Misbahul Wani Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kaljaga Yogyakarta, member of Qur’anic Peace Study Club, dan Santri Ponpes Zainul Hasan Genggong, Probolinggo

[Resensi] “Nalar Kritis Muslimah”, Upaya Memahami Pengalaman Perempuan

2 min read

Judul buku    : Nalar Kritis Muslimah

Penulis            : Dr. Nur Rofiah, Bil.Uzm.

Penerbit          : Afkaruna

Tahun             : 2020

Tebal              : 223

Memahami pengalaman perempuan menjadi penting agar membuat seseorang menjadi manusia seutuhnya di tengah kuatnya budaya patriarkhi. Karena, dewasa ini masih saja dalam praktik sosial, perempuan sering menjadi sasaran diskriminasi, kekerasan seksual dan perlakuan yang tidak manusiawi lainnya.

Nur Rofi’ah mengklasifikasi pengalaman perempuan menjadi dua jenis, yakni pengalaman biologis dan pengalaman sosial. Secara biologis perempuan dapat mengalami menstruasi, hamil, melahirkan, nifas, dan menyusui. Pengalaman biologis ini sifatnya qadrati dan tidak bisa dimiliki oleh selain perempuan.

Adapun pengalaman sosial, bagi perempuan bersifat irādati, perempuan acap kali disandingkan dengan stigmatisasi, marginalisasi, subordinasi, kekerasan, dan beban ganda. Situasi ini terjadi karena kuatnya sistem patriarki yang mencengkeram kuat di masyarakat, kapan dan dimana saja.

Dalam buku “Nalar Kritis Muslimah” ini, penulis sedekat mungkin mampu berkomunikasi dengan para pembaca. Selain karakter tulisannya yang reflektif, narasinya juga mudah untuk dipahami. Karena, buku ini memang disarikan oleh Dr. Nur Rofiah dari hasil refleksi tulisannya yang tercecer di medsos sejak Juni 2013 sampai Februari 2020.

Dalam perjalanannya, buku ini menembus ruang sosial yang cukup panjang. Seperti peristiwa perhelatan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) pada tanggal 25-27 di Cirebon. Sehingga konsep “Keadilan Hakiki Perempuan” bisa show up di tengah-tengah pembaca sebagai problem solving dalam masyarakat kita.

Kesadaran Gender dalam Islam

Secara genealogis, kata gender dimunculkan oleh pemikir barat di abad 20. Temuan ini sangat penting agar mengetahui lebih jauh bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan tidak semat-mata dari Tuhan (qadrati), tapi perbedaan itu juga lahir dari ruang sosial atau konstruk masyarakat (irādati).

Lahirnya konsep gender mengusik kesadaran laki-laki dan perempuan bahwa pengalaman yang ada pada diri perempuan tidak patut disalahkan, karena hanya ia menjadi perempuan. Konsep ini kemudian mengkonstruksi sosial masyarakat bahwa laki-laki dan perempuan bisa saling mengisi dan kerjasama.

Baca Juga  Feminisme Pancasila: Menelusuri Kiprah Ibu Sinta Nuriyah (Bag-2)

Dalam islam sendiri, memahami perbedaan sosial itu telah sejak lama terjadi. Yaitu sejak bahasa Arab lahir. Dalam gramatikal arab, ada konsep dasar yang disebut degan konsep mudzakkar dan mu’annats (laki-laki dan perempuan). Konsep ini meramu pada seluruh elemen, baik pada kalimat isim maupun kalimat kerja.

Sebagaimana dikatakan oleh Nasr Hamid Abu Zaid, seorang pemikir Islam asal Mesir; satu grup perempuan (mu’anntas) hanya karena disusupi satu laki-laki saja bisa jadi bersifat laki-laki (mudzakkar). Satu laki-laki lebih menentukan otoritas dari pada perempuan-perempuan dalam grup itu (hlm.10).

Bagi Nur Rofiah, hal tersebut adalah soal keterbatasan bahasa saja, meskipun ia juga menyadari bahwa bahasa itu adalah simbol atau representatif kehidupan sosial. Seperti kehidupan jawa, yang ditentukan oleh kelas sosialnya. Dapat dilihat dari tutur bahasanya yang terbagai menjadi tiga; ngoko, madya dan inggil (hlm. 9).

