Agama, Filsafat, dan Sains yang Diperdebatkan

Source: http://grandmotherafrica.com/

Ada kata-kata nasihat seorang ayah seorang “Pi Patel”  -nama lengkapnya adalah Piscine Molitor Patel- kepada “Pi” –tokoh utama dalam film Life Of Pi, yang di sutradarai oleh Ang Lee tahun 2012. “Jika engkau mempercayai beberapa hal (entah itu sains, agama atau filsafat) secara bersamaan, itu artinya sama halnya engkau tidak mempercayai hal-hal tersebut, meskipun sulit buatlah keputusan untuk mempercayai salah satunya agar akal pikiran dan hatimu tidak mudah goyah”.

Ayah Pi dalam film tersebut merupakan karakter manusia modern yang rasional dan tidak mempercayai doktrin agama, baginya sains modern dan rasinolitas lah yang telah menyelamatkannya dan akan membimbingnya menuju ke puncak kemanusiaan –hal ini dikarenakan ayah Pi Patel pernah hampir meninggal dunia karena suatu penyakit, dan kecewa karena setiap hari terus berdoa kepada tuhannya, tetapi yang menyembuhkannya justru peralatan medis yang diciptakan oleh peradaban Barat.

Hal ini mengingatkan saya kepada beberapa waktu yang lalu muncul perdebatan yang cukup sengit di media maya terkait tentang filsafat, agama, dan sains yang diawali oleh pernyataan Goenawan Mohamad yang mengkritik sains yang dianggapnya terlalu naïf memandang dunia ini, dan pada akhirnya sains dan filsafat tidak akan berdaya dihadapan agama untuk hari-hari selanjutnya.

Hal ini menjadi diskursus yag menarik, ketika AS Laksana menanggapinya dengan nada satire perihal pandangan Goenawan Mohamad di atas, dengan analisis khas retoris-saintisnya menggunakan argument yang sangat logis-persuasif, mengatakan bahwa di masa depan, agama dan filsafat hanya akan menjadi subordinat bagi sains dan teknologi, karena sains dan teknologi akan menjadi satu-satunya “cara pandang” masyarakat dalam mengarungi kehidupan ini. Oleh karenanya, agama dan filsafat (baca: metafisika) tidak akan diperlukan lagi dan perlahan-lahan akan lenyap seutuhnya. Dari perdebatan sengit ini, melahirkan puluhan tulisan menarik yang dihimpun oleh Denny JA di group diskusi facebook Esoterika_Forum Spiritualitas.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Denny JA, bahwa mereka pada umumnya menjadi fundamentalisme dalam “artiannya sendiri-sendiri”. Mereka seperti ayahnya “Pi” yang terjebak dalam “fundamentalisme” berdasarkan kebenaran “paham” yang mereka anut, dengan mengabaikan bahwa memang tidak ada kebenaran yang tunggal –karena memang semuanya saling melengkapi tanpa harus menegasikannya. Denny JA juga mengatakan, kita memang akan selalu terjebak pada “fundamentalisme” dalam artian kita masing-masing–entah itu fundamentalisme agama, fundamentalisme filsafat, atau fundamentalisme sains.

Malik Bennabi berpendapat dalam bukunya al-Zhahirah al-Qura’aniyyah entitas apapun yang ada dalam pengetahuan manusia, cenderung akan dipertuhankan apabila ia memuaskannya baik secara spiritual, material dan intelektual –meminjam istilah Rudolf otto mysterium, tremendum, fascinans- sehingga kita bisa dianggap ateis ketika -term agama gunakan- tidak percaya Tuhan, di sisi yang lain membatah eksistensi Tuhan menggunakan argument-argumen saintifik dan memuja sains dengan penuh semangat karena betapa realistis dan logisnya sains dalam membimbing kita dalam mengarungi kehidupan, bahkan pada tingkat tertentu menggugah “spiritualitas” dalam diri kita melalui sains, hakikatnya hal itu kita telah menciptakan tuhan yang lain di luar tuhan yang dipercayai oleh agama-agama “formal”.

