Atun Wardatun Dosen Fakultas Syari’ah UIN Mataram; Direktur Yayasan LA RIMPU (Sekolah Rintisan Perempuan Untuk Perubahan)

Tips Menghindari Masalah dari Rukun Islam (2)

2 min read

Sebelumnya: Meneladani Nilai Rukun… (1)

Rukun Islam yang pertama adalah mengucapkan kalimat syahadat. Kalimat ini berisi ikrar seseorang bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusanNya. Dengan ikrar ini orang dianggap menjadi Muslim. Syadahat adalah pengakuan akan adanya Allah sebagai satu-satunya dzat yang disembah dan Rasul adalah manusia terpilih.

Nilai pengakuan inilah yang ingin diambil. Dalam relasi suami dan istri atau juga terhadap anak, kita perlu mengakui secara verbal bahwa pasangan adalah satu-satunya orang yang dicintai dan telah kita pilih menjadi pendamping hidup. Pengakuan ini perlu dilakukan berulang-ulang. Fungsinya untuk terus mengingatkan diri. Juga menyatakan betapa berharganya pasangan kita.

Pengakuan inilah yang seringkali kurang ada pada pasangan. Apalagi jika kehidupan bersuami-istri sudah sekian lama. Seakan-akan rasa saling memiliki sudah taken for granted, dianggap biasa, dan tidak perlu diikrarkan. Ikrar ini adalah cara untuk terus memperbaharui ikatan perjanjian yang dulu pernah diikrarkan lewat ijab qabul. Siapakah yang harus melakukan? Ya kedua pasangan.

Rukun Islam yang kedua adalah sholat. Sholat harus dilakukan dalam jumlah rakaat tertentu dan dalam waktu yang sudah dibatasi. Ukuran yang sesuai kadar inilah yang diambil dari nilai sholat. Berkomunikasi, memuji, mengkritik harus dilakukan dalam kadar yang proporsional. Tidak lebih sehingga terkesan ribut dan reseh. Tidak kurang sehingga terkesan tidak punya waktu dan tidak perhatian.

Dalam kehidupan berpasangan, memuji dan mengkritik perlu juga memilih waktu yang tepat. Perhatikan kondisi, mood, cara, dan konteks. Sehingga pesan yang disampaikan akan produktif dan sebisa mungkin tidak terlalu mengangkat atau merendahkan pihak yang lain.

Rukun Islam yang ketiga adalah puasa. Puasa adalah ibadah yang sangat personal. Hanya seorang hamba dan Tuhan yang mengetahui ibadah ini benar-benar dilakukan atau tidak. Untuk mendapatkan pahala puasa, maka seseorang perlu menjaga dirinya dari melakukan hal yang membatalkan benar-benar dihadapan Allah sebagai saksinya. Intinya perlu menahan diri ada atau tidak ada orang yang menyaksikan.

Baca Juga  Antara Ustaz Sungguhan dan Ustaz Gadungan

Nilai menahan diri inilah yang perlu diambil. Masalah di dalam keluarga sering muncul karena ketidakmampuan salah seorang pasangan untuk menahan, menjaga diri dari perbuuatan yang melampaui batas hanya karna jauh dari kesaksian pasangan atau orang lain. Kesaksian Allah tidak menjadi perhitungan. Banyak gurauan yang dilontarkan tentang ini. “boleh selingkuh asal tidak ketahuan.” “Isinya boleh dibuang di luar rumah, yang penting botolnya kembali.” Nilai menahan diri karena Allah semata yang Maha Melihat perlu dipegang untuk menjaga diri. Demi mempertahankan keharmonisan hubungan keluarga.

Rukun Islam yang keempat adalah zakat. Zakat adalah memberi mereka yang membutuhkan dalam hal ini memberi harta. Dengan zakat kita diajarkan untuk tidak pelit. Kepada orang lain kita harus mendermakan harta, apalagi kepada pasangan. Ada suami yang terlewat pelit kepada istrinya karena alasan harus memberi ibunya. Istri juga berhak untuk mendapatkan nafqah sehingga hak dia tidak boleh terkorbankan karena berdalih kewajiban terhadap orang tua.

Demikian juga jika istri memiliki harta, tidak usah berdalih “uang suami uang istri, uang istri adalah uangnya sendiri”. Hal ini tidak mengedepankan saling menolong dan bermurah hati di dalam rumah tangga. Nilai zakat adalah nilai memberi. Berikanlah apa saja yang dimiki terhadap pasangan, tidak hanya materi. Senyuman, ucapan terima kasih, kata maaf, wajah yang menyejukkan, rasa mengalah dan sebagainya. Sekali lagi ini berjalan dua arah. Bukan istri saja, dan bukan suami an-s.

Rukun Islam yang kelima adalah haji (bagi yang mampu). Haji memang hanya bagi mereka yang mampu secara finansial maupun fisikal. Tetapi untuk mencapai kesempurnaan keislaman, haji perlu diupayakan sedemikian rupa. Haji juga melambangkan solidaritas sosial umat Islam di seluruh dunia. Nilai solidaritas sosial inilah yang diambil dari haji.

Baca Juga  Indonesia Krisis Politisi Muda dan Idealismenya

Berpasangan adalah bersolidaritas. Ada nilai saling menerima, menghargai, memperbaiki, membanggakan, dan menjadi bagian dari yang lainnya. Istri dan suami adalah dua manusia yang telah menjadi satu untuk menggapai visi yang sama. Rasa solidaritas ini juga akan lebih sempurna jika diperlebar lagi tidak hanya terbatas pada kedua pribadi. Tetapi juga pada kedua keluarga.

Bagi budaya orang Indonesia, atau budaya keTimuran, yang memiliki keluarga besar dan extended family, rasa solidaritas antarkeluarga ini akan semakin memperkuat ikatan bersuami dan beristri. Ketika terjadi masalahpun, masing-masing bisa menjaga diri dan menutupi aib demi menjaga nama baik keluarga.

Tetapi tentusaja juga wajar, masalah tetap akan muncul walaupun kita sudah berusaha menghindar. Tetapi manajemen diri seperti yang disampaikan di atas paling tidak bisa memperingan bobot masalah yang timbul. Juga dapat menjernihkan sikap kita terhadap masalah. Nah, jika kita menghadapi masalah maka nilai-nilai dalam rukun Iman perlu menjadi pelajaran untuk menyelesaikannya.

Selanjutnya: Tips Menyelesaikan Masalah… (3)

Atun Wardatun Dosen Fakultas Syari’ah UIN Mataram; Direktur Yayasan LA RIMPU (Sekolah Rintisan Perempuan Untuk Perubahan)