



Hubungan manusia dengan buku bisa dibilang ironis. Manusia memakai buku untuk mengawali atau memajukan peradaban, namun manusia selalu memiliki obsesi untuk menghancurkan buku yang berarti sama dengan memundurkan peradaban itu sendiri. Pada tahun 2004, Fernando Baez, ahli perbukuan asal Venezuela mengeluarkan sebuah buku fenomenal berjudul Historia universal de la destruccion de libros.
Isinya menceritakan tentang sejarah penghancuran buku (bibliosida) yang telah berlangsung selama 55 abad: dimulai ketika manusia pertama kali mengenal buku dalam bentuk lempengan tanah liat di Sumeria hingga penghancuran dan penjarahan buku secara besar-besaran di Irak pasca jatuhnya rezim Saddam Hossein.
Ada beragam faktor mengapa bibliosida terjadi: dari iklim, serangga, peperangan, hingga motif ideologis penguasa. Pada poin terakhir ini, Baez menunjuk pada masa abad pertengahan di Eropa tatkala gereja menyensor sekaligus membakar buku-buku yang dianggap sesat/bidah. Dari sini Baez menganggap bahwa bibliosida terjadi bukan karena manusia tidak tahu atau salah paham akan isi buku itu, melainkan justru ia tahu karena takut bila buku tersebut berpotensi menggoyahkan kekuasaannya.
Tapi, bagaimana bila buku dihancurkan untuk dipindahkan isinya dalam mesin yang lebih canggih? Beberapa hari ke belakang, dunia literasi dikagetkan oleh dugaan penghancuran buku-buku langka yang dilakukan oleh Anthropic, sebuah perusahaan Artificial Intelegence (AI) di balik Claude. Di bawah kode Project Panama, perusahaan tersebut menghabiskan puluhan juta dollar untuk mengakuisi jutaan buku guna memperoleh materi atau data yang ditulis oleh manusia.
Ini diperlukan untuk melatih model bahasa berskala besar atau yang lebih dikenal dengan Large Langaguage Models (LLMS) dari Claude. Dalam proses ini, mereka menggunakan mesin pemotong bertenaga hidrolik guna memotong buku dan mengiris halamannya satu per satu untuk kemudian dipindai dengan peralatan pencitraan kelas industri sebelum dibuang atau dimusnahkan.
Perusahaan tersebut berani melakukan demikian karena berlindung di balik aturan legal bernama “doktrin penjualan pertama” (first-scale doctrine) yang memungkinkan pembeli untuk melakukan apa saja terhadap barang yang telah dibelinya. Sehingga, mereka berpikir akan dapat menghindari masalah hak cipta.
Kendati demikian, dalam wawancaranya dengan The Guardian, juru bicara mereka menampik tuduhan tersebut dengan mengatakan bahwa “Tidak ada satu pun program akuisisi data kami yang membeli lalu memusnahkan buku langka atau buku antik.”
Bila benar bibliosida tersebut, dampak yamg paling tampak timbul ialah hilangnya bukti fisik sejarah. Saya kira seseorang akan selalu merasa perlu untuk melihat atau bahkan meraba langsung wujud riil dari buku langka ketimbang melihatnya dari jepretan foto.
Sesederhana orang lebih suka mendatangi langsung pegunungan atau air terjun yang indah ketimbang melihatnya dari foto atau mendengarnya dari cerita orang.
Selain menghadirkan momen heran dan takjub, melihat langsung buku langka dapat menghasilkan pengetahuan. Katakanlah, pengetahuan tentang jenis kertas apa yang ditulis di zaman dulu, bagaimana orang sebelum kita menuturkan bahasa dalam sebuah tulisan, dan ejaan seperti apa yang ditulis di zaman dulu.
Pengetahuan sederhana seperti itu tetap penting dalam fungsinya untuk melihat bagaimana perkembangan dunia perbukuan dari masa silam hingga sekarang. Sehingga, orang dapat memahami dan membandingkan apa yang berubah dari buku kuno dan buku kontemporer.
Dampak lain yang perlu dibahas adalah perihal monopoli isi pengetahuan. Jika sebuah buku dihancurkan dan datanya dipindahkan dalam AI, maka tak bisa tidak pengetahuan yang akan kita peroleh hanya berasal dari AI.
Cara kerja berbagai model AI, dengan berbagai variasi, adalah mengolah, memproses, dan menganalisis data atau teks untuk menghasilkan respon semirip manusia. Hasil respon tersebut bersifat prediktif, interpretatif, atau bila cukup baik, mendekati kebenaran. Karena karakternya yang demikian, pengetahuan yang dihasilkan oleh AI bisa saja parsial, distortif, atau bahkan salah. Karena itu, sumber asli tetap dibutuhkan dan tak bisa digantikan.
Dengan merujuk pada sumber asli, pengetahuan yang diperoleh bisa variatif dan berwarna. Kita ambil contoh saja penggetahuan yang diperoleh dari hasil membaca novel Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer.
Pembaca A mungkin akan menganggap novel itu sebagai kisah cinta antara Minke dan Annelies, pembaca B mungkin akan menganggapnya sebaagai potret kondisi sosial-politik Hindia Belanda akhir abad 19 dan awal abad 20, dan pembaca C mungkin akan menganggapnya sebagai cerita tentang perlawanan terhadap ketidakadilan ras oleh Kolonial Belanda.
Dari sini kita memahami bahwa setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda dari buku yang dibaca. Perbedaan itu adalah hal yang lumrah karena setiap pembaca memiliki karakter, pengetahuan bawaan, atau mungkin juga dibentuk oleh lingkungan yang berbeda-beda. Justru dari keberagaman itu muncul diskusi dan perdebatan yang darinya orang kemudian dapat menyepakati mana pengetahuan yang paling benar.
Akan tetapi, hal yang membikin runyam dari sekian dampak tersebut adalah bila trend penghancuran buku mulai merambah buku pasaran atau buku umum. Jika semua hal ihwal pengetahuan dipindah ke dalam mesin kecerdasaran buatan, maka yang terjadi bukan saja hilangnya kreativitas manusia dan matinya perkembangan ilmu pengetahuan, melainkan juga orang menjadi lupa akan wujud buku fisik tersebut.
Kita akhirnya teringat ketika Walter Benjamin membayangkan sejarah layaknya lukisan Angelus Novus karya Paul Klee: ketika angin modernitas terus bergerak maju dan manusia hanya menatap puing-puing keruntuhan peradaban yang ditinggalkannya. [AA]
Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya