Mengapa Nama Nabi Muhammad Jarang Disebut dalam Al-Qur’an?

Al-Qur’an lebih sering menyebut Nabi Muhammad saw. sebagai “Rasul” atau “Nabi” daripada menyebut nama beliau secara langsung. Ilustrasi ini melambangkan bahwa kemuliaan beliau ditegaskan melalui risalah, akhlak, dan pengorbanan, bukan sekadar penyebutan nama.

Di era media digital, nama sering kali menjadi komoditas yang diperebutkan. Semakin sering seseorang disebut, tampil, dan dibicarakan, semakin besar pula pengaruh yang dianggap dimilikinya.

Tidak sedikit tokoh bahkan lembaga yang berusaha membangun popularitas melalui berbagai strategi komunikasi. Fenomena ini melahirkan anggapan bahwa semakin besar nama seseorang, semakin besar pula pengaruh atau keberhasilannya.

Cara pandang tersebut ternyata berbeda dengan cara Al-Qur’an memperkenalkan Nabi Muhammad saw. Jika diukur dengan logika komunikasi modern, sosok yang menjadi penerima wahyu terakhir seharusnya diperkenalkan secara berulang melalui penyebutan namanya.

Alih-alih menggunakan strategi ini, Al-Qur’an secara keseluruhan justru hanya menyebut nama “Muhammad” sebanyak empat kali saja, yaitu dalam surah Ali Imran (3): 144, al-Aḥzāb (33): 40, Muḥammad  (47): 2, dan al-Fatḥ (48): 29. Sedangkan penyebutan dengan redaksi nama “Ahmad” hanya disebut satu kali yakni, surah aṣ-Ṣaff (61): 6.

Selebihnya, Al-Qur’an lebih sering menggunakan istilah panggilan ‘rasul’, ‘nabi’, atau kata ganti lainnya yang merujuk kepada beliau (Tarif Khalidi, 2009, hlm. 44).

Pilihan tersebut tentu bukan tanpa makna. Al-Qur’an tidak mengurangi kemuliaan Nabi Muhammad saw., tetapi justru mengarahkan perhatian pembaca kepada tugas yang beliau emban.

Misalnya, ketika Allah menyapa Rasulullah saw. dengan sapaan ‘Wahai Rasul’dalam QS. al-Ma’idah [5]: 41 dan 67. Hal ini menunjukkan bahwa penekan pada figure beliau sebagai seorang utusan yang mengemban amanah untuk menyampaikan wahyu. Demikian pula dengan panggilan ‘Wahai Nabi’ dalam QS. al-Anfal [8]: 64 yang menegaskan posisi beliau sebagai pembimbing umat.

Sebaliknya, saat nama “Muhammad” disebut secara langsung, penyebutannya hadir dalam konteks yang menegaskan bahwa beliau adalah manusia yang menerima risalah kerasulan. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul (QS. Ali Imran [3]: 144)

Ayat tersebut secara tidak langsung mengingatkan bahwa agama tidak bergantung pada sosok manusia, melainkan pada risalah yang dibawanya.

Melalui pola ini, Al-Qur’an membangun penghormatan kepada Nabi bukan dengan memperbanyak penyebutan nama beliau, melainkan dengan memperlihatkan kemuliaan misi yang beliau jalankan.

Otoritas Nabi lahir dari risalah kenabian, bukan dari pengulangan identitas personal. Fokus utama Al-Qur’an selalu mengarahkan pembaca kepada wahyu, petunjuk, dan tanggung jawab dakwah.

Prinsip yang sama tampak dalam hadis. Rasulullah saw. tidak membangun kewibawaan melalui pencitraan, tetapi melalui akhlak yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Gelar al-Amīn telah diberikan masyarakat Makkah jauh sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Kejujuran, amanah, kesederhanaan, dan kepedulian kepada sesama melahirkan kepercayaan yang tumbuh secara alami. Reputasi beliau bukan hasil promosi diri, melainkan buah dari integritas yang terus dijaga.

Sirah (kisah hidup) Nabi juga memperlihatkan kenyataan yang serupa. Selama berdakwah di Makkah, Rasulullah saw. menghadapi penolakan, tekanan, boikot sosial, hingga intimidasi. Hijrah ke Madinah bukanlah strategi mencari popularitas ataupun memperluas kekuasaan, melainkan ikhtiar menyelamatkan dakwah dan membangun masyarakat yang berlandaskan keadilan.

Berbagai keputusan beliau lahir dari pertimbangan risalah, bukan dari kepentingan menjaga citra pribadi. Karena itu, sirah Nabi lebih tepat dibaca sebagai sejarah pengabdian daripada sejarah pencarian ketenaran.

Pelajaran tersebut menjadi sangat penting bagi kehidupan saat ini. Budaya digital sering mendorong masyarakat untuk lebih mengenal figur daripada gagasan yang diperjuangkannya.

Ukuran keberhasilan seseorang kerap ditentukan oleh jumlah pengikut, intensitas pemberitaan, atau seberapa sering namanya muncul di ruang publik. Akibatnya, substansi mudah tergeser oleh pencitraan, sedangkan manfaat yang nyata justru kurang mendapat perhatian.

Tentu, tidak ada yang melarang seseorang membangun komunikasi publik. Pemimpin, pendakwah, maupun tokoh masyarakat tetap perlu menjelaskan gagasan, membuka ruang dialog, dan mempertanggungjawabkan kebijakannya kepada publik.

Pembangunan citra diri dapat menjadi bagian dari strategi komunikasi yang wajar. Namun, Al-Qur’an mengingatkan bahwa citra tidak boleh menggantikan integritas. Nama yang baik seharusnya lahir sebagai konsekuensi dari tugas yang dijalankan dengan benar, bukan menjadi tujuan utama yang terus dikejar.

Di sinilah letak pelajaran dari cara Al-Qur’an memperkenalkan Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an tidak membesarkan beliau melalui pengulangan nama, tetapi melalui penegasan risalah yang beliau bawa.

Hadis memperlihatkan bagaimana risalah itu diwujudkan dalam akhlak, sedangkan sirah menunjukkan bagaimana risalah itu dipertahankan melalui pengorbanan yang panjang.

Ketiga sumber tersebut menyampaikan pesan yang sama, bahwa kemuliaan seseorang tidak bertumpu pada seberapa besar namanya dikenal, melainkan pada seberapa besar tugas yang ditunaikannya.

Barangkali inilah pelajaran, di tengah budaya yang semakin mengagungkan eksistensi personal. Nama memang dapat menjadi besar karena media, jabatan, atau strategi komunikasi. Namun, yang akan tetap hidup dan dikenang adalah misi, manfaat, serta nilai yang diwariskan kepada masyarakat.

Mungkin Itulah cara Al-Qur’an mengajarkan kita untuk memandang Nabi Muhammad saw., sekaligus menjadi pedoman dalam membangun kepemimpinan dan kehidupan yang berorientasi pada amanah, bukan semata-mata popularitas. Wallahu a’lam.

0

Mahasiswa STAIN Majene, Sulawesi Barat

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.