Laura Enggiyani Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung

Benarkah Ajaran Islam Merugikan Perempuan?

2 min read

Kacamata publik akan kerap kabur pada seorang perempuan. Kita adalah perempuan yang sempurna. Setiap perempuan memiliki mahkota berbagai macam bentuk yang menghiasi dirinya.

Perempuan selalu diibaratkan dengan sebuah berlian. Kendati ditutupi kotoran, berlian tetap memiliki harga. Ia cantik seperti rembulan yang terus menyinari dunia di kegelapan malam. Tidak ada yang mampu meredupi cahayanya.

Kita terlahir dari rahim seorang perempuan dengan banjirnya darah yang dikeluarkan. Perjuangan Ibu Kartini juga tidak pernah kita lupakan hingga saat ini—memperjuangkan hak-hak wanita, dan memperjuangkan sebuah kesetaraan bagi perempuan Indonesia. Kecantikan rupa dan kelembutan hati akan selalu melekat pada diri seorang perempuan.

Bisa kita lihat secara nyata di Indonesia maupun dunia bahwa perempuan sudah mulai memimpin. Keunggulan perempuan sudah dinyatakan dengan tindakan keberanian yang mereka miliki. Namun, siapa sangka, kritikan terhadap perempuan juga masih terus hidup dan berkembang. Perempuan akan terus salah dalam kacamata kehidupan.

Perempuan dalam Islam

Islam sangat memuliakan perempuan. Bahkan kata “mulia” secara langsung akan menggambarkan sosok perempuan. Al-Qur’an menjelaskan betapa istimewanya perempuan dalam agama Islam.

Islam sangat menjaga kehormatan dan martabat seorang perempuan. Aturan yang diberikan pada perempuan bukan untuk memenjara mereka, melainkan untuk menjujung kemulian seorang perempuan. Apa lagi seorang perempuan yang sudah melahirkan, maka kedudukannya akan semakin mulia dan semakin dihormati dalam islam.

Diceritakan Abu Hurairah bahwa seseorang datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?”

Nabi menjawab, “Ibumu.” Dan orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab “Ibumu.” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Nabi menjawab, “Kemudian ayahmu.” Seorang ibu tiga derajat di atas ayah.

Baca Juga  Jilbab Korona, Ideologis atau Instrumentalis?

Islam sangat memperhatikan seorang perempuan, mulai dari cara berpakaian, berjalan, hingga berinteraksi dalam lingkungannya. Islam senantiasa menjaga dan membentuk perempuan. Gelar sebagai perempuan saleha akan menjadi identitas terbaik bagi muslimah, apabila ia senantiasa menjaga dirinya.

Islam Tidak Memenjara Perempuan

Orang awam atau seseorang yang tidak mendalami sebuah agama memang akan melihat dan berpandangan bahwa perempuan tidak diuntungkan dalam Islam. Orang awam mengatakan bahwa pakaian dalam Islam bagi perempuan sangat amat menyulitkan.

Mereka tidak mengetahui saja bahwa dengan cara berpakaian yang begitu tertutup, hal itu untuk menjaga dari kejahatan sosial pada seorang perempuan. Kita mengetahui bahwa berpakaian menjadi hak setiap orang. Namun, perempuan berpakaian yang terbuka kerap menjadi sasaran oknum pelecehan seksual.

Dua permen terjatuh ke tanah, satu sudah terbuka dari bungkusnya dan satunya lagi masih terbungkus. Secara otomatis kita akan mengambil dan memakan yang masih terbungkus. Begitu juga dengan pakaian yang perempuaan kenakan. Apabila menggunakan pakaian yang memperlihatkan auratnya, maka akan timbul pikiran kotor hingga kelanjutan tindakan yang tidak senonoh.

Meriasi diri bagi perempuan yang belum menikah juga menjadi pandangan yang aneh bagi orang awam. Mereka beropini bahwa merias wajah adalah hak bagi seorang perempuan, baik sudah menikah maupun belum.

Islam sendiri memperbolehkan perempuan untuk menghiasi dirinya. “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan” (HR. Muslim).  Dalam berhias ini begitu banyak hadis yang menerangkan. Islam tentu saja memperbolehkan perempuan untuk merias, tetapi tidaklah berlebihan.

Dari Ibn Mas’ud, Nabi bersabda, “Binasalah oranag-orang yang berlebih-lebihan.” Berlebih-lebihan itu tidak baik, apalagi bermaksud untuk menyombangkan diri dan memerkan. Hal ini tentu menimbulkan dosa. Berlebih-lebihan dalam berpenampilan akan menarik lawan jenis, dan hal ini akan menimbulkan sebuah kemaksiatan nantinya.

Baca Juga  Menjadi Istri Ideal dan Suami Idaman

Berpenampilan secara berlebih-lebihan akan untuk menarik perhatian lawan jenis, yang akan menimbulkan kemaksiatan itu akan menimbulkan dosa besar, bisa mengarah pada zina.

Jadi, menurut saya, Islam tidaklah menjadi penjara bagi seorang perempuan. Perempuan diberi aturan yang mungkin terlihat sangat menyiksa, tetapi di balik itu semua untuk menjaga martabat seorang perempuan.

Melihat juga lingkungan yang kita tempatkan, norma kesopanan dan norma kesusilaan masih hidup di tengah-tengah masyarakat. Mengikuti anjuran-anjuran dalam Islam bagi perempuan akan menyalamatkan diri di dunia dan akhirat. Seperti magic, Islam sudah terlebih dahulu menyesuaikan umatnya terhadap lingkungan kehidupan bagi umat Islam.

Di dunia kita tidak akan mendapatkan omongan yang buruk mengenai diri kita, dan di akhirat kita tidak mendapatkan siksa neraka yang amat pedih, apabila kita mengikuti ajaran syariat dalam Islam. Sebenarnya omongan buruk tentang diri kita itu timbul karena ketidakacuhan terhadap syariat Islam.

“Jika seorang perempuan selalu menjaga salat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, ‘Masuklah ke surga melalui pintu mana pun yang engkau suka’” (HR Ahmad dan Ibn Hibban dalam Shahih al Jami’). [AR]

Laura Enggiyani Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung