



Ramadan hampir sampai di ujung jalannya. Di pertengahan Maret 2026 ini, umat Islam di berbagai penjuru negeri sedang memasuki fase sepuluh malam terakhir dari bulan suci. Fase ini diyakini sebagai puncak keutamaan waktu Ramadan dan turunnya Lailatul Qadar.
Dalam Al-Qur’an surat Al-Qadr ayat 3-5, malam Lailatul Qadar digambarkan dengan ungkapan yang begitu agung bahwasannya kemuliaannya melebihi 1000 bulan.
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”
Ayat ini menegaskan bahwa lailatul qadr bukan sekadar malam yang istimewa, tetapi malam yang nilai kebaikannya melampaui puluhan tahun kehidupan manusia. Karena kemuliaannya yang begitu besar, banyak umat islam kemudian bertanya-tanya, kapan dan adakah tanda-tanda yang dapat menunjukkan bahwa Lailatul Qadar sedang hadir di tengah malam Ramadan?
Dalam sejumlah hadis, Rasulullah saw. memberikan gambaran mengenai suasana malam tersebut. Salah satu riwayat dari Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih Ibn Khuzaimah menyebutkan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kebaikan dan kemudahan. Udara tidak terasa panas, tetapi juga tidak dingin. Suasananya tenang, seakan alam ikut menundukkan diri dalam kedamaian.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم :لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلْقَةٌ، لَا حَارَّةٌ وَلَا بَارِدَةٌ، تُصْبِحُ الشَّمْسُ صَبِيحَتَهَا ضَعِيفَةً حَمْرَاءَ
“Lailatul Qadar adalah malam yang tenang dan cerah; tidak panas dan tidak dingin. Pada pagi harinya matahari terbit dalam keadaan lemah dan kemerah-merahan” (Ibnu Khuzaimah, No. 2192)
Banyak ulama memaknai gambaran ini sebagai tanda keseimbangan alam pada malam tersebut. Angin berembus lembut, udara terasa nyaman, dan suasana malam menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Dalam realitas keseharian, kadang suasana seperti ini benar-benar terasa berbeda. Malam yang biasanya riuh tiba-tiba terasa hening, hati menjadi lebih mudah khusyuk. Bagi sebagian orang, momen seperti ini sering menjadi isyarat batin bahwa rahmat Allah sedang turun begitu dekat.
Tanda lain yang cukup dikenal berasal dari hadis sahih riwayat Imam Muslim dari sahabat Ubay bin Ka’ab. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa pada pagi hari setelah Lailatul Qadar, matahari terbit dalam keadaan putih bersih dan tidak menyilaukan.
عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا
“Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya berwarna putih tanpa sinar yang menyilaukan.” (HR. Muslim, No. 762)
Para ulama menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena banyaknya malaikat yang turun dan naik kembali ke langit pada malam tersebut, sehingga sinar matahari seolah-olah tersaring.
Selain itu, dalam riwayat lain disebutkan bahwa pada malam itu bulan terlihat seperti sepotong nampan (syiqqi jafnah), menghadirkan pemandangan yang unik di langit Ramadan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ تَذَاكَرْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ أَيُّكُمْ يَذْكُرُ حِينَ طَلَعَ الْقَمَرُ وَهُوَ مِثْلُ شِقِّ جَفْنَةٍ
“Kami pernah membicarakan Lailatul Qadar di hadapan Rasulullah saw., lalu beliau bersabda: ‘Siapa di antara kalian yang ingat ketika bulan terbit seperti belahan nampan?’” (HR. Muslim, No. 1170)
Tentu saja tanda-tanda alam ini bukan sesuatu yang selalu mudah dikenali secara pasti. Ia lebih merupakan isyarat yang bisa kita renungkan, bukan kepastian yang bisa kita klaim dengan tegas.
Selain tanda-tanda yang tampak di alam, banyak ulama menekankan bahwa Lailatul Qadar sering kali justru terasa melalui pengalaman batin.
Hal ini tercermin dari surah Al-Qadr sendiri yang menyebutkan kata yang sangat indah sebagai penutup ayat yakni, salam yang berarti kedamaian. Bagi orang yang beruntung dapat berjumpa dengan malam ini, hatinya sering merasakan ketenangan yang berbeda dalam beribadah.
Para ulama selalu mengingatkan bahwa esensi Lailatul Qadar bukanlah pada kemampuan kita menebak kapan ia terjadi. Namun, kesungguhan kita dalam beribadah pada malam-malam terakhir Ramadan menjadi hal yang lebih penting dan agar dapat semakin ditingkatkan.
Dalam hadis riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah, Rasulullah saw. mengajarkan doa khusus kepada Aisyah ra. untuk dibaca sebagaimana terncantum dalam hadis berikut:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ :قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Aku berkata: “Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang sebaiknya aku baca?” Rasulullah saw. bersabda: “Bacalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuḥibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni. (HR. Tirmidzi, No. 3513; Ibnu Majah, No. 3850)
Adapun arti dari doa tersebut adalah “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan menyukai pengampunan, maka ampunilah aku.”
Doa ini terlihat sangat sederhana, namun dibalik itu ia mengajarkan bahwa yang paling kita butuhkan dari Allah bukan sekadar pahala semata, melainkan sebuah pengampunan.
Melihat begitu banyak keutamaan sepuluh malam terakhir Ramadan yang telah dijelaskan, ia seharusnya menjadi ruang kontemplasi bagi hati kita untuk semakin mendekatkan diri dan meraih rahmaNya di bulan yang mulii ini. Meskipun, bisa jadi, kita tidak pernah tahu persis kapan Lailatul Qadar datang, namun siapa pun yang terus berusaha untuk bertemu dengannya dengan terus meningkatkan ibadah, maka kesempatan untuk berjumpa pun tentunya juga semakin besar.