Wardatun Nadhiroh Dosen Tafsir sekaligus Penggiat Rumah Jurnal UIN Antasari Banjarmasin

Tafsir Q.S. Yusuf [12]: 3-9: Favoritisme dan Sibling Rivalry dalam Alquran

3 min read

https://ignitegki.com/storage/post_thumbnail/201908/Cover.jpg.jpg

Favoritisme merupakan suatu hal yang lumrah terjadi dalam sebuah keluarga, dimana orang tua mencurahkan kasih sayang lebih dan mengutamakan seorang anak dibanding anak-anaknya yang lain. Pada masyarakat dimana saya tinggal, umumnya anak bungsulah yang menjadi kesayangan orang tua, apalagi jika ditambah dengan nilai plus dimilikinya, jadilah si bungsu kesayangan dan kebanggaan orang tua.

Lalu apa yang tersisa untuk si sulung dan si tengah? Pada akhirnya, sikap favoritisme orang tua ini akan menyebabkan munculnya sibling rivalry (persaingan antar saudara) karena secara naluriah, sebagaimana dinyatakan Sigmund Freud, setiap anak menginginkan kepemilikan ekslusif kasih sayang orang tua untuk dirinya sendiri.

Jauh sebelum Freud dan para psikolog memperdebatkan isu ini, Alquran telah menjelaskan dua konsep di atas melalui tuturan kisah Yusuf dan saudara-saudaranya yang terekam dalam satu surah utuh menggunakan nama sang Nabi, yaitu Q.S. Yusuf (12). Disebut-sebut sebagai ahsan al-Qashash (Sebaik-baik kisah), surah ini tidak hanya mengandung pembelajaran khusus untuk Nabi Muhammad (Q.S. Yusuf: 3), namun juga mengandung pengajaran yang indah tentang human nature (Q.S. Yusuf: 7).

Kisah ini dibuka dengan percakapan Yusuf dengan ayahnya terkait mimpi yang didapatkannya. Ibn Katsir menjelaskan nama ayah Yusuf adalah Ya’qub ibn Ishaq ibn Ibrahim. Jadi jelas bahwa Yusuf memiliki garis keturunan langsung nabi sekaligus rasul Allah.

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

Disebutkan bahwa Yusuf bermimpi melihat 11 bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Para Mufassir sebagaimana dikutip Ibn Katsir menjelaskan yang dimaksud bintang adalah saudara-saudara Yusuf, sementara matahari dan bulan sebagai ayah ibunya.

Adapun maksud bersujud dalam ayat ini menunjukkan ketundukan dan kepatuhan diiringi penghormatan dikarenakan kedudukannya yang tinggi. Ayat ini dapat menjadi klaim bahwa Yusuf tidak hanya akan menjadi nabi seperti ayahnya, namun juga tokoh besar yang pencapaiannya akan membuat keluarganya menghormatinya.

Baca Juga  Hizbut Tahrir bukan Azhari

Ayat selanjutnya yang merupakan respon Ya’qub menjadi menarik karena, meskipun sebagai seorang Nabi, Ya’qub memperlihatkan sifat protektif sekaligus favoritisme seorang ayah kepada anak kesayangannya di antara anak-anak lainnya. Al-Zamakhsyari mencatat bahwa Ya’qub memiliki 10 putra dari pernikahan sebelumnya, sebelum akhirnya menikahi ibunya Binyamin dan Yusuf lalu lahirlah keduanya sebagai putra bungsu Ya’qub.

قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ 

Dalam ayat ini, Ya’qub melarang Yusuf menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya karena dikhawatirkan mereka akan membuat rencana jahat untuk Yusuf. Di satu sisi, tindakan ini merupakan langkah bijaksana seorang ayah guna menghindari kecemburuan anak lainnya, namun di sisi lain perbuatan sang ayah memilih sikap diam ini cukup mengherankan mengingat mimpi tersebut merupakan titik awal karir Yusuf sebagai Nabi (Q.S. Yusuf: 6) yang seharusnya mendapat pengakuan dari sekitarnya.

Nampak favoritisme Ya’qub lebih memilih menutupi hal tersebut. Seandainya Ya’qub sebagai kepala keluarga berbincang secara terbuka dan memberikan pemahaman yang baik kepada anak-anaknya terkait mimpi ini dan sikapnya pada Yusuf, mungkin saja muslihat anak-anaknya terhadap Yusuf tidak terjadi dan rasa persaingan yang timbul antar anak dapat dihindari. Terlebih dalam ayat di atas, Ya’qub nampak yakin bahwa anak-anaknya akan berkolaborasi membuat rencana melawan Yusuf.

