



Khutbah Jumat ini mengajak kita merenungkan makna iman yang sejati, iman yang kokoh dan istiqamah dalam menjaga tauhid. Melalui kisah Siti Masitah yang ditampakkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. saat Isra Mikraj, kita belajar bahwa iman yang benar akan tetap mulia meski diuji dengan ancaman dan pengorbanan.
اَلْحَمْدُ لِلّهِ، نَحْمَدُكَ اللَّهُمَّ عَلَى مَا هَدَيْتَنَا لِطَرِيْقِكَ القَوِيمِ وَفَقَّهْتَنَا فِي دِيْنِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، نُصَلِّى وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ المـصْطَفَى، وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَ الوَفَاء. أَمَّا بَعْدُ، يَا أَيُّهَا المُسْلِمِينَ أُصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الـمُـتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الكَرِيِمِ: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا ١٣٦
Jemaah salat Jumat rahimakumullah,
Seminggu lalu kita sudah merayakan Isra Mikraj Baginda Nabi Muhammad saw. Tentu, banyak pelajaran dan hikmah yang bisa diambil dari peristiwa tersebut. Kali ini, khatib mengajak hadirin belajar bersama satu kisah yang masih ada kaitannya dengan Mikrajnya Nabi Muhammad saw.
Kala Nabi Mikraj, nabi dipertemukan oleh Allah Swt. dengan beberapa kelompok, pertama Nabi Muhammad dipertemukan orang-orang yang bercocok tanam sekaligus memanen di hari yang sama. Kelompok ini menurut Jibril adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah.
Kedua, Nabi mendapati bau yang sangat harum. Dan ini yang insyaallah kita telaah ulang pada kesempatan ini.
Hadirin rahimakumullah,
Jibril seketika itu ditanya oleh Baginda Nabi Muhammad saw. “Bau apa ini, wahai Jibril?” Jibril pun menjawab, “Bau harum ini berasal dari Siti Masitah, sang pelayan putri Fir’aun, serta anak-anaknya.”
Jemaah salat Jumat rahimakumullah,
Cerita Siti Masitah ini menarik kita telaah, mengapa bau harumnya sampai ditampakkan oleh Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saat Mikraj? Pasti ada pelajaran yang perlu kita teladani dari Siti Masitah. Mungkin cerita Siti Masitah sering kita dengar, tetapi tentu saja tidak ada salahnya untuk ditelaah ulang kembali.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Menurut riwayat dalam kitab Dardir Mikraj disebutkan, Masitah merupakan tukang sisir putri Fir’aun, sebagai pelayan keluarga Fir’aun Masitah menyimpan keimanannya kepada Allah Swt., meski si tuan mengaku-ngaku sebagai tuhan kala itu.
Suatu ketika, saat Siti Masitah menyisir rambut sang tuan putri. Tiba-tiba sisir yang digunakannya jatuh, keimanan yang ia simpan sejak lama terbongkar, seraya Masitah menyumpahi sang tuan, Fir’aun.
بِسْمِ اللهِ تَعِسَ فِرْعَوْنَ
“Bismillah, semoga Allah melaknat Fir’aun!”
Saat putri Fir’aun mendengar sumpah serapah itu, sang putri menghardik dengan nada mengancam,
اَوْ لَكِ رَبٌّ غَيرُ اَبِي؟
“Apakah engkau memiliki tuhan selain ayahku!”
Keyakinan Masitah sangat kuat, jawaban tanpa ragu pun diberikan kepada putri Fir’aun tersebut. “نَعَمْ!”, “Iya” Putri Fir’aun pun berikan ultimatum kepada Masitah.
اَفَاُخْبِرُ بِذَالِكَ اَبِي!
“Akan aku kabarkan ke ayahku, loh!“
Ancaman itu tidak menggoyahkan keimanannya, perasaan takut yang ditebarkan oleh putri Fir’aun tidak serta merta meluluhkan kokohnya iman Masitah. Meski nyawanya terancam sekalipun, Masitah masih menjawab dengan jawaban yang sama, “نَعَمْ”, “Iya, silakan saja!”.
Jemaah rahimakumullah,
Siti Masitah pun dipanggil Fir’aun untuk disidang, “Apakah engkau memiliki tuhan selainku?” Tanya Fir’aun. Tanpa takut dan tanpa keraguan sama sekali, Siti Masitah menjawab dengan tegas,
نَعَمْ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ
“Iya, benar. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah!”
Siti Masitah disebutkan memiliki dua anak dan sang suami merupakan pengawal Fir’aun. Keduanya diharapkan untuk kembali ke agama (yang menganggap Fir’aun sebagai tuhan). Keduanya menolak tanggalkan keimanannya, meski diancam dibunuh oleh Fir’aun.
“Akan aku bunuh kalian, kalau tidak nurut!” Ancam Fir’aun kepada sepasang suami-istri itu.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Coba bayangkan apa jawaban Masitah atas jawaban tersebut!
اِحْسَانًا مِنْكَ اِلَينَا، اِنْ قَتَلْتَنَا اَنْ تَجْعَلَنَا فِى بَيْتٍ وَاحِد فَتُدْفِننَا فِيهِ جَمِيعًا
“Itu lebih baik untuk kita, kalau kamu membunuh kita kuburkan kami semua dalam satu kuburan!”
Jawaban tanpa takut yang ajarkan tentang keteguhan iman satu keluarga. Luar biasa, bukan?
Waktu eksekusi tiba, guci besar dengan air yang mendidih disiapkan untuk eksekusi keluarga Masitah, untuk membuat mereka berpikir ulang. Mereka dimasukkan satu persatu di guci besar tersebut, pertama sang suami.
Giliran kedua Masitah, saat akan dieksekusi layaknya seorang ibu, ia melihat kedua anaknya terlebih yang masih berumur tujuh bulan. Atas izin Allah Swt. anak kedua yang masih kecil seraya menyakinkan sang ibu untuk masuk ke guci itu.
يَا أُمَّه… قِعِي وَلَا تَتَقَاعَسِي… فَاِنَّكِ عَلَي الحَقِّ!
“Wahai ibu!… Lemparkan dirimu dan jangan berlama-lama, sungguh kamu dalam kebenaran yang nyata!”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Cerita yang perlu kita teladani dalam menjaga keimanan sebagai seorang muslim. Semoga Allah menguatkan kita untuk menjaga iman sampai ajal menjemput kita, amin amin ya mujibas sailin.
أَقُوْلُ قوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتغْفِرُ اللهَ ُ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khotbah II
اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعدُ.
فَيا أَيُّها الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفسِيْ بِتقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغيَ وَالسُّيوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Alumni Ponpes Mambaus Sholihin, Gresik.