



Setiap tahun selama Iduladha, jutaan hewan digiring menuju tempat penyembelihan. Jalan-jalan dipenuhi sapi dan kambing dan masjid-masjid bergema dengan takbir dan menyiapkan daging untuk dibagikan.
Bagi banyak muslim, ritual ini melambangkan ketaatan, kemurahan hati, dan pengabdian kepada Tuhan. Namun, di balik tindakan pengorbanan yang terlihat, terdapat pertanyaan spiritual yang lebih dalam yang sering dilupakan: bagaimana jika hewan di Iduladha bukanlah hewan di luar diri kita, tetapi hewan di dalam diri kita?
Tradisi Islam telah lama berbicara tentang nafs, diri yang lebih rendah yang didorong oleh nafsu, ego, keserakahan, kemarahan, kesombongan, dan keinginan yang tak berujung. Nafs bukanlah kejahatan itu sendiri, tetapi ia terus-menerus mencari kepuasan dan kendali.
Dalam banyak hal, nafs berperilaku seperti hewan liar. Ia menginginkan lebih banyak pengakuan, lebih banyak kesenangan, lebih banyak kekuasaan, lebih banyak kepastian. Bahkan ibadah pun dapat menjadi makanannya. Seseorang bisa jdai salat karena kesombongan, memberi sedekah demi status, atau menunjukkan kesalehan demi dikagumi.
Inilah sebabnya mengapa beberapa sufi memahami pengorbanan bukan hanya sebagai ritual yang melibatkan hewan, tetapi sebagai drama simbolis tentang kondisi manusia itu sendiri. Pisau Iduladha pada akhirnya diarahkan pada ego.
Kisah Nabi Ibrahim menggambarkan ketegangan ini dengan sangat kuat. Di pusat narasi tersebut bukanlah kekerasan, melainkan pelepasan, yakni saat Ibrahim diminta untuk menyerahkan apa yang paling berharga baginya. Ujiannya bersifat eksistensial sebelum bersifat ritual.
Dapatkah manusia melepaskan ilusi kepemilikan? Dapatkah seseorang mencintai sesuatu dengan sepenuh hati tanpa mengubahnya menjadi berhala? Kehidupan modern membuat pertanyaan ini semakin penting untuk disodorkan ke diri kita sendiri.
Saat ini, orang mungkin tidak lagi menyembah patung, tetapi mereka masih membangun altar. Karier menjadi altar. Status sosial menjadi altar. Produktivitas menjadi altar. Bahkan identitas itu sendiri dapat menjadi sakral dengan cara yang tidak sehat.
Budaya kontemporer terus-menerus melatih individu untuk membangun dan memasarkan diri mereka sendiri. Diri menjadi proyek optimasi tanpa akhir: menjadi lebih sukses, lebih populer, lebih diinginkan, lebih diikuti. Dalam skop ini, nafsu tumbuh lebih kuat sambil menyamar sebagai peningkatan diri. Iduladha mengganggu logika ini.
Ritual dalam Iduladha mengingatkan manusia bahwa tidak semua hal ada untuk dimiliki dan dikonsumsi. Sesuatu harus dilepaskan. Sesuatu harus dikendalikan. Pengorbanan memperkenalkan ekonomi spiritual yang sangat berbeda dari kapitalisme modern.
Dalam budaya konsumerisme, pemenuhan datang melalui akumulasi, sedangakan dalam logika spiritual pengorbanan, transformasi datang melalui pelepasan. Inilah mengapa citra hewan begitu penting.
Hewan kurban bukan hanya objek eksternal, lantaran ia mencerminkan sesuatu di dalam diri manusia, yaitu kelaparan, agresi, kesombongan, posesif, yang kesemuanya merupakan dorongan-dorongan yang tetap tertanam dalam keberadaan manusia.
Peradaban sering menyembunyikannya di balik kecanggihan dan teknologi, tetapi dorongan-dorongan itu tidak hilang. Manusia modern mungkin tampak halus, terdidik, dan rasional, tetapi mereka tetap didorong oleh keinginan primitif untuk dominasi dan validasi.
Hewan di luar menjadi cerminan hewan di dalam. Namun, tujuannya bukanlah penghancuran diri. Sufisme tidak menyerukan kebencian terhadap tubuh atau penolakan keinginan manusia. Tujuannya adalah disiplin, keseimbangan, dan transformasi. Kuda liar bisa menjadi berbahaya, tetapi kuda terlatih menjadi kuat dan terarah. Demikian pula, nafsu harus dididik, bukan sekadar ditekan.
Perjuangan batin ini mungkin merupakan makna sebenarnya dari kurban. Akar kata Arabnya menyiratkan kedekatan (qurb), mendekatkan diri kepada Tuhan. Oleh karena itu, kurban bukan hanya tentang kehilangan, melainkan tentang menghilangkan apa pun yang menghalangi keintiman atau kedekatan dengan Yang Ilahi.
Terkadang yang menghalangi bukanlah kekayaan atau kesenangan itu sendiri, tetapi keterikatan egois yang mengelilinginya. Perspektif ini juga mengubah cara kita memandang hewan itu sendiri. Dalam masyarakat industri modern, hewan sering diperlakukan sebagai komoditas, unit produksi dalam sistem konsumsi massal.
Daging tiba dalam kemasan rapi, terlepas dari realitas makhluk hidup. Iduladha, dalam bentuk terbaiknya, mengganggu keterpisahan ini. Iduladha menghadapkan orang-orang pada beratnya mengambil nyawa. Ritual ini secara tradisional menekankan belas kasih, perhatian, dan perlakuan etis terhadap hewan. Kurban tidak pernah dimaksudkan untuk merayakan kekejaman atau berlebihan.
Al-Quran sendiri menyatakan bahwa baik daging maupun darah tidak sampai kepada Tuhan, melainkan kesadaran di balik tindakan tersebutlah. Hal ini menggeser makna pengorbanan dari sekadar tontonan menuju transformasi batin. Tanpa kesadaran etis dan spiritual, ritual tersebut berisiko menjadi repetisi yang hampa.
Mungkin inilah kebenaran yang tidak nyaman yang tersembunyi di balik Iduladha: pengorbanan sejati tidak pernah mudah karena ego menolak penyerahan diri. Manusia berpegang teguh pada kendali, pengakuan, dan keterikatan. Melepaskan terasa seperti pengurangan. Namun, tradisi spiritual berulang kali menegaskan bahwa kebebasan justru dimulai dari sana.
Sisi hewani dalam diri kita tidak menghilang dalam semalam. Ia berevolusi, beradaptasi, dan kembali dalam bentuk yang lebih halus. Terkadang ia muncul sebagai kesombongan yang menyamar sebagai kebenaran; terkadang sebagai keserakahan yang menyamar sebagai ambisi; terkadang sebagai kebanggaan spiritual yang menyamar sebagai kesucian. Oleh karena itu, perjuangan melawan nafsu adalah perjuangan yang berkelanjutan.
Dari sini kita melihat bahwa Iduladha bukan sekadar peringatan sebuah kisah kuno, sebab ia adalah konfrontasi tahunan dengan diri sendiri. Akhirnya, pertanyaan yang disodorkan pada diri kita bukan lagi sekadar apakah hewan akan dikorbankan, tetapi bagian mana dari diri kita yang masih enggan melangkah menuju tempat berkurban.
Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com