Muhammad Naufal Hakim Santri YPP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Ampel.

Islam Nusantara dan Dialektika Antar Masyarakat

2 min read

Source; ferrykoto.com

Islam Nusantara adalah Islam Indonesia. Term Islam Nusantara menunjukan makna romantisme Islam masa lalu, dan menjadi satu bentuk diskursus yang dibangun oleh golongan Islam Kultural. Menurut Ma’ruf Amin, diskursus Islam Nusantara setidaknya wajib memiliki tiga pilar utama, yaitu gerakan, pemikiran, dan amaliah. Tentunya, ketiga pilar ini mengarah pada kemaslahatan. (Amin, 2018, hal. 2)

Dalam konteks perkembangan Islam di Indonesia, ditemui adanya sinkretisme antara ajaran agama Islam dengan tradisi yang ada. Lalu, sebagian umat beragama seringkali mengaitkan antara iman dengan amal shaleh. Sehingga pada tempo berikutnya, peleburan antara budaya dengan agama melahirkan satu bentuk tradisi baru yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan. (Pranowo, 1998, hal. 17)

Sebagai contoh, di Aceh ada tradisi meugang dalam rangka merayakan datangnya bulan Ramadhan dengan memasak daging sapi atau kerbau untuk keluarga, di Sumatera Barat terdapat tradisi tabuik yang dirayakan setiap tahunnya untuk memperingati wafatnya cucu nabi.

Sedangkan, di Yogyakarta dan Solo dengan tradisi sekaten untuk memperingati kelahiran nabi Muhammad Saw. Dengan demikian, kuat tidaknya sebuah akar budaya dapat menentukan dalam dan kuatnya ajaran agama di tengah masyarakat.

Meminjam istilah Mohamad Guntur Romli, pada zaman Wali Songo muncul suatu fenomena “Sistesis Mistik”, yaitu suatu pola berislam yang menjadikan budaya sebagai bentuk afirmasi dalam ajaran agama. Setelah Islam menyebar, munculah golongan Islam “Neo-sufisme”, suatu golongan yang berorientasi pada tegaknya Syari’at, dan pada masa berikutnya, golongan “Neo Sufisme” ini bakal mewakili kaum tradisionalis. (Romli, 2016, hal. 65-66)

Memasuki abad ke-20, sinkretisme antara agama dan budaya bukan hanya melahirkan tradisi baru, namun berkembang menjadi kelompok-kelompok umat Islam yang disatukan atas persaman dalam ajaran dan tradisi yang dilakukan, diantaranya adalah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Kedua organisasi tersebut dalam perkembangannya­­ seringkali mengalami perdebatan yang signifikan.

Baca Juga  COVID-19: Peran Penyair, Ilmuwan, dan Bisikan Data

Du­­­­­­lu, Muhammadiyah mengkritik bahwa metode pengajaran Nahdlatul Ulama kurang efektif, karena menggunakan metode hafalan, sorogan, dan terpusat di pesantren. Ternyata, pada periode berikutnya, Nahdlatul Ulama lebih banyak melahirkan ulama-ulama besar dengan pemahaman kitab kuning yang mendalam jika dibanding Muhammadiyah. Sedang, Muhammadiyah yang lebih mengandalkan sekolah umum, lebih banyak mencetak akademisi, yang dengan idenya dapat menawarkan problem solving bagi masyarakat.

Pebedaan interpretasi antara Nahdlatul Ulama dengan Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari setting historis dan kebudayaan dimana kedua organisasi tersebut dilahirkan. Masyarakat Nahdlatul Ulama yang mayoritas berasal dari desa, mereka cenderung akan memegang tradisi lama yang telah ada. Berbeda dengan masyarakat Muhammadiyah yang mayoritas berasal dari kota, mereka akan cenderung untuk mengikuti perkembangan yang ada, dan perlahan meninggalkan tradisi lama yang dianggap kurang relevan dengan perkembangan zaman. (Pranowo, 1998, hal. 20-21)

Jika dicermati, maka hari ini, baik Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah keduanya justru saling melengkapi. Misalnya dalam pendidikan, keduanya sama-sama berlomba untuk menginterkoneksikan antara ilmu agama dan ilmu umum. Artinya, dialektika dari Islam kultural di Indonesia pada tahapan selanjutnya mampu melahirkan paradigma baru untuk tercapainya budaya masyarakat Islam yang kosmopolitan.

Pada tataran nilai-nilai keindonesiaan, masyarakat Islam Nusantara, meskipun sedikit banyak terdapat perbedaan antara satu dengan yang lain, namun mereka disatukan oleh pandangan yang sama tentang pentingnya menjaga keutuhan bangsa. Esensi dari berislam adalah bertauhid. Maka diantara wujud dari bertauhid tentu menyebarkan kasih sayang dan berusaha dengan teguh untuk mencapai keadilan sosial, bukan hanya untuk umat Islam, namun untuk seluruh umat manusia.

Perbedaan itu suatu keniscayaan, tinggal bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut. Seyogianya, masyarakat Islam di Indonesia tidak lagi hanya berkutat pada persoalan yang bersifat furu’iyah. Namun harus brpikir lebih maju dengan membentuk wadah-wadah untuk berdialektika, agar ditemukan satu titik temu—sintesis—yang mendamaikan. Karena, dialektika yang terjadi antar masyarakat Islam Nusantara itu berkah, dan bermuara pada tatanan kehidupan umat Islam yang lebih baik.

Baca Juga  Membumi Saat Pandemi: Menengok kembali Fikih Kebencanaan Muhammadiyah [Part 1]

Meminjam istilah Nurcholis Majid, Islam kosmopolitan bukan lagi wacana belaka. Islam dengan pengetahuan yang luas, akan benar-benar mengakar ditengah masyarakat kita jika dialektika yang sehat menjadi satu kultur dalam kehidupan umat Islam di Indonesia (Majid, 1998, hal. 347-350).

Akhirnya, relasi dialogis yang terbentuk antara nilai-nilai kebudayaan, nilai-nilai keislaman, dan nilai-nilai keindonesiaan, akan menjadi sebuah sarana yang mampu membawa Islam menjadi mercusuar peradaban. Wallahu a’lam… [AA]

Muhammad Naufal Hakim
Muhammad Naufal Hakim Santri YPP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Ampel.