Angga Arifka Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di anggaarifka[dot]com

Metafisika al-Farabi dan Teori Emanasi

3 min read

Bagaimana mungkin yang banyak di alam raya ini muncul dari Yang Satu, yaitu Tuhan? Karena ada diktum filosofis, “Dari yang satu hanya bisa muncul satu.” Adalah al-Farabi, filsuf muslim yang hidup pada abad 9-10 M dan memiliki gelar Guru Kedua (al-Mu‘allim al-Tsani), yang telah menguraikan masalah runyam tersebut.

Abu Nasr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzalagh al-Farabi lahir di Wasij, tidak jauh dari Farab di Tansoxiana pada tahun 872, sekitar setahun sebelum al-Kindi meninggal di Baghdad. Hanya beberapa detail tentang hidupnya yang diketahui. Dia berasal dari keluarga bangsawan (Nasr & Leaman, 1996).

Dia pergi ke Baghdad untuk mendapatkan pendidikannya ketika masih muda, dan dia belajar pada seorang pemikir Kristen, Yuhanna bin Haylam, dan pada Abu Bishr Matta. Di sana, ia tertarik mempelajari sains, matematika, logika, musik, tata bahasa, dan filsafat.

Al-Farabi hidup sangat sederhana, dan dia selalu menjauhkan diri dari hal-hal duniawi, seperti yang dilakukan banyak sufi. Selain itu, ia sering mengenakan pakaian yang menunjukkan kesederhanaanya. Hidupnya pada dasarnya kontemplatif dan penuh religiositas.

Al-Farabi menulis banyak karya tentang pelbagai subjek, tetapi rasa ingin tahunya tentang filsafat didedikasikan untuk mempelajari metafisika. Bagi al-Farabi, filsafat ialah ilmu yang menyelidiki hakikat semua entitas, termasuk mengungkap tabir metafisik alam raya (Fakhry, 1997).

Dikatakan bahwa al-Farabi merasa kecewa dengan karya Metaphysics Aristoteles karena karya tersebut tidak banyak membahas tentang Tuhan. Oleh karena itu, al-Farabi berusaha mencari detail untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Saat mempelajari Plotinus, dia menemukan jawaban yang telah dicari selama itu.

Penyelidikan Metafisika

Al-Farabi dalam risalahnya tentang politik menegaskan bahwa upaya pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui keberadaan pencipta alam semesta. Dengan cara mengamati dan merenungkan semua entitas, seseorang harus bertanya apakah semua entitas memiliki penyebabnya. Dengan induksi, orang akan tahu bahwa ada penyebab untuk segala sesuatu.

Baca Juga  Festival HAM 2021: Sebuah Ikhtiyar Untuk Memajukan HAM di Indonesia

Selanjutnya, al-Farabi menyarankan kita untuk memeriksa penyebab yang dekat dan mempertanyakan apakah urutan penyebab akan berlanjut tanpa akhir atau tidak. Menurut al-Farabi, tidak mungkin penyebab tidak terbatas karena yang tidak terbatas tidak dapat diketahui.

Jadi, penyebab tersebut pasti ada ujungnya, dan satu-satunya penyebab dari seluruh penyebab adalah Yang Esa (al-Wahid), sebagai Satu-satunya Penyebab yang esensinya sederhana dan tak terpisahkan. Di sini, al-Farabi, sebagaimana Aristoteles, mengidentifikasi Tuhan sebagai Penggerak Yang Tak Tergerak (the Unmoved Mover).

Dengan demikian, Tuhan adalah Wujud Pertama atau Penyebab Pertama dari semua sebab-sebab. Menurut pandangan al-Farabi, Wujud Pertama haruslah yang paling sempurna, bebas dari kekurangan, bebas dari materi dan tanpa bentuk, karena wujud hanya dapat ada dalam materi, sehingga tidak ada yang mendahului dan melebihi-Nya. Wujud Pertama adalah abadi, tidak memiliki kekurangan, kontingensi, dan potensi (Fakhry, 2002).

Dialah yang mandiri, sehingga tak mungkin ada yang bersekutu dengan-Nya. Sebagai yang imaterial, Dia seperti intelek yang selalu berpikir. Sebagai intelek, Dialah yang ada dalam pikiran-Nya sendiri. Dengan kata lain, karena Wujud Pertama bukanlah materi, juga tidak memiliki substrat material, Dia pasti merupakan intelek dalam tindakan. Sebagai intelek dalam bertindak, pertanyaan yang mesti diajukan, “Siapa atau apa yang dipikirkan oleh-Nya?”

Al-Farabi menjawab, “Apa yang dipikirkannya adalah diri-Nya sendiri.” Sebenarnya, Wujud Pertama adalah subjek, tindakan, dan objek inteleknya sendiri, atau pikiran yang berpikir pikiran (al-aql, al-aqil, al-ma‘qul).

