


![[Resensi] Rahayu Nir Sambikala: Refleksi Dosen IAIN Surakarta Selama #dirumahaja](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/08/20200813_144454_0000-825x510.png)
![[Resensi] Rahayu Nir Sambikala: Refleksi Dosen IAIN Surakarta Selama #dirumahaja](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/08/20200813_144454_0000-825x510.png)
Judul Buku: Rahayu Nir Sambikala: Refleksi Dosen IAIN Surakarta Selama #dirumahaja
Penulis: Abd.Halim, dkk
Penerbit: IAIN Press
Tebal: xx-200 halaman
ISBN: 973-623-93492-1-9
“Rahayu Nir Sambikala” yang bermakna agar kita semua selamat dari segala cobaan dan gangguan, khususnya Covid-19. (hlm.iv). Semakin meningkatnya jumlah kasus positif corona yng sudah mencapai 100 ribu, tentu harusnya menjadikan kekhawatiran banyak orang semakin meningkat. Namun, fakta di lapangan ternyata berkata lain.
New Normal yang gaungkan oleh presiden yang bertujuan untuk mengembalikan ekonomi dengan sebuah pola kehidupan baru yang harus diterapkan yakni segala hal harus menerapkan jaga jarak seperti selalu memakai masker, jaga jarak, cuci tangan dan sebagainya, berbeda dengan penerapannya dilapangan. Pada kenyataannya banyak masyarakat yang tak memperdulikan akan protokol kedisiplinan tersebut.
Buku “Rahayu nir sambikala” ini ditulis adalah sebagai dokumentasi yang diharapkan bisa memberikan jawaban terhadap masyarakat atas masalah-masalah yang banyak bermunculan di masa pandemi.
Selama karantina mandiri di rumah masing-masing dengan menjalankan WFH (work from home), yakni mengajar mahasiswa secara daring. Para pengajar ini menuliskan pengalaman dan pandangan mereka terkait wabah Covid-19 dan bagaimana mengatasi permasalahannya dengan pendekatan disiplin keilmuan yang ditekuni masing-masing.
Pada awal kemunculannya Covid-19 di Indonesia, yang menjadi sebuah permasalahan dengan dilaksanakannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), khususnya dalam hal ritual keagamaan seperti salat Jumat, tarawih dan sejenisnya, adalah pertanyaan yang ramaidiperbincangan yakni antara takut kepada Allah swt atau takut pada Covid-19.
Salah satu tulisan yang menarik terkait hal ini, ditulis oleh Abd. Halim, menjelaskan bahwa dalam beragama tidak selayaknya bersikap egois. Artinya, bagaimana mungkin seseorang yang beragama justru mengancam kehidupan orang lain. Konsep khauf (takut) dan raja’ (mengharap) dalam ilmu tasawuf bisa menjadi tawaran yang tepat dalam kondisi di tengah pandemic ini.
Dalam kehidupan sehari-hari, antara khauf dan raja’ haruslah berimbang. Jika seseorang memiliki persaan khauf yang terlalu tinggi tanpa harapan (raja’) welas asih dari Allah swt, maka ia akan selalu hidup dalam kecemasan dan ketakutan.
Sebaliknya jika seseorang memiliki pengharapan (raja’) yang terlalu tinggi, ia akan cenderung menggampangkan terhadap diri dan bersikap ceroboh karena terlalu percaya diri dan merasa dia sudah dekat dengan Tuhan dan terlalu yakin (over confidence) akan dilindungi dari wabah. Maka, solusi yang paing tepat adalah menyeimbangkan keduanya, khauf dan raja’. (h. 44)
Buku antologi karya para dosen dengan latar belakang keilmuan berbeda-beda ini memberikan wawasan–dari berbagai sudut pandang–untuk bersikap, berpikir, dan menentukan alternatif terbaik agar dapat mengambil maslahah mursalah di tengah wabah pandemi Covid-19.
Sebagaimana yang saya sebutkan di atas bahwa buku ini ditulis dengan berbabagai pendekatan disiplin keilmuan. Di dalamnya membahas soal pandemic mulai dari persoalan keagamaan, pendidikan, kerja, kemanusian, budaya, hingga siasat psikologi dan ekonomi ditengah pandemi. Salah satu kelebihan buku ini adalah, meskipun ditulis oleh kalangan akademis, namun penyajian gaya bahasa dan penulisan yang digunakan cukup mudah untuk dipahami bagi mereka yang berlata belakang non-akademis.
Pada bagian epilog, Dr. Mahrus eL-Mawa, mengatakan bahwa yang menjadikan buku ini menarik dan patut dibaca adalah banyaknya gagasan yang diberikan oleh setiap penulis artikel dalam buku ini. Disitulah letak kekuatan dimiliki. Jika satu pembaca membaca lima gagasan dan dipraktikkan, maka gerakan Nir Sambikala akan terealisasi. [AA]