Begitu juga para “fundamentalisme” filsafat akan melakukan hal yang sama oleh para saintis di atas, akan tetap membutuhkan “tuhan” di dalam diri mereka, tanpa memperdulikan ontologi, epistemologi, dan aksiologi apa yang akan mereka hasilkan mereka akan mempertuhankan apapun untuk mereka “sembah” untuk mengarungi kehidupan ini. Hal ini disebabkan memang secara naluri, menurut Bennabi bahwa sudah menjadi fitrahnya manusia itu cenderung mempertuhankan “sesuatu”, sebagaimana naluri manusia membutuhkan makan jika lapar, tidur ketika mengantuk, minum ketika haus, menangis ketika sedih, berbicara ketika mengekspresikan sesuatu dan lain sebagainya.

Malik Bennabi dalam bukunya yang berjudul Syuruth Al-Nahdlah mengatakan, agama adalah “katalisator” yang selalu hadir di balik kelahiran suatu peradaban dalam sejarah manusia, jadi tidak ada satupun pearadaban manusia terlahir tanpa adanya “wahyu” –baik itu dari orang-orang suci, nabi, wali atau manusia supranatural dan orang-orang diberi kecerdasan lebih (jenius)- yang mengilhaminya. kita saat ini berada –meminjam istilah yang digunakan Cak Nur- hidup di zaman peradaban teknik yang dibangun oleh kebangkitan sains dan melahirkan teknologi sebagai anak kandungnya, di mana tuhan-tuhan digital dan penuh saintifik perlahan-lahan disembah untuk dapat menghapus tuhan agama formal yang “metafisik”.

Sehingga meskipun orang yang mendaku dirinya sebagai ateis –karena lebih mempercayai sains dibanding agama formal- pun pada hakikatnya ia juga beragama, yaitu menuhankan sains itu sendiri, menabikan saintis, mesyariatkan metode sains, beribadah sesuai mazhab sainsnya dan berilmu dengan sanad guru-guru sainsnya serta membangunkan perdabannya dengan “agama” sains tersebut.

Demikian halnya dengan filsafat, ia juga sekilas perlahan-lahan menggantikan agama, tetapi ia sendiri telah menjadi dogma suci yang tak bisa dibantah oleh pengikutnya sendiri.

Meski demikian Rudolf Otto berpendapat tentang keterikatan manusia yang tidak bisa lepas dari “agama” (baca: formal) meskipun sains dan filsafat mencoba meruntuhkannya. Hal ini disebabkan oleh perasaan nominus yang dimiliki oleh manusia. Perasaan nominus ini ada yang bersifat rasional dan irasional. Nominus yang bersifat irrasional, memiliki ciri tersembunyi dan membentuk suatu keadaan psikologi yang paling mendasar dalam jiwa manusia.

Perasaan nominus ini berbeda halnya dengan perasaan yang membingungkan, justru dia menenangkan, karena inilah yang biasa disebut dengan “spiritualitas” agama. Perasaan nominus yang rasional, menunjukan bahwa setiap pengalaman religious tidak bisa dikonsepkan –tidak dalam rasionalitas – tetapi dapat dipahami dan bermakna dengan begitu saja. Menurut Otto ada dua aspek dalam perasaan nominus pertama tremendum yaitu takut kepada “tuhan” (yang dipertuhankan), kedua fascinans yaitu perasaan terpesona kepada sesuatu yang dipertuhankan. Nah, hal inilah yang hilang dari “agama” sains dan filsafat, tuhan mereka dan ajaran mereka terlalu konkret dan pada banyak hal miskin spiritualitas.

Jadi, benarkah sains dan filsafat akan menjadi kuburan bagi kematian agama? saya rasa sains hanya menggantikan posisi agama sebagai sistem di masyarakat sebagaimana “agama civil” menggantikan ritual gereja di acara-acara kenegaraan di USA dan beberapa Negara sekuler yang lain, tetapi ia tidak bisa menggantikan agama “formal” sebagai “ziet giest” dan lagi pula sejarah telah membuktikan kematian agama-agama di masa lalu, bahwa manusia akan cepat “bosan” dengan “tuhan” yang tidak memiliki unsur mysterium, tremendum, fascinans. [HM]

0

Alumni Ponpes Salafiyah Bandar Kidul Kota Kediri, Peneliti Studi Islam IAIN Kediri-UIN Sunan Ampel Surabaya

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.