Ainul Yaqin Mahasantri Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya; Aktivis Komunitas HIKAM

Tentang KH. Achmad Asrori al-Ishaqi yang Membincangkan Kosmologi ala Sufi

2 min read

Source: http://spark.spit.ac.in/

Dalam tradisi filsafat Barat, persoalan tentang alam semesta sangat bersaing untuk diperbincangkan dengan tema-tema lain yang masih dalam lingkaran filsafat. Pun dengan Islam yang memandang persoalan relasi manusia dan alam semesta sebagai sekian pembahasan yang penting dan menarik untuk didiskusikan. Karena persoalan ini sangat berimplikasi pada konsekuensi teologis atau tepatnya tidak dapat dilepaskan dari persoalan ketuhanan.

Sederhananya, kosmologi merupakan teori yang menyoalkan asal-usul alam semesta. Beberapa alim telah mengemukakan teori tentang asal-usul alam semesta. Seperti teori big bang yang pertama kali digagas oleh Abbe Georges Lemaitre, astronom Belgia tahun 1927 dan teori ini menandaskan bahwa alam semesta berasal dari keadaan panas dan padat yang mengalami ledakan dahsyat dan mengembang.

Ada juga teori selainnya, semisal teori kabut atau teori nebula yang diusung pertama kali oleh Immanuel Kant (1724-1804) dan Pierre Simon de Laplace (1749-1827). Teori ini mengakui bahwa tata surya berasal dari awan gas raksasa yang mengerut sambil berputar akibat gaya gravitasi (Al Kamal, 2015: 20-22).

Lain dari itu semua, para sufi memiliki teori dan pemahaman sendiri terhadap alam semesta. Terutama, mereka yang sangat antusias menyelami bidang filsafat atau biasa disebut sufi-filsuf, seperti Ibn ‘Arabi, Abdul Karim al-Jili, dan semacamnya. Ada sebuah pemahaman dan pemikiran yang disarikan dari pemikiran seorang tokoh Nusantara. Padahal umumnya, publik atau masyarakat sekitar memandang tokoh ini sebagai tokoh sufi yang memprioritaskan amaliah dan akhlak. Namun ternyata, dari karyanya yang berjudul al-Muntakhabāt, tokoh ini juga memiliki pemikiran yang filosofis

Namanya ialah KH. Achmad Asrori al-Ishaqi. Seorang mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Utsmaniyah sekaligus pendiri PP Assalafi Al Fithrah Surabaya. Tokoh inilah yang dimaksud memiliki konsep kosmologi sufistik. Bahkan dalam karyanya tersebut, konsep ini dapat dijumpai di permualaan juz pertama dari jumlah keseluruhan karya tersebut yang sebanyak lima jilid.

Baca Juga  Membaca Jejak Perjalanan Seorang Ulama Visioner: “Ikhtisar Biografi Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy‘ari 1871-1947”

Tidak jauh berbeda dari kalangan sufi-filsuf seperti Ibn ‘Arabi, terbentuknya alam semesta menurut Kiai Asrori adalah proses tajallī atau manifestasi-diri Allah secara terus-menerus tanpa kesudahan. Allah  menyatakan ini melalui ayat ini bahwa kreativitas-Nya selalu bergerak terus-menerus (al-Ishaqi, 2009: vol 3, 293).

كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

“Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS. al-Rahmān: 29)

Manifestasi atau tajallī ringkasnya ialah bagaiamana Allah memproses-menampakkan sifat-sifat dan nama-nama-Nya pada ciptaan-ciptaan-Nya yang semakin konkret. Karenanya, wadah manifestasi-Nya untuk yang pertama kali adalah Nur Muhammadi atau hakikat Muhammadiyah.

Keterkaitan Nur Muhammadi dan terbentuknya alam semesta terlihat dari pernyataan Kiai Asrori bahwa “Nur Muhammadi adalah yang pertama kali diciptakan oleh-Nya sebelum apapun”. Kemudian, Nur Muhammadi ini mengalir bersama tajallī Allah dan memercikkan cahaya-cahayanya hingga terbentuk satu demi satu ciptaan yang akhirnya tersusun rapi jahat raya secara keseluruhan (al-Ishaqi, 2009: vol 1, 1-27).

Nampak jelas di sana, pemikiran Kiai Asrori ini cukup filosofis, karena konstruksi pemikirannya sangat lekat dengan teori emanasi (fayd atau inbi‘āts) yang dipelopori oleh Plotinus, salah satu tokoh filsafat. Namun pemikiran Kiai Asrori yang sufistik tersebut berbeda dengan teori emanasi Plotinus.

Bahwa “emanasi” dalam dunia-Plotinus bermakna sesuatu mengalir dari Tuhan yang Tunggal dan yang lain mengalir dari yang pertama dan seterusnya dalam bentuk mata-rantai. Sementara dari pemikiran Kiai Asrori, “tajallī” bermakna bahwa Allah tampak dalam bentuk beraneka ragam yang konkret.

Satu Realitas yang sama mengartikulasikan dan mendeterminasikan diri-Nya secara langsung dalam bentuk yang beraneka rupa dan berlainan sesuai setiap kasusnya. Hal ini sebagaimana perbedaan antara emanasi Plotinus dan Ibn ‘Arabi (Isutzu, 2015: 182).

Baca Juga  Menemukan Hikmah di Sebalik Ekspedisi Tabuk

Interpretasi Nur Muhammadi ini dalam karya al-Muntakhabāt sangat relevan, jika dihitung sebagai kajian kosmologi. Agak sedikit lebih dalam lagi dan berbeda sudut-pandang dengan yang digambarkan dalam ulasan berjudul “Kaca Mata Lain untuk Nabi di percik.id (yang diposting pekan kemarin bulan Juli 2020).

Dengan mengamati lebih dalam sistematika penulisan juz 1 al-Muntakhabāt, setelah tuntas mengulas Nur Muhammadi hingga sisi fisik Nabi Muhammad, sajian ini secara langsung disentuhkan dengan bab alam semesta. Bahkan jauh lebih dari itu, dilanjutkan dengan persoalan manusia. Sehingga hal ini—hemat penulis—juga mengindikasikan pada pembahasan tentang hubungan manusia dan alam semesta—yang masih tidak lepas dari persoalan ekologi, kosmologi dan bahkan metafisika.

Kiranya seperti itu, sekilas pemikiran kosmologi sufi dalam pemikiran KH. Achmad Asrori al-Ishaqi. Meski sebagaimana yang ditangkap bahwa tokoh ini adalah sufi yang memprioritaskan akhlak dan amaliah, tetapi banyak pemikirannya dalam al-Muntakhabāt yang mendorong penulis akan tokoh ini juga bisa dibilang sufi-filsuf. Demikian sekaligus membantah kecil-kecilan terhadap tipologi tasawuf dalam arti aliran akhlaki, amali dan falsafi. Kendatipun secara teoretis boleh-boleh saja, namun secara praktis selalu berujung pada penyimpulan bahwa terdapat sekian sufi yang merangkap ketiga pola pemikiran tersebut. [MZ]

Ainul Yaqin Mahasantri Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya; Aktivis Komunitas HIKAM