Abby Janu Ramadhan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel; Driver Grab; Suka Menggambar.

Ilmu Catur Murti: Belajar dari Sosrokartono Bagaimana Melawan Covid-19

2 min read

sumber: www.catherineplano.com.au/

Raden Mas Panji Sosrokartono lahir 10 April 1877 di sebuah daerah bernama Mayong, sebelah selatan kota Jepara. Sosrokartono lahir dari pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah (Pramoedya, 1997). Sosrokartono merupakan kakak kandung dari wanita legendaris yang menjadi inspirasi banyak perempuan di Indonesia, yakni Raden Ajeng Kartini. Sosrokartono awalnya memiliki nama Raden Mas Sosrokartono, tapi setelah lulus sarjana dan mendapat gelar Doktorandus dari Universitas Leiden Belanda ia mengubahnya menjadi Raden Mas Panji.

Sosrokartono sangat beruntung karena lahir sebagai seorang bangsawan dan memiliki status sosial yang tinggi. Hal itu membuatnya bisa menempuh pendidikan di sekolah khusus yang diperuntukkan bagi anak-anak Belanda dan keturunan campuran Indo-Belanda. Sosrokartono memiliki minat yang sangat tinggi terhadap ilmu pengetahuan, karena ia ingat pesan ayahnya bahwa “tanpa pengetahuan kalian kelak tidak akan merasa bahagia dan dinasti kita akan makin mundur” (Siti Soemandari, 1976).

Tahun 1885, Sosrokartono sekolah di ELS yang hanya diperuntukkan bagi keturunan Belanda dan Indo-Belanda. Kemudian ia melanjutkan studi di Hogere Burger School (HBS) yang pada saat itu hanya ada di 3 kota: Batavia, Semarang dan Surabaya. Setelah lulus pada tahun 1897, ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Polytechnische School Delft jurusan pengairan di Belanda. Namun tidak bertahan lama, karena ia merasa tidak cocok dengan jurusan ini, Sosrokartono memutuskan untuk pindah ke Universitas Leiden di Jurusan Sastra dan Filsafat.

Pada 8 Maret 1901, Sosrokartono lulus menjadi sarjana muda jurusan kesusastraan Indonesia. Tujuh tahun kemudian Sosrokartono lulus menempuh ujian doktoral bahasa ketimuran dan memulai karirnya di Eropa. Ia menjadi salah satu penerjemah bahasa di Persekutuan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebelumnya ia juga pernah menjadi seorang wartawan pada masa Perang Dunia I dan mendapatkan gelar “Wartawan Agung Bangsa Indonesia” karena kiprahnya yang gemilang di bidang jurnalistik internasional.

Baca Juga  Perempuan dalam Lingkar Ekstremisme: Kisah Deportan ISIS

Sebagai keturunan Bangsawan Jawa, Sosrokartono tentu memiliki tingkat spiritualitas yang tinggi. Laku dan karakternya menjunjung tinggi nilai budayanya, yakni kebudayaan Jawa. Nilai budaya inilah yang membentuk pola pikir dan perilakunya, sehingga terus berpegang teguh pada falsafah kejawen. Seperti yang ia katakan,“Ingkang dados palanipun lampah koelo inggih naming poeniko Jawi beres, Jawi deles, Jawi sejati” (yang menjadi pola perilaku saya hanyalah Jawa jujur, Jawa asli dan Jawa sejati). (Hadi Priyanto, 2013).

Sosrokartono juga memberikan beberapa konsep moralitas yang sangat luhur dan relevan untuk diimplementasikan pada zaman sekarang. Konsep ini disebut Ilmu Catur Murti, sebuah falsafah hidup yang ia gunakan sebagai pegangan untuk menjalankan tujuan hidupnya sebagai seorang hamba. Catur Murti secara bahasa berasal dari bahasa Sansekerta:catur artinya “empat” dan murti berarti “penjelmaan”. Secara istilah Ilmu Catur Murti bermakna empat hal yang dijelmakan menjadi satu (Aksan, 1985).

Ilmu Catur Murti adalah bersatunya empat gejala jiwa utama, yakni pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan. Penyatuan dari keempat hal tersebut berlandaskan pada kebenaran yang kemudian akan menghasilkan pikiran yang benar, perkataan yang benar, perasaan yang benar dan perbuatan yang benar. Ilmu Catur Murti tentu akan sangat cocok diimplementasikan pada masa sekarang, di mana kebenaran semakin sulit ditemukan karena seringkali bercampur dengan berbagai macam hoax yang muncul.

Pada era medsos dan dunia-maya seperti sekarang, hampir semua hal tampak benar. Modernitas membuat informasi sangat mudah didapat dan dibuat. Di dunia maya, kebenaran bisa dibuat siapa saja. Kebenaran bisa diatur seperti apa saja. Kebenaran seakan sudah tidak ada harga dirinya lagi. Seperti pepatah Jawa, bener neng ora pener.

Pegangan hidup Sosrokartono di atas dimulai dengan pikiran yang benar, karena pikiran yang benar sangat berperan dalam menjaga perasaan, perkataan maupun perbuatan. Pikiran yang benar mampu menjaga perjalanan hidup agar tetap berada di jalan yang lurus, jalan kebenaran. Lebih-lebih pada saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, dimana banyak tindakan-tindakan kurang benar muncul, kita memerlukan perilaku dan implementasi konsep Ilmu Catur Murti untuk menumbuhkan aksi-aksi kebaikan, semisal penggalangan donasi.

Baca Juga  Mengenal Kebahagiaan ala Imam al-Ghazali (2): Sifat Hewan sebagai Partikel Kebahagiaan

Penerapan lain dari ajaran ini adalah dengan cara mematuhi segala himbauan yang telah dikeluarkan pemerintah, semisal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penularan Covid-29. Saya yakin, konsep Ilmu Catur Murti bisa memberikan pencerahan dan arahan kepada masyarakat dalam upaya melawan pandemi. [AS]

Abby Janu Ramadhan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel; Driver Grab; Suka Menggambar.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *