Dicky Zulfikar Mohammad Sarjana Teknik yang Menyukai Tema Keislaman; Berdomisili di Balikpapan

Saya, Mereka, NU, dan Muhammadiyah

2 min read

sumber: ceknricek.com

Saya memiliki orangtua berlatarbelakang NU dan Muhammadiyah. Ayah saya besar di keluarga NU sementara ibu saya besar di keluarga Muhammadiyah. Saya, yang waktu itu masih kecil, tidak begitu mengerti perbedaan ini. Alhamdulillah, saya dibekali ilmu agama dasar walaupun tidak mengenyam pendidikan pesantren. Saya hanya pernah sekolah di sekolah Islam, lalu pindah ke sekolah umum, tapi orangtua saya tetap membekali saya ilmu-ilmu Islam lewat TPA dan kegiatan pengajian di luar kegiatan sekolah.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya diajarkan ilmu keislaman berbasis dua ormas Islam besar tersebut. Salah satu contohnya adalah doa iftitah dengan redaksi yang berbeda. Saya pun dengan mudah menghafal kedua doa iftitah tersebut, meski yang lebih sering saya amalkan adalah versi NU. Tidak ada perbedaan yang berarti dalam kehidupan sehari-hari. Saya kadang mengamalkan amalan dari keduanya. Saya diajari bagaimana menghormati perbedaan, menghargai orang lain, bersikap toleran, dan tenggang rasa. Seperti halnya saya diajari bagaimana bersikap terhadap non-Muslim.

Saya masih ingat ketika orangtua saya menceritakan bagaimana perbedaan antara Muhammadiyah dan NU di kampung mereka. Perselisihan masih kental sekali. Terjadi “perang dingin” di antara masyarakat pendukung Muhammadiyah dan NU. Namun, saya bersyukur hal seperti itu tidak terjadi di keluarga saya. Kami hidup rukun dan tidak pernah memperselisihkan perbedaan antara Muhammadiyah dan NU. Paling hanya candaan berupa sindiran untuk membuat suasana cair.

Di masa perkuliahan, saya merantau jauh dari keluarga. Di sini, prinsip hidup dan keyakinan saya diuji, karena di lingkungan baru itu saya menemukan banyak “wajah baru” Islam yang beragam, di luar Muhammadiyah dan NU. Salah satu pengalaman menarik adalah ketika saya selesai salat Jumat di masjid kampus, ada orang yang membagikan selebaran berisi artikel keislaman. Di bagian kepala artikel tersebut ada tulisan Hizbut Tahrir Indonesia. Saya membaca sekilas, dan tidak pernah tertarik dengan apa yang dipaparkan di dalam artikel tersebut, karena saya tidak tahu-menahu apa itu HTI dan apa tujuan mereka (pada tahun itu HTI belum dibubarkan). Selebaran itu saya lipat dan saya kantongi saja. Sampai di rumah, selebaran itu saya taruh begitu saja.

Baca Juga  Yang Diperlukan Itu Pengamalan Pancasila, Bukan Perubahan Pancasila

Mungkin, karena sikap cuek ini prinsip keagamaan saya tidak berubah sedikitpun. Hingga saat ini saya masih memiliki pandangan bahwa Islam di Indonesia itu kalau bukan Muhammadiyah ya NU. Kedua ormas tersebut masih menjaga keutuhan NKRI di tengah maraknya hingar bingar dunia. Saya yakin kedua ormas Islam ini akan selalu menjadi wajah Islam moderat di Indonesia.

Meskipun begitu, akhir-akhir ini banyak fitnah menerpa NU dan Muhammadiyah. Ada yang menuduh konsep Islam Nusantara itu sesat tanpa alasan yang jelas, ada pula yang mencatut nama Muhammadiyah menolak pengajian Gus Muwafiq dalam rangka Harlah NU ke-94 di Masjid Gede Kauman, dan masih banyak lagi. Sepertinya ada yang tidak suka kalau kedua ormas besar di Indonesia ini rukun. Menurut saya, NU dan Muhammadiyah harus melakukan sinergi dalam menjaga keharmonisan bangsa. Jangan sampai wajah islam ramah ini “dibajak” oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Mereka mengatasnamakan Islam tapi tidak menerapkan nilai-nilai Islam yang welas-asih, ramah, terbuka, dan moderat.

Fenomena media sosial saat ini dipenuhi dengan konten dakwah dari kalangan konservatif. NU dan Muhammadiyah saya pikir sedikit terlambat “turun gunung” ke media sosial, meski sekarang mulai mampu bersaing. Ustad dan para ulama dari kedua ormas itu pun juga memiliki media sosial dan mendakwahkan Islam rahmatan-lil-‘alamin melalui platform seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan Youtube.

Pekerjaan rumah dan tugas NU-Muhammadiyah masih banyak. Intoleransi, ujaran kebencian, caci maki, dan provokasi masih menghantui dunia nyata maupun media sosial. Sejatinya hal ini bisa diredam, terutama oleh pemerintah. Sayangnya, pemerintah tampak masih abai dan sebagian malah memanfaatkannya untuk kepentingan politik. Sebagai masyarakat biasa, yang bisa saya lakukan hanyalah “menularkan” nilai-nilai kebaikan yang diajarkan orangtua saya kepada lingkungan terdekat: keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar. Semoga NU, Muhammadiyah, dan NKRI selalu dalam perlindungan Allah. Al-Fatihah. []

Dicky Zulfikar Mohammad Sarjana Teknik yang Menyukai Tema Keislaman; Berdomisili di Balikpapan