan itu sendiri muncul melampaui upaya manusia. Tugas manusia adalah upaya yang sungguh-sungguh, sementara sisanya adalah misteri.

Ini bukan kepasifan. Bahkan, para sufi sering kali bekerja lebih keras daripada siapa pun. Mereka adalah petani, pedagang, guru, pengelana, penenun, dan pengasuh. Namun, mereka bekerja dengan semacam kelapangan batin. Bagi mereka, usaha adalah ungkapan cinta, bukan upaya putus asa untuk membuktikan nilai.

Yang melelahkan kita bukanlah pekerjaan itu sendiri, melainkan pencapaian kesuksesan yang terus-menerus, rasa takut akan ketidakmampuan, dan perbandingan yang menggerogoti rasa diri kita. Budaya kerja keras tumbuh subur dalam rasa tidak aman. Dalam konteks ini, tawakal dapat melarutkannya.

Nabi Muhammad pernah bersabda, “Ikat untamu, lalu bertawakal kepada Allah.” Banyak anak muda muslim mengutip ini, tetapi maknanya sering diabaikan. Mengikat unta adalah bagian yang dipahami hustle culture: bertindak, merencanakan ke depan, mempersiapkan diri dengan baik.

Akan tetapi, percaya kepada Allah adalah yang kita lupakan, mengakui bahwa hasil tidak sepenuhnya berada di bawah kendali kita. Di balik setiap keberhasilan atau kegagalan, terdapat hikmah ilahi, bukan sekadar lembar kerja, alarm, atau rutinitas optimasi diri kita.

Hustle culture mengubah hidup menjadi medan perang di mana setiap momen harus ditaklukkan. Tawakal mengubah hidup menjadi sebuah perjalanan di mana setiap langkah bermakna, terlepas dari di mana nantinya usaha berakhir. Dalam hustle cultre, seseorang akan rentan selalu merasa tertinggal, sedangkan dalam tawakal, seseorang dapat berada tepat di tempat yang ia tengah butuhkan.

Seperti apa hal ini dalam kehidupan nyata? Bayangkan seorang profesional muda yang bekerja larut malam bukan karena ia mencintai pekerjaannya, tetapi karena ia takut terlihat kurang berdedikasi dibandingkan rekan-rekannya. Atau pelajar yang mengisi setiap jamnya dengan kegiatan agar tidak merasa kurang berhasil.

Atau wirausahawan yang kelelahan karena berusaha memenuhi ekspektasi mustahil yang ditetapkan oleh kisah sukses media sosial. Budaya terburu-buru (hustle) menuntut kita mengorbankan kehadiran demi kemajuan, keberadaan demi menjadi.

Pendekatan sufistik mengajak mereka untuk berhenti sejenak, bukan untuk berhenti atau mundur, melainkan untuk mengubah orientasi. Pendekatan ini akan bertanya: Mengapa Anda bekerja? Siapa yang ingin Anda buat terkesan? Apa yang terjadi jika Anda beristirahat? Bagaimana jika kesuksesan tidak diukur dari kecepatan melainkan dari ketulusan?

Dalam ajaran sufi, jiwa tidak dimaksudkan untuk diregangkan seperti karet gelang hingga putus. Ia membutuhkan napas, keheningan, dan ruang. Banyak penyair sufi menandaskan bahwa ketergesa-gesaan membutakan kita terhadap inti segala sesuatu.

Jalaluddin Rumi sering menggunakan metafora menunggu, mendengarkan, dan memercayai yang tak terlihat. Ibn Ataillah mengingatkan para pencari bahwa tak satu pun yang dipaksakan oleh ego akan membawa kedamaian sejati. Al-Ghazali memperingatkan mengenai ilusi bahwa nilai seseorang terikat pada pencapaiannya. Pesan mereka sederhana: gerak yang panik tidak sama dengan hidup yang bertujuan dan bermakna.

Ini bukan berarti ambisi tidaklah islami. Justru sebaliknya. Islam mendorong keunggulan, keterampilan, dan berjuang untuk kebaikan. Namun, keunggulan menjadi racun ketika terlepas dari kerendahan hati.

Interpretasi sufistik tentang tawakal mengajarkan bahwa ambisi seharusnya memperluas jiwa, bukan mempersempitnya; ambisi seharusnya menghubungkan kita dengan orang lain, bukan mengisolasi masing-masing kita dalam persaingan. Artinya, ambisi seharusnya memberi kita energi, bukan malah menguras tenaga kita.

Maka dari itu, pertanyaan sebenarnya bukanlah apakah seseorang harus amat produktif atau pasrah. Pertanyaannya adalah hubungan seperti apa yang ingin ia miliki dengan usahanya sendiri.

Budaya kerja keras memerintahkan seseorang untuk mengendalikan segalanya, sementara tawakal justru mengajarkan untuk melepaskan ilusi kendali. Budaya kerja keras membingkai istirahat sebagai kelemahan, sedangkan tawakal membingkai istirahat sebagai pengakuan atas kemanusiaan diri.

Mungkin hal yang paling membebaskan dari semua ini adalah bahwa kita tidak perlu berjuang keras kelelahan untuk menegaskan keberadaan kita di bumi. Kita perlu berikhtiar dan bertawakal pada saat yang bersamaan. Kita dapat tekun tanpa panik dan boleh memperlambat langkah tanpa menyerah. Kita seyogianya mengikat unta kita, lalu membiarkan pikiran kita bernapas lega.

0

Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.