Bahrudin Achmad Pegiat Sastra; Penerjemah Buku Nahwu Sufi: Linguistik Arab dalam Perspektif Tasawuf Syeikh Abdul Qadir al-Kuhin

Bidah Ritual Keislaman: Catatan Kritis untuk Ustaz Evie Effendi

2 min read

Salah satu ciri manusia yang baru belajar agama adalah “suka kagetan” dan menganggap bidah segala amaliah yang berbeda dari yang dia pelajari. Mulai dari tahlilan, yasinan, maulidan, membaca rabbī ighfirlī setelah al-Fātihah, selametan, rowahan, nujuh bulanan, sedekah lautan, dan lain-lain.

Atau, mungkin saja orang tersebut ahli agama, cuma waktu dulu belajar agama berhenti pada tataran fiqh syariat belaka. Dia lupa bahwa dalam mengkaji agama tidak hanya cukup pada konsep fiqh syariat, tetapi harus dibarengi dengan tasawuf, agar agama itu menjadi indah.

Ketika Ustaz Elvie “asal ucap” bahwa membaca rabbī ighfirlī pasca-membaca surah al-Fatihah dikatakan perbuatan bidah, maka ini satu bukti bahwa ilmu agama yang ia pelajari masih pada fase “pemula”, karena memberikan vonis serampangan pada salah satu amaliah yang dia sendiri belum pelajari. Saya bisa memakluminya, karena bisa saja tahapan keilmuannya hanya sampai itu.

Padahal berdasarkan hadis riwayat Imam al-Baihaqi dalam kitab al-Sunan al-Kubrā berikut;

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ: أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حِينَ قَالَ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِى آمِينَ

Dari Wail bin Hujr, dia pernah mendengar Rasulullah Saw ketika mengucapkan ghayr al-magdhūb ‘alayhim wa lā al-Dhāllīn’, beliau membaca rabbī ighfirlī, amin.

Habib Abdurrahman dalam kitab Bughyat al-Mustarsyidīn menyampaikan keterangan berikut;

قال الشريف العلامة طاهر بن حسين : لا يطلب من المأموم عند فراغ إمامه من الفاتحة قول رب اغفر لي ، وإنما يطلب منه التأمين فقط ، وقول ربي اغفر لي مطلوب من القارىء فقط في السكتة بين آخر الفاتحة وآمين

Al-Syarif Al-Allamah Thahir bin Husain berkata; ‘Tidak dianjurkan bagi makmum membaca rabbī ighfirlī ketika imam selesai membaca surah al-Fatihah. Ia hanya diminta membaca amin saja. Bacaan rabbī ighfirlī hanya dianjurkan bagi orang yang membaca saja, yaitu pada saat diam antara akhir surah al-Fatihah dan amin.

Baca Juga  Sosialisme Islam ala Kiai Ahmad Dahlan

Masih ada seabrek dalil lain yang menyatakan hal sama dengan utipan di atas. Masih mau bilang nggak ada dalilnya?

Mengenai fenomena ustaz-ustaz hijrah seperti ini, saya ingin bercerita panjang, begini bro.

Dahulu, ketika zaman pra-Islam atau sering kita sebut masa Jahiliyyah, alat musik rebana, terbangan, hadrah, beduk atau sejenisnya (yang terbuat dari kulit kambing, domba atau unta) digunakan untuk melakukan upacara keagamaan, mengiringi pentas kesenian para penyair, atau tarian-tarian erotis Jahiliyyah waktu itu.

Ketika Islam yang dibawa oleh Baginda Nabi SAW itu datang, tidak serta-merta dilarang alat kesenian tersebut. Beliau SAW tetap memperbolehkannya sambil pelan-pelan memasukkan unsur-unsur positif (nilai-nilai Islam). Begitu juga dengan puisi yang sudah mempopuler era Jahiliyyah, yang dulu berisi celaan, kesombongan, membanggakan diri, semangat perang. Oleh Nabi SAW diarahkan kepada bentuk pujian kepada sang Khalik, keimanan dan akhlak.

Tarian erotis yang dulu ditarikan oleh “sinden-sinden” cantik jahiliyyah, dengan baju semi transparan, digantikan oleh para penari pria dengan irama gerak yang sopan dan beradab. Hingga kini kita masih bisa melihat, memainkan dan merasakan indahnya alat musik tersebut.

Demikian cara Nabi SAW membawa Islam ke dalam sebuah masyarakat Jahiliyyah yang keras dan bejad waktu itu. Hasilnya, Islam mudah diterima oleh masyarakat Jahiliyyah. Yang tentunya selain faktor akhlak beliau yang luhur dan dapat dipercaya (al-Amīn).

Rupanya, cara Baginda Nabi SAW ini dicontoh oleh para Walisongo dalam menyebarkan Islam di Nusantara ini. Waktu itu, Hindu dan Buddha telah menjadi agama besar yang dianut oleh seluruh masyarakat. Kemudian Islam datang dengan cara yang indah dan santun dan tidak Serta-merta menganggap sesat ritual atau adat istiadat masyarakat waktu itu.

Baca Juga  Islam Mengajarkan Untuk Menjaga Alam

Walisongo mencoba membumikan ajaran Islam, menterjemahkan ayat-ayat al-Quran dalam bentuk yang indah dan mengena ke hati masyarakat. Tarian, alat musik dan ritual adat yang ada dijadikan sarana untuk memasukan inti ajaran Islam. Al-Quran yang diajarkan bukan lagi pada tataran huruf dan arti, tapi tataran hakikat. Pujian-pujian, istilah sembahyang, Gong, wayang, serat-serat, mantra-mantra dan masih banyak lagi, oleh Walisongo dimasukan nilai-nilai Islam.

Sandainya ketika itu, para ulama dan Walisongo langsung mengharamkan, membidahkan, bahkan memusyrikan adat istiadat waktu itu, tentu Islam tidak akan menjadi mayoritas dan membumi seperti sekarang ini. Atau bahkan bisa jadi kalian dan si Udin pun saat ini masih dalam keadaan musyrik, tidak mengenal apa itu Islam.

Sebagai penutup, saya hanya ingin menegaskan buat “antu” sekalian, Walisongo dan ulama-ulama terdahulu yang berjasa menyebarkan Islam di Nusantara ini adalah manusia-manusia pilihan. Keilmuan mereka jauh melebihi kita yang hanya belajar dari mesin google. Al-Quran, Hadits dan segala kaitan ilmunya, bukan saja mereka hapal, namun mereka mengemas dan mengebumikannya di Nusantara ini. Sehingga, sampai detik ini kita bisa merasakan manisnya Islam.

Sebagai catatan penutup. Jujur saya salut dengan Ustaz Evie dengan semangat dakwahnya. Namun, perlu kiranya memperluas bacaan tentang kajian2 agama. Mengapa? Agar Ustaz lebih luas pemahamannya, dan tidak terburu-buru melabeli bidah setiap amaliah yang ia sendiri belum tahu landasannya. Jangan kagetan, ya. [MZ]

Bahrudin Achmad Pegiat Sastra; Penerjemah Buku Nahwu Sufi: Linguistik Arab dalam Perspektif Tasawuf Syeikh Abdul Qadir al-Kuhin