Syukur Budiarjo Penulis buku kumpulan puisi Mik Kita Mira Zaini dan Lisa yang Menunggu Lelaki Datang (2018), Demi Waktu (2019), Beda Pahlawan dan Koruptor (2019), dan buku kumpulan esai Enak Zamanku, To! (2019). Tinggal di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Lelaki Paruh Baya dan Wajah-Wajah Perempuan Cantik

1 min read

sumber: tekno.tempo.co

1.)

“Cantik!”
“Terima kasih!”
“Cantik!”
“Thank you!”
“Cantik!”
“Kamsia!”
“Cantik!”
“Matur nuwun!”
“Cantik!”
“Sakalangkong!”
“Cantik!
“Hatur nuhun!”
“Cantik!”
“Mauliate!”

2.)

Lelaki paruh baya itu baru saja memberikan komentar kepada sejumlah status teman perempuannya di Facebook. Jari-jari kedua belah tangannya menari ke sana kemari. Memencet dan mengelus tuts huruf-huruf di laptop. Semua balasan atas komentarnya bernada terima kasih. Sementara itu, lagu “Hello” milik Leonel Richie masih mengalun di ruangan santainya.

Ia tersenyum, kemudian membayangkan wajah-wajah perempuan cantik di beranda Facebook. Wajah-wajah perempuan yang tak pernah dilihatnya dalam wujud nyata. Tak pernah bertegur sapa, atau mendengar suaranya meski melalui telepon genggam. Hanya huruf-huruf bisu yang membuatnya dapat berkawan. Juga foto-foto rupawan dan  menawan.

 

 

3.)

“Cantik!”
“Jangan engkau puji aku demikian! Sebab segala puji bagi Allah.”

Lelaki paruh baya itu terkesima membaca balasan komentarnya. Kalimat teguran itu seperti belati yang mengiris pikiran dan perasaannya, kemudian menyadarkannya. Ia merasa telah melakukan kesalahan. Meskipun memuji setiap perempuan sebagai wanita cantik itu bukankah lebih baik?

4.)

“Cantik!”

“Aku perempuan, Bang! Tentu saja cantik, seperti ibumu dan nenekmu ketika masih gadis. Jelas saja cantik, seperti kakak dan adikmu. Bukannya begitu? Mengapa Abang obral kata pujian “cantik” kepada setiap perempuan yang berteman dengan Abang? Kalau begitu, kata pujian “cantik” yang Abang bisikkan kepada setiap perempuan yang berteman dengan Abang itu, bisa mengalami inflasi. Abang cuma perayu!”

Lelaki paruh baya itu cuma bisa diam setelah membaca komentar kata pujian “cantik” yang ditulisnya di kolom komentar sebuat status berupa foto perempuan paruh baya. Foto itu menggambarkan seorang perempuan paruh baya berpakaian tradisional khas Jawa. Matanya seolah menghipnotis siapa pun yang melihatnya. Seolah ia menatap lelaki paruh baya itu. Bibirnya yang tipis menawarkan sesungging senyuman.  

Baca Juga  [Cerpen]: Dilema Cinta Beda Agama

5.)

“Cantik! Oh, my God!!”

“Jangan engkau puji aku seperti itu! Karena segala puji hanya milik Allah!”

Lelaki paruh baya itu terpana seketika setelah membaca komentarnya. Kalimat teguran itu layaknya pisau tajam yang menikam jantungnya. Sekarang ia benar-benar sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan yang tak perlu diulangi lagi.

6.)

Persoalannya adalah ia sudah beristri. Apakah ini bukan penyelewengan? Bukan jalan lurus. Selingkuh pikiran. Bisikan iblis. Godaan setan. Sebuah awal dari seluruh fase pengkhianatan. Dosa akibat menggunakan mata untuk sesuatu yang tak layak dilakukan. Ia kemudian teringat kepada istrinya.

“Istriku, maafkan aku. Emgkaulah yang tercantik dari semua wanita yang kukenal! Engkaulah yang telah menunjukkan kecantikan dari dalam yang membuatku tangguh menghadapi semua ujian dan cobaan dalam rumah tangga dan pekerjaan. Engkau bagai embun pagi dan batu karang yang setia menjemput matahari dan menahan gelegar ombak.”

“Telah engkau lahirkan pula dua anak baru gede (ABG). Satu laki-laki dan dan satu perempuan. Mereka anak-anak yang tampan dan cantik. Orang tua mana yang tak suka dan bahagia memiliki keturunan yang tampan dan cantik?”

7.)

Adzan zuhur terdengar. Lelaki paruh baya itu seketika hendak menumpahkan segala kesalahan kepada-Nya. Momohon ampunan.

Di dalam hati ia berjanji tak akan lagi memberikan komentar “cantik” kepada setiap teman perempuan di Facebook. Tidak! Tidak akan lagi.

Cibinong, Mei 2020

Avatar
Syukur Budiarjo Penulis buku kumpulan puisi Mik Kita Mira Zaini dan Lisa yang Menunggu Lelaki Datang (2018), Demi Waktu (2019), Beda Pahlawan dan Koruptor (2019), dan buku kumpulan esai Enak Zamanku, To! (2019). Tinggal di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.