Saiful Mustofa Penulis buku “Media Online Radikal dan Matinya Rasionalitas Komunikatif” (2019) dan editor di Penerbit Akademia Pustaka

Menyongsong Idul Fitri di Tengah Pandemi

2 min read

Foto: naralhob.com
Foto: naralhob.com

Kurang lebih dua bulan semenjak Presiden Jokowi mengumumkan pasien pertama Covid-19 pada 2 Maret 2020, masyarakat Indonesia khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya mengalami kondisi 180 derajat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Lalu lalang dan hiruk-pikuk masyarakat yang biasanya tak kenal waktu berubah drastis menjadi semacam kecemasan dan ketakutan. Semuanya mengekspos berita secara besar-besaran tentang malapetaka, dan membuat semua orang yang menyebut dirinya modern itu panik tiada tara.

Hampir semua tatanan kehidupan “dipaksa” beradaptasi dengan situasi dan kondisi pandemi. Mereka yang bekerja di ruang publik dihimbau untuk bekerja dari rumah (work from home). Masyarakat juga dihimbau untuk sementara waktu tidak “bergumul” di tempat ibadah atau sektor publik lainnya. Begitu juga anak-anak sekolah; menikmati libur panjang yang lambat laun mulai sangat menjemukan. Praktis, selama dua bulan terakhir sampai bulan suci Ramadan kali ini, kita dihadapkan dengan kondisi yang masih sama: berada di tengah kekhawatiran dan ancaman.

Saya jadi ingat pada saat awal-awal pandemi. Saban sore setelah jam kerja usai, kami tak pernah berhenti mengikuti update perkembangan virus. Diskusi dari berbagai perspektif pun hampir tak pernah absen. Mulai dari sudut pandang sains, agama sampai (teori) konspirasi. Kami mendadak seperti virolog atau pakar virus.

Namun dari serentetan perbincangan itu muaranya tetap sama: kecemasan. Ya, kami yang acapkali disebut sebagai akademisi itu, malah menjadi kaum yang mungkin pertama kali mengalami paranoid. Menaruh curiga terhadap sesama karena ia bersin atau batuk, dan canggung saat ada kolega mengajak jabat tangan. Seorang teman berseloroh, “Kita tiba pada masa kentut dianggap lebih sopan ketimbang bersin atau batuk.” Semua itu karena kami terlalu overdosis mengonsumsi berita dan wacana.

Baca Juga  Presiden Oleng di Persimpangan Jalan Otoriter, Oligarki dan Negara Hukum-Indonesia (1)

Kini bulan Ramadan sudah memasuki minggu terakhir. Itu tandanya tak lama lagi kita bakal menemui hari kemenangan Idul Fitri. Lantas apa yang harus kita persiapkan dalam menyongsong hari kemenangan umat Islam seluruh dunia itu?

Presiden menghimbau agar kita berdamai dengan Covid-19 atau beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang ia sebut dengan “new normal”. Sebuah era baru yang mengubah seluruh tatanan kehidupan yang sudah mapan. Apakah itu tandanya virus ini akan segera usai? Tentu terlalu dini dan bukan wewenang saya untuk menjawab itu. Hanya saja, jika melihat situasi terkini, kecil kemungkinan pandemi ini akan usai bertepatan dengan Idul Fitri.

Sebagai orang nomor wahid di Indonesia, presiden mungkin paham bahwa masyarakat sudah mulai jengah dengan kondisi seperti sekarang ini. Itu terbukti dengan munculnya relaksasi atau pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang cukup membingungkan itu. Alasannya, tentu bukan semata agar roda ekonomi kembali berputar, akan tetapi juga karena PSBB ternyata tidak mampu meredam seratus persen laju persebaran virus. Ini tentu belum termasuk perdebatan tentang bedanya “mudik” dengan “pulang kampung.” Faktanya, jauh sebelum pemerintah melarang mudik, sudah ribuan orang lebih dulu pulang kampung. Maka satu-satunya hal yang mungkin dilakukan untuk saat ini adalah menerima kondisi sambil tetap menjaga diri.

Di desa-desa pemerintah sudah mulai menghimbau untuk tidak melaksanakan tradisi silaturahim kepada tentangga. Bahkan yang ekstrem, mereka menyarankan untuk menutup pintu rumah agar tak ada tamu yang datang. Tujuannya hanya satu: memutus mata rantai penularan virus. Namun tampaknya himbauan itu tak bakal berpengaruh sepenuhnya. Seperti himbauan dilarang mudik sebelumnya. Bukan karena masyarakat tak takut dengan Corona, melainkan karena Idul Fitri adalah hari kemenangan bagi mereka yang sudah menjalankan puasa sebulan penuh lamanya. Menang dari hawa nafsu dan menang dari virus lain bernama kecemasan itu. Sama seperti kata Bapak Kedokteran Modern Ibn Sina: “Kepanikan adalah separuh penyakit. Ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan.”

Baca Juga  Menggali Inspirasi, Mentransformasi Pemikiran Para Tokoh Muslim (1)

Melihat kondisi semacam itu, saya jadi ingat pernyataan dr. Ade Hasman (2019) tentang hormon endorfin (kebahagiaan). Ia adalah seorang anesthesiologist (dokter bius) yang menulis sosok Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dari sudut pandang ilmu kesehatan. Ia mungkin satu di antara sebagian dokter yang berani “meloncat keluar pagar ilmu kedokteran modern” karena menulis sesuatu yang mungkin dianggap bidah dari koridor ilmu ilmiah medis. Tujuannya cuma satu: membuktikan bahwa ada kemungkinan lain di luar pakem ilmu kedokteran modern.

Menurutnya, orang-orang sehat dipercaya memeroleh kebugaran dan umur panjang karena pengaruh endorfin dalam dirinya. Mereka mempunyai ambang stres yang tinggi, jauh di atas rata-rata sehingga lebih kuat menjalani hidup. Kajian-kajian tentang centenarian (orang-orang yang hidup lebih dari seratus tahun) juga menunjukkan ciri yang sama: tingginya kadar high-density lipoprotein (kolesterol baik) dalam kimia darah mereka.

Kurangi mengonsumsi berita maupun wacana tentang Corona. Karena sesungguhnya kecemasan maupun kepanikan bermula dari situ. Kalau perlu kita patut mencoba saran dari Afrizal Malna: “membersihkan pikiran dari kata-kata.” Alias sebuah ikhtiar untuk mengembalikan akal sehat manusia. Sebuah upaya untuk kembali kepada “yang jernih” tanpa dibelenggu oleh jerat pengertian, tafsir maupun asumsi di luar diri.

Dengan demikian, sambil menjalankan sisa ibadah puasa ini dan menyambut Idul Fitri, kita bisa merenungi bahwa sesungguhnya kita bukan apa-apa. Kemudian coba menjadi siapa, dan dengan hasrat yang menggebu coba menjadi “manusia seutuhnya.” Belakangan kita sadar, bahwa untuk menjadi “manusia seutuhnya” caranya cuma satu: membenamkan diri dalam kesadaran bahwa kita ternyata bukan (si)apa-(si)apa. [MZ]

Saiful Mustofa Penulis buku “Media Online Radikal dan Matinya Rasionalitas Komunikatif” (2019) dan editor di Penerbit Akademia Pustaka

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *