Potongan Ceramah dan Krisis Penafsiran Agama di Era Digital

Ilustrasi oleh Gemini AI

Di era digital, agama tidak hanya hadir di masjid, majelis taklim, atau di lembaran kitab. Sekarang, agama juga muncul lewat layar telepon melalui video potongan ceramah, caption, dan video singkat lainnya. Pemotongan durasi itu hakikatnya bukan hanya memotong penjelasan, tapi juga memotong makna.

Fenomena ini membuat tafsir keagamaan tidak lagi lahir dari proses yang sabar dan bertahap, tetapi dari timeline dan kolom komentar. Persepsi publik ikut menyusun makna lewat share, repost, atau emosi. Tak jarang, satu potongan video sudah dapat membentuk opini, bahkan sebelum penjelasan utuhnya benar-benar selesai.

Padahal, teks agama itu punya logika yang tidak bisa dipreteli seenaknya. Sebuah penafsiran membutuhkan konteks yang meliputi sejarah, sebab turun ayat, perbedaan qira’at (bacaan), dan pertimbangan makna. Namun, beda ceritanya ketika narasi keagamaan di media sosial. Semuanya dipaksa menjadi sederhana: “setuju atau tidak setuju”, “benar atau salah”.

Allah SWT sudah memperingatkan soal fenomena ucapan yang kehilangan konteks.

فَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

“Maka jauhilah perkataan yang dusta.” (QS. al-Hajj: 30)

Perkataan yang dusta tidak hanya tentang kebohongan yang jelas, tapi juga perkataan yang menyimpang akibat dipotong, digeser, atau dibalik konteksnya. Di timeline, konteks itulah yang paling sering hilang.

Ketika ceramah dipotong, muncul proses framing yang menonjolkan sebagian, lalu menenggelamkan sebagian yang lain. Hasilnya adalah makna yang berbeda, lebih tajam, lebih provokatif, atau bahkan bertolak belakang dari tujuan awal. Dari framing itulah wacana keagamaan mulai terbentuk di ruang publik.

Tidak heran kalau isu agama sekarang cepat memanas. Satu potongan ceramah soal hukum tertentu bisa memecah komentar menjadi dua kubu. Satu ayat dipakai untuk menyerang, ayat lainnya dipakai untuk membela. Semua jadi bagian dari narasi yang dibentuk algoritma.

Dari hal-hal yang demikian, tentu jelas sudah bahwa masalahnya bukan pada ajaran agamanya, tetapi di cara kita menyampaikan ajaran agama itu di media. Ayat pun bisa jadi framing. Banyak orang share ayat larangan tanpa membaca ayat pengecualian. Banyak share ayat perintah tanpa membaca konsekuensinya.

Padahal Allah berfirman:

كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ

“(Ini) sebuah kitab yang ayat-ayatnya disusun secara rapi, kemudian dijelaskan dengan terperinci.” (QS. Hūd: 1)

Kalimat ini menunjukkan dua hal penting yakni, struktur dan penjelasan. Dua-duanya runtuh ketika agama diperlakukan seperti konten sepuluh detik.

Pada akhirnya, agama itu bukan bahan dramatik untuk timeline. Agama punya keseriusan. Kalau keseriusan itu dipotong terlalu pendek, maknanya pun ikut menyusut. Tantangannya bukan sekadar melawan hoax, tapi menjaga agar wacana agama tidak menjadi permainan viralitas. [AA]

0

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.