Hal ini dielaborasi oleh al-Farabi dari Aristoteles. Namun, tidak berhenti pada pemikiran Aristoteles, ia melanjutkan untuk menjelaskannya lebih lanjut, khususnya untuk menjawab pertanyaan besar, “Bagaimana yang banyak muncul dari Yang Esa?”

Yang Banyak Muncul melalui Emanasi

Baca Juga  Sinar Kedamaian dari Desa Pegirian

Efek “pikiran yang berpikir pikiran” menghasilkan proses emanasi. Aktivitas berpikir adalah penyebab munculnya yang banyak. Teori emanasi yang dikemukakan oleh al-Farabi diambil dari konsep Neoplatonisme yang menegaskan bahwa alam semesta berasal dari emanasi Yang Esa (Nasr & Leaman, 1996).

Masalah utama yang mendorong lahirnya teori emanasi adalah bagaimana dari Yang Esa muncul berbagai entitas di alam semesta. Padahal di sisi lain ada diktum filosofis: “Dari yang satu hanya bisa muncul satu.”

Pada mulanya hanya ada Yang Esa, tidak ada yang lain selain Yang Esa, dan kemudian ada emanasi ilahi yang darinya proses penciptaan dimulai: mulai dari Yang Esa, Yang Mahatinggi, hingga makhluk imaterial di bawahnya, hingga yang paling rendah, makhluk yang merupakan bagian material dari dunia (Fakhry, 2002).

Menurut teori emanasi, Yang Pertama memikirkan dirinya sendiri, sehingga secara otomatis terpancar intelek pertama (al-aql al-awwal) sebagai hasil pemikiran-Nya. Menurut Hadis Qudsi, Allah berfirman, “Yang pertama Aku ciptakan adalah akal (pertama)” (Nasr & Leaman, 1996).

Pada gilirannya, akal pertama, sebagai makhluk kedua yang inkorporeal dan imaterial, memikirkan Yang Pertama dan kemudian memunculkan akal kedua, sedangkan ketika memikirkan dirinya sendiri, akal pertama memunculkan langit pertama.

Akal kedua ketika memikirkan Yang Pertama memunculkan akal ketiga, sedangkan ketika memikirkan dirinya sendiri, ia memunculkan langit kedua. Proses hierarkis ini terus diikuti oleh akal keempat, kelima, hingga kesepuluh, dengan bidang yang sesuai dari bintang-bintang tetap: Saturnus, Jupiter, Mars, matahari, Venus, Merkurius, dan bulan masing-masing.

Penciptaan alam semesta, menurut konsep emanasi, berarti bahwa ia tidak diciptakan melalui kehendak-Nya, tetapi semata-mata karena keniscayaan logis. Namun, rangkaian akal yang beremanasi itu berhenti pada akal kesepuluh, dan ketika ia memikirkan dirinya sendiri, ia memunculkan bumi (al-ard) beserta kehidupan di dalamnya.

Baca Juga  Psikologi dan Islam, Apakah Bertentangan?

Akal kesepuluh adalah yang terendah di tingkat keberadaan di alam imaterial. Penting dicatat bahwa kontras dengan tahap-tahap sebelumnya, bumi tidak lagi murni imaterial, tetapi telah menjadi gabungan dari elemen imaterial (al-aql) dan material. Dengan kata lain, semua entitas yang ada di bumi merupakan gabungan dari materi (maddah) dan bentuk (surah). Sebagai ilustrasi yang jelas, manusia adalah gabungan dari badan material dan akal atau jiwa imaterial.

Sebuah pertanyaan besar dapat muncul untuk mengganggu diskusi kita, “Mengapa proses emanasi berhenti pada akal kesepuluh?” Jawabannya tidak terlalu rumit. Hal ini hanya terkait dengan perkembangan astronomi pada era filsuf muslim saat itu yang diwarnai oleh pandangan Ptolemaeus. Dalam astronomi Ptolemian, planet-planet diyakini berjumlah sepuluh. Karena sepuluh planet, akal dibatasi menjadi sepuluh (Bagir, 2005).

Satu hal penting mengapa al-Farabi disebut guru kedua setelah Aristoteles sebagai yang pertama adalah karena menurut para sarjana ia merupakan filsuf pertama dalam Islam. Sebelum dirinya, memang al-Kindi telah membuka gerbang filsafat Yunani bagi dunia Islam, tetapi al-Kindi tidak menciptakan sistem filsafat secara khusus. Berbeda dengan al-Kindi, al-Farabi sepenuhnya menarasikan sistem filosofis bagi dunia Islam sebagaimana Plotinus bagi dunia Barat.[]

Angga Arifka Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di anggaarifka[dot]com