Selanjutnya, scene berganti dengan percakapan saudara-saudara Yusuf mengeluhkan sikap favoritisasi sang ayah terhadap Yusuf dan saudara seibunya, Binyamin.

إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (8) اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ

Para saudara Yusuf menggerutu bahwa ayah mereka lebih mengutamakan dan menyayangi Yusuf dan Binyamin ketimbang mereka yang banyak dan menganggap sikap ayah mereka tersebut sungguh salah. Ketidakpuasan tersebut membawa pada sebuah rencana menyingkirkan Yusuf dari hadapan ayahnya, entah dengan membunuh atau membuangnya ke suatu tempat.

Baca Juga  Apakah Benar jika Istri Menolak Melayani Suami itu Durhaka?

Dalam pikiran mereka, jika Yusuf tiada, perhatian dan kasih sayang sang ayah akan tercurah sepenuhnya untuk mereka. Setelah rencana dan harapan mereka terlaksana, barulah mereka akan bertaubat. Keinginan saudara-saudara Yusuf ini merupakan manifestasi dari sibling rivalry.

Meski kebanyakan mufasir menjelaskan fokus ayat ini sebagai bentuk iri hati dan kecemburuan saudara-saudara Yusuf, namun bagi saya, konflik saudara lebih dipicu oleh sikap favoritisme sang ayah kepada dua anak termudanya itu. Yang membingungkan adalah meski dia sudah memiliki 10 anak sebelumnya, mengapa sikap favoritisme Ya’qub ini muncul justru kepada kedua putra termudanya itu? Mengapa seorang Ya’qub yang juga merupakan nabi memperlihatkan sikap favoritisme ini padahal dia tentu mengetahui betul sifat anak-anaknya yang lebih tua?

Favoritisme Ya’qub terhadap Yusuf sebenarnya merupakan hal manusiawi yang biasa terjadi pada orang tua terhadap anaknya yang menunjukkan sifat mulia, karakteristik terpuji dan nilai plus lainnya sedari kecil. Seperti Yusuf yang diceritakan tumbuh sebagai pemuda yang cerdas, bijaksana, dan tampan tentunya membuat sang ayah bangga ketimbang saudara-saudaranya yang lain yang mudah frustasi, cepat mengambil kesimpulan, dan emosional karena diliputi rasa iri. Yusuf sendiri tidak bermaksud berkompetisi dengan saudara-saudaranya untuk mendapatkan perhatian orang tuanya tersebut.

Sibling rivalry merupakan emosi dan kelemahan bawaan manusia, khususnya ketika melibatkan persaingan untuk mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan persetujuan orang tua. Menjadi anak sulung dari 3 bersaudara misalnya, ada masa-masa ketika saya merasa marah karena adik bungsu saya mendapatkan sesuatu yang saya pribadi harus berusaha sendiri untuk mendapatkannya, atau ketika dia mengajak ibu dan ayah makan dan berbelanja di mall tanpa mengajak saya dan si tengah. Perasaan iri itu nyata dan sering kali menjadi awal pertengkaran saudara.

Baca Juga  [Review Film] On Friday Noon: Agama, Seksualitas, dan Waria

Dalam kisah Yusuf di atas, perasaan sibling rivalry itu membawa pada bahaya yang tidak bisa disepelekan, sebuah kejahatan terencana menghilangkan nyawa seseorang. Dalam banyak kasus di lapangan, betapa banyak konflik antar saudara berawal dari rasa iri dan sibling rivalry berujung pada kematian salah satu saudara.

Oleh karena itu, beberapa pelajaran yang dapat diambil dari kelompok ayat Q.S. Yusuf (12: 3-9) ini adalah (1) Orang tua harus berhati-hati dalam mengekspresikan kasih sayang mereka terhadap anak-anaknya, termasuk menghindari berlaku favoritism, agar tidak timbul rasa cemburu dan iri antar saudara di hati mereka, (2) Iri merupakan emosi yang sangat destruktif karena mampu memutus bahkan ikatan keluarga sekalipun. (HM)

Wardatun Nadhiroh Dosen Tafsir sekaligus Penggiat Rumah Jurnal UIN Antasari Banjarmasin

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *