Tanpa Sadar, Kita Sedang Melakukan ‘Unfollow’ pada Tuhan

Kita sibuk “follow” dunia… tapi diam-diam sudah “unfollow” Tuhan

Di era media sosial, hubungan menjadi sangat mudah berubah. Dengan satu sentuhan, seseorang dapat menghilang dari kesadaran kita sehari-hari. Melakukan unfollow seseorang berarti mengatur perhatian, memutuskan siapa yang pantas mendapat tempat dalam lanskap mental dan emosional kita. Dapatkah logika ini meluas melampaui hubungan manusia dengan Tuhan? Bisakah Tuhan juga “di-unfollow”?

Sekilas, gagasan itu tampak absurd. Tuhan, dalam sebagian besar tradisi agama, bukanlah pencipta konten yang bersaing untuk mendapatkan perhatian. Yang Ilahi tidak tunduk pada algoritma, tren, atau popularitas.

Namun, jika kita menjauh dari makna harfiah “unfollow”, pertanyaannya menjadi kurang tentang teologi dan lebih tentang pengalaman. Pertanyaannya adalah apakah mungkin untuk hidup seolah-olah Tuhan tidak hadir, tidak relevan, atau hanya tidak lagi menjadi bagian dari kesadaran seseorang. Dalam pengertian itu, jawabannya menjadi lebih rumit.

Kehidupan modern terstruktur sedemikian rupa sehingga secara diam-diam memungkinkan bentuk pelepasan spiritual. Perhatian terpecah-pecah di berbagai platform yang tak terhitung jumlahnya, masing-masing menuntut respons segera.

Notifikasi menggantikan kontemplasi, dan kecepatan menggantikan kedalaman. Dalam lingkungan seperti itu, kehadiran Tuhan tidak secara eksplisit disangkal, Dia hanya terpinggirkan. Seseorang tidak secara sadar menolak Yang Ilahi; seseorang hanya berhenti memperhatikan.

Oleh karena itu, melakukan unfollow pada Tuhan bukanlah tindakan pemberontakan, melainkan tindakan pengabaian. Pengabaian ini halus. Ia tidak memerlukan pernyataan ketidakpercayaan. Ia dapat terjadi dalam keyakinan itu sendiri.

Seseorang mungkin masih mengidentifikasi diri sebagai religius, masih berpartisipasi dalam ritual, tetapi mengalami jarak yang semakin besar antara praktik dan kesadaran. Salat menjadi rutinitas, kata-kata dalam doa kehilangan bobotnya, dan rasa keterhubungan memudar menjadi abstraksi. Tuhan tetap ditegaskan secara konseptual, tetapi secara eksistensial jauh.

Dari perspektif filosofis, ini menimbulkan perbedaan penting antara kehadiran dan perhatian. Jika Tuhan dipahami sebagai mahahadir, maka kehadiran ilahi tidak bergantung pada pengakuan manusia.

Tuhan tidak dapat dihilangkan dari realitas melalui ketidakpedulian. Namun, pengalaman manusia akan kehadiran itu sangat terkait dengan perhatian. Apa yang kita perhatikan menjadi nyata bagi kita, sementara apa yang kita abaikan akan surut menjadi latar belakang belaka. Dengan cara ini, “berhenti mengikuti” Tuhan bukanlah tentang menghilangkan Tuhan dari keberadaan, tetapi tentang menghilangkan Tuhan dari kesadaran sehari-hari.

Gagasan ini selaras dengan beberapa aliran pemikiran Islam, khususnya dalam sufisme. Banyak guru sufi menekankan bahwa penghalang utama antara manusia dan Yang Ilahi bukanlah jarak, tetapi kelalaian (ghaflah). Ini adalah keadaan di mana hati menjadi teralihkan, terserap dalam kekhawatiran yang sementara, dan melupakan orientasi yang lebih dalam. Masalahnya bukanlah bahwa Tuhan tidak hadir, tetapi bahwa manusia tidak memperhatikan.

Dilihat dari sudut pandang ini, budaya digital modern dapat memperkuat ghaflah. Gulir tanpa henti melatih pikiran untuk bergerak cepat dari satu rangsangan ke rangsangan lain, jarang berhenti cukup lama untuk refleksi.

Keheningan menjadi tidak nyaman, ketenangan terasa tidak produktif, dan kedalaman dikorbankan demi kecepatan. Dalam kondisi seperti itu, kesadaran akan Tuhan tidak hilang secara dramatis, melainkan ia memudar secara bertahap.

Namun, metafora “berhenti mengikuti” juga mengungkapkan sesuatu tentang kebebasan bertindak manusia. Di media sosial, mengikuti adalah sebuah pilihan, mencerminkan keinginan, minat, dan nilai. Mengikuti seseorang berarti memberi mereka tempat dalam perhatian seseorang.

Jika kita memperluas metafora ini dengan hati-hati, hal itu menunjukkan bahwa kesadaran spiritual juga melibatkan pilihan. Bukan pilihan untuk membuat Tuhan ada atau tidak, tetapi pilihan untuk mengarahkan perhatian seseorang kepada atau menjauh dari Yang Ilahi.

Orientasi ini tidak selalu mudah, sebab ia membutuhkan usaha di dunia yang dirancang untuk menyebarkan perhatian. Hal itu melibatkan menciptakan momen jeda—melalui salat, doa, tafakur, atau kesadaran sederhana—di mana kebisingan mereda dan sesuatu yang lebih dalam dapat muncul. Dalam pengertian ini, mengikuti Tuhan bukan tentang intensitas yang konstan dan lebih tentang pengembalian yang konsisten.

Ada juga dimensi etis dalam pertanyaan ini. Ketika kesadaran akan Tuhan berkurang, hal itu dapat memengaruhi bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain. Belas kasih, kesabaran, dan akuntabilitas sering kali memperoleh kekuatan dari rasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Tanpa koneksi itu, tindakan mungkin menjadi lebih reaktif, lebih berpusat pada diri sendiri, lebih dibentuk oleh impuls langsung.

Oleh karena itu, “berhenti mengikuti” Tuhan bukanlah tindakan netral. Tindakan ini memiliki konsekuensi terhadap cara hidup seseorang, meskipun konsekuensi tersebut mungkin tidak langsung terlihat.

Namun, tidak seperti media sosial, hubungan dengan Tuhan tidak diatur oleh timbal balik. Tuhan tidak “berhenti mengikuti” sebagai balasan. Kemungkinan untuk kembali tetap terbuka. Seberapa jauh pun seseorang merasa, jalan kembali tidak terhalang. Ini adalah perbedaan yang krusial. Hubungan antarmanusia mungkin retak secara permanen, tetapi hubungan spiritual mempertahankan ketahanan yang unik.

Hal terpenting di sini adalah bahwa metafora “berhenti mengikuti” (unfollow) lebih banyak mengungkapkan tentang perhatian manusia daripada realitas ilahi. Metafora ini mengungkap kerapuhan fokus di zaman yang penuh distraksi. Metafora ini menantang asumsi bahwa keyakinan saja sudah cukup, dan mengundang pertanyaan yang lebih dalam, yaiut apa yang menyesaki kesadaran kita, dari waktu ke waktu?

Pada akhirnya, Tuhan tidak dapat dihentikan secara absolut. Yang Ilahi tidak bergantung pada perhatian manusia untuk eksis. Akan tetapi, dari perspektif pengalaman hidup, seseorang dapat hanyut ke dalam keadaan di mana kehadiran itu terasa jauh, tersamarkan oleh kebisingan kehidupan sehari-hari.

0

Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.