Dalam literatur klasik, ororitas perempuan menjadi kabur akibat dominasi laki-laki dengan segala kepentingannya, khususnya dalam sebuah karya tafsir. Misal kerancuan dalam berfikir yang mengangap bahwa tafsir adalah al-Qur’an. Padahal tafsir adalah hasil konstruk pemahaman manusia dengan keterbatasan pengetahuannya padaAlquran(bi qadri al-thāqat al-basyariyyah).

Sedangkan, Alquran adalah otoritas Allah dengan kalam-Nya yang dipastikan benar. Dan Alquran (QS. al-Hujurat [49]: 13) pula yang menegaskan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan yang dimungkinkan dapat saling menyejahterakan antara satu sama lain, baik antar bangsa, suku maupun antar agama-agama. Sebab yang membedakan secara mutlak bukan pengalam pribadi dan sosialnya melainkan takwa (h. 54).

Alquran berasal dari Allah yang Maha Adil, sedangkan tafsir dari manusia (produk penafsiran) yang tidak satu pun Maha adil. Karenanya, Alquran pasti adil pada laki-laki dan perempuan, sedangkan tafsir bisa adil, bisa pula sebaliknya (h. 15).

Baca Juga  Sepenggal Kisah dan Kontribusi Aisyah R.A. dalam Bidang Hadis

Memahami Alquran dan tafsir secara definitif dapat mengantarkan kita memahami perbedaan antara kelamin dan gender. Diasumsikan kelamin adalah sebagai pengalaman perempuan secara biologis dan tidak dapat diubah seperti Alquran, sedangkan pengalaman sosial perempuan diasumsikan sebagai tafsir, ia adalah produk atau konstruksi sosial yang dibangun oleh manusia itu sendiri.

Urgensi Keadilan Perempuan

Memahami pengalaman perempuan, baik secara biologis maupun secara sosial menjadi modal tercapainya konsep keadilan perempuan hakiki. Tidak hanya terbatas dalam ranah kecil dalam keluarga tapi juga dalam ruang publik. Seperti menentukan kebijakan publik yang didasarkan pada pemahaman pengalaman perempuan ini dirasa sangat penting. Agar dapat melindungi perempuan dari kekerasan, marginalisasi dan pemerkosaan (h. 44).

Buku reflektif ini sangat penting dibaca. Penulis banyak merespon persoalan yang mengitari kehidupan sosial sehari-hari, seperti tentang kehidupan modern, hijrah, keberagaman, konsep ideal berumah tangga, posisi perempuan dalam sebuah negara (tiang negara), bahkan sampai isu RUU P-KS yang sempat menghebohkan jagad nusantara (h. 165).

Keseimbangan berinteraksi sosial sangat diperhatikan dalam buku ini, yaitu tentang saling menahargai antara satu sama lain, terutama laki-laki dan perempuan. Seperti ketika islam berbicara tentang kewajian anak berbakti pada orang tua, maka orang tua juga memiliki kewajiban mendidik anak dengan baik. Ketika rakyat diminta taat pada pemerintah, maka pemerintah diwajibkan adil memimpin rakyatnya.

Seharusnya begitu juga dengan laki-laki dan perempuan. Ketika Islam berbicara tentang berbuat baik, maka laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama. Keduanya memiliki hak untuk berbuat dan diperlakukan baik.

Perempuan adalah subjek penuh dalam sistem kehidupan sebagaimana laki-laki. Begitu pun sebaliknya, laki-laki bukan standar kemasalahatan dalam hidup ini. Laki-laki dan perempuan memiliki hak yag sama untuk bisa mewujudkan kemaslahatan publik. Yaitu dengan cara memahami pengalaman pribadi masing-masing, khususnya pengalaman perempuan , baik yang bersifat biologis maupun sosial. [AA]

Baca Juga  Soekarno, Feminisme dan Kecerdasan Perempuan yang Diremehkan
Misbahul Wani
Misbahul Wani Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kaljaga Yogyakarta, member of Qur’anic Peace Study Club, dan Santri Ponpes Zainul Hasan Genggong, Probolinggo