Khutbah Jumat: Menata Niat sebagai Pondasi Amal

Ilustrasi suasana refleksi menjelang Ramadan

Khutbah Jumat ini membahas pentingnya menata niat sebagai pondasi amal terutama menjelang Ramadan. Disampaikan di bulan Syakban, khotbah ini menegaskan bahwa niat menentukan nilai ibadah dan seluruh aktivitas di sisi Allah SWT.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّهِ، نَحْمَدُكَ اللَّهُمَّ عَلَى مَا هَدَيْتَنَا لِطَرِيْقِكَ القَوِيمِ وَفَقَّهْتَنَا فِي دِيْنِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، نُصَلِّى وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ المـصْطَفَى، وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالوَفَاء. أَمَّا بَعْدُ، يَا أَيُّهَا المُسْلِمِينَ أُصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الـمُـتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الكَرِيِمِ:  وَمَنۡ أَرَادَ ٱلۡـَٔاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعۡیَهَا وَهُوَ مُؤۡمِنࣱ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ كَانَ سَعۡیُهُم مَّشۡكُورࣰا

Jemaah salat Jumat rahimakumullah,

Sebentar lagi, kita akan menyambut kedatangan Bulan Ramadan. Di akhir bulan Syakban yang penuh barakah ini, Khotib mengajak diri sendiri dan hadirin untuk menata hati dan niat dalam menjalankan segala aktivitas dan ibadah. Mengapa demikian? Karena, segala aktivitas kita bisa bernilai ibadah selagi kita niatkan dalam ketaatan kepada Allah Swt.

Salah satu hadis sahih yang masyhur. Diceritakan oleh Amirulmukminin Umar bin Khattab bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda,

اِنَّمَا الاَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ، واِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ اِلَى الله وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ اِلَى الله وَرَسُولِه، وَمَن كَانَت هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا اَو امْرَاَةٍ يَنْكِحُها فَهِجْرَتُهُ اِلَى مَا هَجَرَ اِلَيهِ

“Sungguh amal itu tergantung niatnya, setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang berniat hijrah karena Allah dan rasul-Nya ia akan dapat rida Allah dan rasul-Nya, barangsiapa yang (niat) hijrahnya untuk dapakan dunia atau wanita untuk dinikahi ia pun mendapatkan apa yang ia niatkan.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Niat bukan hal yang bisa kita anggap remeh, niat bisa menjadikan ibadah kita sah atau tidak dalam urusan ibadah wajib. Dalam urusan perkara mubah, niat bisa membuat perkara mubah itu bernilai (pahala) di sisi Allah.

Aktivitas-aktivitas sehari-hari kita bisa bernilai pahala tergantung niat kita dalam menjalaninya. Disebutkan dalam Al-Jawahir al-Lukluiah bahwa selagi kita niatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, segala aktivitas kita bisa bernilai pahala.

Muhammad bin Abdullah al-Jardani menyebutkan beberapa contoh kongkret. Misalnya, kita makan dan minum dengan niatan agar kuat beribadah, kita tidur dengan niatan agar salat subuh tidak kesiangan, atau nafkah kita kepada keluarga dengan niatan jalankan perintah syariat, maka semuanya bisa bernilai pahala di sisi Allah.

Sayang bukan, kalau rutinitas sehari-hari tidak kita niatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah?

Jemaah salat Jumat rahimakumullah,

Disebutkan dalam sebuah cerita, ada dua saudara, sang kakak merupakan pemuda ahli ibadah yang tinggal di atas bukit, sedangkan sang adik adalah ahli maksiat yang tinggal di lereng bukit. Suatu ketika iblis datang ke sang kakak sembari bekata, “Apa kamu tidak bosan sama dirimu sendiri, ibadah saja! Umurmu kau sia-siakan untuk ibadah saja tanpa pernah menuruti syahwatmu!”

Si kakak ternyata tergiur dengan godaan iblis, sehingga ia bekata dalam hati, “Kelihatannya, saya perlu turun ke bawah, menjemput adik untuk ikut menikmati kemaksiatan, setelah itu aku bakal taubat.”

Masyallah, hadirin,

Sang adik yang ahli maksiat tadi, di saat yang bersamaan ia tersadar dari mabuknya. Sesaat ia mengamati dirinya yang penuh kotoran lumpur, ia sadar bahwa ia terlalu lama tercebur di kubang lumpur kemaksiatan. Kemudian sang adik bergumam dalam hatinya, “Aku telah sia-siakan umurku untuk kemaksiatan, sedangkan kakak menikmati ketaatannya bersama tuhan-Nya!”

Seketika, sang adik pun segera bertaubat dan berniat untuk lakukan ketaatan atau kebaikan. Sang adik pun bersegera berangkat menuju bukit berniat ibadah, di waktu yang sama si kakak juga turun ingin menjemput sang adik dengan niat bermaksiat. Ketentuan Allah pun tiba, keduanya meninggal di pertengahan jalan.

Hadirin rahimakumullah,

Bagaimana nasib keduanya di sisi Allah Swt.? Si kakak ahli ibadah yang berniat bermaksiat digolongkan pada kemaksiatan yang ia niatkan. Adapun sang adik ahli maksiat digolongkan dalam ketaatan berkat niatnya. Sederhana, tapi bisa fatal, bukan?

Niat bukan hal yang sederhana, niat menjadi pondasi amal perbuatan kita. Dalam salah satu hadis dhaif, Nabi bersabda,

نِيَّتُ المُؤْمِنِ أَبْلَغُ مِنْ عَمَلِهِ وَنِيَّتُ الفَاجِرِ شَرٌّ مِنْ عَمَلِهِ

Niatnya seorang mukmin lebih sampai dari pada amalnya, sedangkan niatnya orang jahat itu lebih buruk dari pada amalnya.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Khotbah singkat ini semoga bermanfaat bagi diri khotib, khususnya, dan hadirin, setidaknya dengan ini, semoga Allah menolong kita agar menjaga niat dan harapan yang baik. Nantinya, itu menjadi bekal di akhirat kelak.

أَقُوْلُ قوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتغْفِرُ اللهَ ُ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعدُ.

فَيا أَيُّها الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفسِيْ بِتقْوَى اللهِ  الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغيَ وَالسُّيوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

0

Alumni Ponpes Mambaus Sholihin, Gresik.

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.