Anugerah Zakya Rafsanjani Alumnus S2 Prodi Aqidah dan FIlsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

COVID-19: Peran Penyair, Ilmuwan, dan Bisikan Data

2 min read

Pada era digital, data adalah salah satu sumber informasi terpercaya dan bisa dikatakan mempunyai peran penting. Menurut KBBI data adalah keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian. Pentingnya data terkadang membuat sebagian orang enggan berbagi data, namun ada waktu dimana semua orang bahkan pemerintah diharuskan berbagi dan melakukan transparansi data, yakni saat meraka menghadapi common enemy.

Saat ini seluruh negara menghadapi common enemy berupa pandemi Covid-19, banyak manusia menjadi korban dari pandemi ini sehingga distribusi informasi dan transparansi data menjadi penting untuk menghadapi pandemi ini.

Selain itu penemuan vaksin sangat bergantung bagaimana distribusi data dan ketersediaan data, data yang ada kemudian diproses oleh komputer dan algoritma canggih—urutan langkah yang digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah, dan dilakukan secara berurutan dan berulang-ulang berdasarkan kasus tertentu—guna mendapatkan varian data valid dan tentunya diproses dengan cepat.

Semakin tertutup jaringan informasi dan kurangnya data maka vaksin pun akan lebih lama diciptakan dan berarti semakin banyak pula orang menderita atau bahkan mati karenanya. Peran data sangat vital mengingat dia adalah suatu bentuk informasi yang difilter oleh algoritma rumit.

Di sini peran ilmuwan juga tidak kalah penting dari peran data tersebut. Perannya bukan sekadar bertugas menemukan vaksin dan memprediksi masa depan dengan pemodelan matematika berdasarkan data, namun mereka juga bertanggung jawab untuk menyampaikan data kompleks tersebut secara sederhana kepada masyarakat awam.

Meskipun data dan informasi saat ini bebas diakses oleh masyarakat, namun ilmuwan mempunyai privilege dari masyarakat lain. Hal ini bukan karena ilmuwan memiliki kapasitas memori otak lebih besar dari orang biasa melainkan para ilmuwan mempunyai akses lebih luas terhadap jaringan informasi dan sumber data.

Baca Juga  Tukang Pijat, Tukang Pangkas Rambut, dan Dokter Gigi di Masa Pandemic COVID-19

Semakin lihai ilmuwan menerjemahkkan data secara sederhana maka ilmuwan mempunyai peran serupa penyair Arab pra-Islam yang membawa pesan dari dunia tak kasat mata dengan syairnya.

Memang analogi ini kontradiktif bahkan sangat tidak relevan untuk membandingkannya. Penyair yang dikenal mampu membuat sajak indah, eskpresif, dan fleksibel dengan kata-kata indahnya berbanding terbalik dengan ilmuwan yang berpikiran kaku, sistematis, dan terukur. Namun keduanya mempunyai peran serupa dalam masanya.

Dalam kebudayaan Arab pra-Islam seorang penyair mempunyai kedudukan tinggi, mereka mempunyai posisi khusus dalam masyarakatnya. Beberapa penyair yang terkenal pada waktu itu adalah Umayyah bin Abi Salt dan ‘Adi bin Zayd, mereka pada masa itu dikenal mempunyai pengetahuan yang tidak dimiliki orang Arab pada umumnya, yakni pengetahuan tentang dunia spiritual atau dunia gaib.

Dunia gaib diisi oleh para jin dan tidak semua orang bisa berbincang atau bahkan berteman dengan jin karena mereka mempunyai bahasa yang tidak dapat dimengerti oleh manusia. Tugas para penyair adalah menerjemahkan bahasa jin ke dalam bahasa manusia. Semakin pintar penyair mengolah kata semakin kuat pula pengaruhnya terhadap masyarakat bahkan dapat mempengaruhi musuh, namun saat mereka tidak bisa mengucap syair sepatah kata pun mereka akan menyalahkan para jinnya.

Begitu kuat pengaruh penyair pada masa itu sehingga sebagian suku bangsa Arab waktu itu dipimpin oleh para penyair. Bahkan jika suatu suku atau wilayah lain dikatakan memiliki kebudayaan tinggi bisa diukur dari kemampuan para penyairnya. Tugas penyair bukan hanya membuat sajak-sajak indah tapi sebagian mereka juga merangkap tugas sebagai kāhin atau tukang tenung untuk meramalkan masa depan (Izutsu: 2003: 186).

Sekilas penjelasan ini tidak relevan dengan peran para ilmuwan saat ini, namun mari kita telaah lebih detail. Jika para penyair Arab pra-Islam adalah tokoh vital dalam peradaban bangsa Arab pra-Islam, maka ilmuwan adalah tokoh vital dalam perkembangan teknologi dan pengetahuan saat ini.

Baca Juga  Fenomena Hijrah Mantan Psk Di Putat Jaya Barat Surabaya

Para ilmuwan menafsirkan data yang diolah oleh algoritma rumit sehingga dia mampu mengabarkannya pada masyarakat, hal ini serupa dengan para penyair yang membiarkan para teman jinnya membisikkan sesuatu dengan bahasa berbeda kemudian para penyair menerjemahkannya dalam bentuk bahasa manusia yang bisa dimengerti.

Para penyair menunggu bisikan jin untuk memprediksi masa depan bahkan nasib seseorang, para ilmuwan membutuhkan data dan informasi yang telah diproses oleh algoritma kemudian para ilmuwan mempunyai pandangan terhadap apa yang akan terjadi di kemudian hari dan pemerintah bersiap mengambil langkah strategis berdasarkan prediksi para ilmuwan.

Memang zaman Arab pra-Islam dan saat ini begitu berbeda, namun saat ini adalah langkah tepat untuk menaruh harapan pada para ilmuwan, karena mereka mempunyai amunisi untuk berperang melawan pandemi ini. Pun mereka telah dididik untuk menerjemahkan data yang tidak dimengerti oleh masyarakat awam.

Selain itu liberalisasi informasi dan data sangat diperlukan mengingat saat ini banyak orang bergantung pada data dan informasi hanya untuk mengetahui berapa jumlah pasien positif Covid-19 perhari ini, atau bahkan sebuah perusahaan menggunakannya untuk mengambil keputusan apakah para karyawan diharuskan bekerja dari rumah atau tetap bekerja di kantor.

Transparansi dan distribusi data ini dilakukan guna mengawasi pemerintah apakah mereka benar-benar siap dan serius menangani pandemi ini, sehingga sinergi antara ilmuwan, pemerintah dan masyarakat dapat dilakukan dengan baik demi melawan pandemi. Peran para ilmuwan saat ini begitu sentral karena aksesnya terhadap data dan informasi begitu luas. Sedangkan para ilmuwan juga bergantung pada liberalisasi informasi dan transparansi data, sehingga pandemi diharapkan bisa diatasi dengan secepatnya. [MZ]

Anugerah Zakya Rafsanjani Alumnus S2 Prodi Aqidah dan FIlsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *