Ustaz Ahmad Z. El-Hamdi Ustaz Milenial Tinggal di Sidoarjo

Belajar Nilai Kemanusiaan dan Ketuhanan Melalui Kisah Cinta Biarawati

2 min read

“Tuhan tidak memanipulasi apa-apa, karena Ia tidak memberikan apa-apa sama sekali. Yang diberikan-Nya hanyalah kehidupan itu sendiri. Terserah mau diapakan oleh manusia, dijadikan ajang pengrusakan, atau lahan penyejahteraan hidup. Kalau manusia lari kepada-Nya, itu hanyalah karena karunia yang diberikan-Nya: kemampuan mendekatkan diri kepada Tuhan itu sendiri. Manusia tidak diperbudak oleh Tuhan untuk kepentingan-Nya, melainkan diberi-Nya jalur pemahaman diri yang lebih baik akan hakekat dirinya, dan hakekat hubungannya dengan Tuhan”

Kalimat-kalimat yang begitu dalam akan makna hubungan manusia dengan Tuhannya, sebagaimana dalam kutipan di atas, ditulis Gus Dur sebagai hasil permenungannya terhadap sebuah novel yang ditulis oleh sastrawan Perancis pemenang hadiah nobel sastra, Andre Gide, yang berjudul La Porte Etroite (Gerbang yang Sempit). Judulnya sendiri diambil dari salah satu potongan ayat dalam Bibel.

Novel ini berkisah tentang sepasang kekasih yang karena halangan-halangan sosial tertentu, membuat si gadis memutuskan untuk menjadi seorang biarawati yang memberikan seluruh hidup dan cintanya hanya kepada Tuhan. Dari sini kemudian muncul pertanyaan apakah Tuhan menjebak hamba-Nya ke dalam suatu situasi pelik kemudian memanipulasinya agar lari menghamba kepada-Nya?

Apakah permenungan yang begitu dalam menjadi tidak bermakna hanya karena ia lahir dari sebuah novel yang judulnya diambil dari potongan ayat di dalam Bibel?

Bahkan di tulisan yang lain, Gus Dur berkisah pernah mendiskusikan tentang waliyullah (santo atau orang suci) di sebuah sanggar Hindu bersama seorang Pendeta Hindu dan Romo Katolik. Perbincangan hangat itu kemudian dituliskannya dalam sebuah kalimat indah: “orang suci…memiliki beberapa sifat yang membedakan dari orang lain…ciri-ciri istimewa yang diberikan Tuhan…ataupun pengorbanan mereka pada kepentingan manusia.”

Baca Juga  Yang Hampir Hilang dari Pendidikan Kita

Apakah pembicaraan tentang kemuliaan waliyullah itu menyebabkan murtad hanya karena ia diberbincangkan di sebuah sanggar Hindu?

Entah mengapa, selama Bulan Ramdhan ini saya keranjingan nonton video sebuah ajang pencarian bakat melalui kanal Youtube. Salah satu adegan yang membuat saya tertegun adalah ketika ada seorang ayah yang mengikuti ajang pencarian bakat sekedar untuk menunjukkan kepada empat orang anak angkatnya (salah satunya difable) bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam kehidupan ini. Dia tidak berharap apa-apa kecuali menjadi seorang ayah yang memberi teladan baik tentang bagaimana menjalani hidup yang mulia di depan anak-anak terlantar yang diangkat menjadi anak-anaknya.

Pada akhirnya, dia mendapatkan tiket emas untuk langsung ke babak grand final. Ketika hendak menakan tombol emas, si juri menyatakan, “Sometimes, action is louder than words” (Terkadang, tindakan lebih keras dari kata-kata). Saya teringat maqalah (kata-kata bijak) dalam Bahasa Arab: لسان الحال افصح من لسان المقال (Keteladanan melalui tindakan lebih jelas daripada kata-kata). Maqalah ini sangat terkenal di komunitas santri, terutama yang menekuni dakwah.

Apakah kalimat bijak itu kehilangan maknanya hanya karena ia disampaikan oleh Simon Cowel di sebuah ajang pencarian bakat di televisi Amerika Serikat?

Saya tak perlu berbohong untuk mengatakan bahwa tidak setiap shalat saya memiliki kekhusyukan yang intens dengan Allah. Bahkan, yang lebih sering adalah rutinitas ritual yang lebih didorong oleh motif sekedar menunaikan kewajiban daripada sungguh-sungguh karena sebuah kerinduan untuk menghadap sang Khaliq.

Tapi dari sedikit ibadah saya yang memiliki intensitas kerinduan hingga membuat air mata meleleh dari takbiratul ihram hingga salam adalah ketika saya mengkhatamkan sebuah novel yang ditulis oleh seorang sastrawan Katolik taat dari Brazil, Paulo Coelho.

Baca Juga  Indonesia Krisis Politisi Muda dan Idealismenya

Ya Allah, apakah kerinduan dan air mataku itu hanya akan menjauhkanku dari-Mu hanya karena perasaan itu lahir dari permenunganku akan sebuah novel yang ditulis oleh seorang Katolik?

Ya Allah, Engkau tak hanya mencipta galaksi raksasa dan emas mulia untuk dijadikan sebagai sumber refleksi atas keagungan-Mu. Engkau juga mencipta nyamuk kecil, berbagai makhluk mikroskopik lain, bahkan makhluk-mahkluk lain yang kotor. Tidak ada kebatilan dalam setiap ciptaan-Mu. Engkau telah membabar segalanya, adalah tugas manusialah untuk menelaah ayat-ayat-Mu. Bahkan dalam hal yang paling remeh temeh pun kita bisa belajar nilai-bilai keagungan.

Di mata-Mu, keagungan manusia tidak ditentukan oleh gelar dan pakaiannya. Bahkan, seorang pelacur yang menolong seekor anjing najis pun lebih mulia dari seorang muballigh yang berkeliling menyuarakan kebajikan tapi melalaikan burung piaraannya di rumah hingga sang burung mati di sangkarnya dalam kelaparan. Wallahu a’lam bi al-shawab [mmsm]

 

Ustaz Ahmad Z. El-Hamdi Ustaz Milenial Tinggal di Sidoarjo