Angga Arifka Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di anggaarifka[dot]com

Merangkul Awal yang Baru dan Bentang Harapan untuk Tahun yang Baru

2 min read

Tahun baru
Kredit: Panuwat Dangsungnoen/Getty Images

Kedatangan tahun baru adalah peristiwa yang dirayakan rutinan di seluruh dunia, digembar-gemborkan dengan kegembiraan, resolusi, dan harapan kolektif untuk hari-hari yang lebih baik di masa depan. Ia melambangkan peluang untuk awal yang baru, kesempatan untuk meninggalkan yang lama dan menerima yang baru.

Dari sudut pandang Islam, tahun baru bukan sekadar pergantian kalender, melainkan merupakan waktu yang penuh dengan makna spiritual, menawarkan refleksi mendalam tentang harapan dan pembaruan diri. Dengan kata lain, tahun yang baru merupakan peristiwa penting yang menandai era baru bagi umat manusia, menandakan harapan dan tatapan atas masa depan.

Merangkul permulaan baru dalam Islam tidak terbatas pada perubahan tanggal, melainkan mencakup pada dimensi spiritual yang lebih dalam. Tahun baru bisa menjadi waktu untuk refleksi diri, pengembalian diri kepada Tuhan, dan mencari rahmat dan berkah untuk tahun yang akan datang. Umat Islam melakukan ibadah, doa, dan introspeksi, yang bertujuan untuk menyucikan hati mereka, memperbarui komitmen iman mereka, serta mengukuhkan harapan.

Hakikat harapan dalam Islam berakar pada keyakinan akan rahmat dan kemurahan Tuhan. Al-Qur’an penuh dengan ayat-ayat yang menawarkan dan mengajarkan harapan, dorongan, dan optimisme bagi orang-orang beriman.

Salah satu ayat dari surah al-Zumar [39]: 53 menyatakan, “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Hai hamba-hamba-Ku yang ang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”

Ayat tersebut mendemonstrasikan landasan harapan dalam Islam, mengingatkan orang-orang beriman bahwa betapa pun banyak kesalahan atau dosa di masa lalu, rahmat Tuhan tidaklah terbatas. Tuhan memberikan harapan, mendorong pertobatan, dan menginfuskan keyakinan akan awal yang baru.

Baca Juga  Kebangkitan Islam Identik dengan Perang?

Nabi Muhammad sendiri adalah perwujudan harapan, selalu membimbing umatnya untuk bertahan dalam menghadapi kesulitan dan tidak pernah kehilangan iman kepada rahmat Tuhan yang terbentang tak berbatas.

Harapan, dalam konteks Islam, bukanlah optimisme pasif, melainkan sebuah kekuatan aktif yang memotivasi orang-orang beriman untuk mencari pengampunan, memperbaiki diri, dan berjuang menuju kebenaran dan kebaikan yang lebih dari sebelumnya.

Wawasan dunia Islam menekankan pentingnya harapan sebagai katalisator perubahan positif. Hal ini mendorong umat Islam untuk menatap masa depan dengan penuh optimisme, percaya pada kebijaksanaan ilahi, dan mengambil langkah proaktif menuju perbaikan individual serta komunal.

Terlebih lagi, tahun baru juga dapat berfungsi sebagai pengingat akan sifat fana kehidupan duniawi ini. Tak ada yang abadi, tak ada yang tidak berganti. Hal ini mengingatkan orang-orang beriman untuk memprioritaskan perkembangan spiritual mereka dan berjuang untuk amal yang membawa nilai abadi di sisi Tuhan.

Meskipun menetapkan tujuan dan cita-cita duniawi untuk tahun baru adalah bukan hal yang tidak terpuji, Islam mengingatkan setiap orang untuk fokus pada tindakan yang bermanfaat, tidak hanya untuk kehidupan fana saat ini, melainkan juga untuk kehidupan kekal kelak.

Dalam menyambut tahun baru, umat Islam melakukan berbagai ibadah sunah, seperti salat, membaca ayat-ayat Al-Qur’an, bersedekah, dan dengan tulus memohon ampun kepada Tuhan. Tindakan-tindakan ini tidak terbatas pada waktu tertentu, melainkan malah diperkuat selama waktu baik ini, menginjeksikan pemugaran emosional, penyegaran mental, dan peremajaan spiritual.

Menjelang tahun baru, umat Islam dianjurkan untuk menyambutnya dengan rasa syukur atas berkah tahun lalu, apa pun tantangannya, dan dengan harapan untuk masa depan. Sekali lagi, harapan ini bukanlah optimisme buta, melainkan keyakinan yang mendalam terhadap rencana Tuhan, rahmat-Nya, dan keyakinan bahwa dengan keimanan yang teguh dan amal saleh, masa depan yang lebih cerah akan terbentang di depan.

Baca Juga  Merintis Jalan Kebaikan: Refleksi Keislaman dalam Partisipasi Pemilu 2024

Sekali lagi, tahun baru bagi seorang muslim semestinya berarti lebih dari sekedar perubahan kalender. Ini adalah waktu untuk refleksi spiritual, pembaruan, dan menyalakan kembali lilin harapan.

Harapan adalah api abadi yang menerangi jalan tergelap, menawarkan kompas batiniah dan keberanian di tengah ketidakpastian hidup. Harapan bagaikan sebuah mercusuar kesabaran, membimbing seseorang melewati kesulitan dan membuat hatinya tertambat pada bentang masa depan yang penuh kemungkinan yang lebih baik.

Pada hakikatnya, harapan adalah aksi iman yang mendalam, keyakinan yang tak tergoyahkan akan adanya kemungkinan perubahan positif meski tengah menghadapi keadaan yang sulit. Ia menginfuskan semangat, menanamkan kekuatan dan tekad untuk ajek bertahan dalam menghadapi angin tantangan, berbisik pada kita bahwa setiap kesulitan bersifat sementara dan bahwa cakrawala yang lebih cerah menunggu mereka yang menjaga teguh cahaya lilin harapannya.

Tahun baru dapat berfungsi sebagai pengingat terbentangnya rahmat Tuhan yang tak berbatas, dan juga memberikan pembelajaran kepada orang-orang beriman untuk memulai tahun baru dengan kebijaksanaan yang diperbarui dan ditingkatkan, optimisme, serta ancangan terhadap amal saleh dan kebajikan ke depannya.

Merangkul awal yang baru dalam Islam terjalin erat dengan harapan—sebuah mercusuar yang menerangi jalan menuju kehidupan yang lebih indah dan bermakna, baik di dunia maupun di akhirat.

Angga Arifka Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di anggaarifka[dot]com