Martinus Joko Lelono Seorang Pastor Katolik dan Alumnus program studi doktoral ICRS, Yogyakarta

Membangun Persaudaraan antara Umat Islam dan Kristiani

2 min read

Source: catholicworldreport.com

Saya terhenyak ketika membaca harian Kompas tertanggal 20 Oktober 2020. Di salah satu sudut tertulis berita tentang Jusuf Kalla yang diundang untuk menjadi juri pada Sayed Award for Human Fraternity. Sayed Award for Human Fraternity adalah anugerah persaudaraan kemanusiaan yang digagas pasca-pertemuan Paus Fransiskus dengan Imam Besar Al-Azhar Syeikh Ahmad Al Tayeb. Pertemuan itulah yang akhirnya melahirkan dokumen yang ditandangi keduanya yang dikenal dengan nama Dokumen Abu Dhabi pada Februari 2019.

Salah satu isu utamanya adalah tentang bagaimana membangun persaudaraan bersama sebagai umat manusia sekaligus sebagai dorongan untuk menangkal radikalisme. Rupanya inisiatif persaudaraan itu tidak hanya berhenti sebagai sebuah upacara seremonial belaka melainkan menjadi gerak berkelanjutan. Zayed Award ini akan menjadi acara tahunan untuk memperingati dokumen tersebut.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa penghargaan ini diharapkan mampu mendorong semua orang untuk mewujudkan cinta melalui tindakan dan perngorbanan bagi orang lain. Dalam satu video dia mengungkapkan, “Saya mohon kepada Tuhan yang Maha Esa untuk memberkati setiap upaya yang bermanfaat bagi kebaikan umat manusia dan membantu kita untuk terus maju dalam persaudaraan.”

Komite juri untuk pelaksaaannya di tahun 2021 ini meliputi Mantan Presiden Republik Afrika Tengah Caterine Samba-Panza, mantan Wakil Presiden Indonesia Muhammad Jusuf Kalla, Gubernur Jendral dan Panglima Tertinggi Kanada ke-27 Michaelle Jean, Kardinal Dominique Mamberti (bekerja di Pengadilan Gereja Tertinggi Vatikan) dan Adam Dieng, mantan penasihat khusus PBB untuk pencegahan Genosida.
Melihat betapa inisiatif perjumpaan persaudaraan ini melibatkan banyak orang, rasa-rasanya kita sadar betapa pentingnya perjumpaan antara Katolik-Islam bagi upaya perdamaian dunia.

Jejak-Jejak Sejarah

Dalam jejak-jejak sejarah, relasi antara Islam-Katolik menunjukkan berbagai titik terang persahabatan. Paling tidak di akhir abad ke-20 dan awal abad-21 ini terdapat tiga ungkapan penting: Nostrae Aetate; Dokumen the Common Words; Dokumen Abu Dhabi. Konsili Vatikan II (Rapat besar pimpinan Gereja Katolik di Vatikan), menghasilkan pernyatan resmi tentang hubungan Gereja Katolik dengan Islam. Dalam dokumen Nostrae Aetate dikatakan;

Baca Juga  Covid-19, Kesadaran Ekologis, dan Gerbang Kehidupan Baru

“Memang benar, di sepanjang zaman cukup sering timbul pertikaian dan permusuhan antara umat Kristiani dan kaum Muslimin. Konsili suci mendorong mereka semua, supaya melupakan yang sudha-sudah dan dengan tulus hati melatih diri untuk saling memahami dan supaya bersama-sama membela serta mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang, nilai-nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan” (Artikel 3).

Sementara pada dokumen Common Words between Us and You, yang merupakan surat terbuka pemimpin agama Islam dan pemimpin agama Kristen terungkap gagasan semacam yang mengatakan:
Kaum Muslim dan Kristiani bersama-sama berjumlah lebih dari setengah populasi dunia. Tanpa perdamaian dan keadilan di antara kedua komunitas agama ini, tidak akan ada perdamaian yang berarti di dunia. Masa depan dunia tergantung kepada perdamaian antara kaum Muslim dan umat Kristiani.

Sementara dokumen Abu Dhabi mencatat ungkapan yang sangat indah demikian:

Dialog antar umat beragama berarti berkumpul bersama dalam ruang luas nilai-nilai rohani, manusiawi, dan sosial bersama dan, dari sini, meneruskan keutamaan-keutamaan moral tertinggi yang dituju oleh agama-agama.

Dari ketiganya kita menangkap satu pesan penting yaitu, bahwa relasi antar kedua agama ini menjadi hal yang perlu diupayakan. Menariknya adalah bahwa inisiatif persaudaraan itu bukan hanya bertepuk sebelah tangan melainkan saling berinsiatif karena merasa bahwa persaudaraan antar agama menjadi hal yang penting untuk perdamaian dunia.

Tentu hal ini mengingatkan kita akan Hans Kung yang mengatakan, “Tidak ada perdamaian antar negara tanpa ada perdamaian antar agama. Tidak ada perdamaian antar agama tanpa ada dialog antar agama.” Rasa-rasanya teladan yang sudah dimulai oleh para pemimpin agama menjadi gerakan bersama. Jangan sampai bola salju persaudaraan yang sudah bergulir akhirnya pecah karena kita tidak menyiapkan diri untuk meneruskan misi baik dari inisiatif persaudaraan ini.

Baca Juga  Universitas al-Azhar dan Pengarusutamaan Mazhab Ahlussunah Wal Jama'ah

Ketiga inisiatif persaudaran tersebut memiliki satu pesan yang mirip yaitu, bahwa pada zaman ini kita perlu membuat sejarah baru dalam relasi persaudaraan ini. Mengingat kedua tradisi keagamaan ini beririsan sejak awal berdirinya Islam, tentu amat wajar kalau ada peristiwa yang tidak menyenangkan dalam sejarah. Namun, menyimpan cerita lama tanpa membuka diri untuk membangun cerita baru membuat semuanya menjadi kacau. Oleh karenanya ajakan-ajakan dialog ini adalah ajakan untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan dialog baru persaudaraan.

Semoga umat Kristiani dan Islam terus belajar menyembuhkan luka masa lalu sembari belajar berdialog supaya tidak melahirkan luka-luka baru untuk generasi hari ini dan generasi penerus. Dalam berbagai tulisan dan ajakan persaudaraan ini, kita diundang untuk melihat bahwa ada begitu banyak irisan persaudaraan daripada berbagai bentuk pemecah persaudaraan. [AA]

Martinus Joko Lelono
Martinus Joko Lelono Seorang Pastor Katolik dan Alumnus program studi doktoral ICRS, Yogyakarta