Ni'am Khurotul Asna Mahasiswa UIN Satu Tulungagung

Ciptakan Lingkungan Adil Gender dengan Saling Dukung dan Apresiasi Ibu Rumah Tangga

2 min read

Masih banyak kita temui anggapan keliru terkait bagaimana masyarakat kita memandang pekerjaan domestik pada perempuan itu terkesan kolot dan terbelakang. Padahal, pandangan tersebut hanya akan mendeskreditkan pekerjaan domestik, alih-alih keberadaan pekerjaan ini amat penting dalam memenuhi kebutuhan di lingkup manapun.

Konstruksi gender yang mengakar dalam masyarakat mengakibatkan perempuan terbelenggu dalam gerak ruangnya. Kesepakatan keluarga tidak serta merta mengundang anggapan baik oleh masyarakat yang cara pandangnya berbeda. Mengapa demikian?

Masyarakat masih menilai bahwa pekerjaan ibu rumah tangga bukan pekerjaan. Meskipun kerja ini adalah sebuah kesepakatan kedua belah pihak antara suami dan istri. Misal saja, ketika perempuan hanya bergerak dalam ruang domestik rumah, dan laki-laki yang bekerja di publik. Masyarakat terkadang menganggap istri belum berdaya dan mampu secara mandiri finansialnya.

Anggapan ini secara turun temurun kemudian menyebar kepada masyarakat bahwa pekerjaan ibu rumah tangga tidak pernah dianggap sebagai aktivitas kerja. Padahal dalam kesehariannya, ibu harus bangun paling pagi untuk mengurus anak dan rumah, memastikan kondisi rumah tetap baik sampai mereka pulang, menemani belajar anak  hingga mereka tidur.

Lantas, apakah dengan rutinitas keseharian ibu di rumah masih belum cukup meyakinkan bahwa itu semua adalah pekerjaan? Apakah bukan karena peran ibu di domestik dapat membuat keluarga itu berharga dan berdaya? Dan bagaimana pula merubah paradigma masyarakat bahwa peran sebagai ibu rumah tangga adalah peran yang berharga dan besar pengaruhnya?

Mengubah Cara Pandang Kerja Domestik itu Pekerjaan

Sempat membaca hasil Forum Group Discussion (FGD) Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) pemerhati isu kerja perawatan di Indonesia 2022 kemarin menghasilkan kajian yang menyoroti bagaimana mendorong lingkungan yang mendukung kerja perawatan adil gender.

Baca Juga  Benarkah Ajaran Islam Merugikan Perempuan?

Kajian tersebut menyebutkan bahwa pekerjaan domestik dari seorang ibu menunjukkan bagaimana pembagian kerja berdasarkan seksual menempatkan pekerjaan berbeda antara laki-laki dan perempuan. Anggapan inilah yang kemudian mengakar dan terus berkembang di masyarakat.

Kemudian, anggapan lain bahwa perempuan memiliki kewajiban dan kodrat dari peran biologis. Peran biologis perempuan seperti melahirkan dan menyusui, memunculkan pandangan di masyarakat bahwa seiring adanya peran biologis perempuan tersebut perempuan juga bertanggungjawab dalam urusan memelihara anak dan mengurus rumah tangga. Dalam konteks ini, bukankah perempuan menjadi pihak yang banyak menanggung beban besar karena adanya pandangan tentang kewajiban dan kodrat perempuan di masyarakat.

Oleh karena itu, untuk mengubah cara pandang yang timpang, kiranya kita harus sama-sama memberi keyakinan bahwa kerja domestik itu pekerjaan. Sebab kerja-kerja merawat dan memelihara dalam pengerjaannya tidak gampang karena memerlukan banyak waktu, tenaga, dan sumber daya.

Selain itu, kerja-kerja domestik (perawatan) memberikan impak besar bagi keberlanjutan masyarakat, perekonomian, kesehatan fisik maupun mental bagi individu, keluarga, komunitas, sampai menjaga sekaligus mendukung masyarakat yang sehat.

Amat kontradiktif ketika kita melihat bahwa masih jarang pula timbul pengakuan  bahwa ibu rumah tangga adalah peran hebat yang telah perempuan emban. Atau, kalaupun ada itu tak sedikit hanya berhenti dalam ruang-ruang pengadaan pengetahuan di tingkat atas. Untuk sampai pada pemahaman masyarakat sampai ke bawah kiranya masih banyak yang belum tercapai.

Maka hendaknya perlu pengadaan sosialisasi pengajaran yang lebih luas dan menjangkau ke tingkat bawah. Kaitannya dengan keharusan dukungan dan apresiasi bagi orang tua termasuk ibu rumah tangga yang beban pengurusan rumah dan keluarga tak kalah besar.

Menciptakan Ekosistem yang Apresiatif dan Saling Mendukung

Baca Juga  Huda Shaarawi: Perintis Pergerakan Wanita yang Mengakhiri Kehidupan Harem di Mesir

Iklilah Muzayyanah, dosen gender Universitas Indonesia saat pelatihan Akademi Mubadalah Muda menyampaikan materi yang salah satu poinnya adalah bagaimana mewujudkan perubahan lingkungan yang apresiatif dan inklusif. Bahwa untuk mewujudkan perubahan baik tersebut, pandangan di lingkungan, masyarakat, harus dirubah. Dari yang sama sekali tidak apresiatif menjadi relasi yang inklusif, apresiatif, berkeadilan, dan saling mendukung.

Jika tidak demikian, perempuan yang berperan di domestik akan tetap berpandangan bahwa perannya tersebut nihil nilai daripada dengan perempuan yang berperan di ranah publik. Ia beranggapan bahwa dirinya kurang berharga karena hanya berperan menjadi ibu rumah tangga.

Perempuan akan berbangga dengan perannya apabila dukungan dari lingkup keluarga dan lingkungan sekitarnya mengapresiasi dan saling mendukung. Jika hanya perempuan saja yang mengakui dirinya telah berharga dari peran yang dijalani tanpa ada apresiasi dari keluarga dan lingkungan sekitar, maka tidak akan merubah apapun.

Maka, merubah sistem di lingkungan itu penting. Baik dari keluarga, saudara, lingkungan sekitar, harus bersama-sama saling mengapresiasi dan menguatkan. Agar perempuan ini tumbuh dengan percaya diri, bangga dengan perannya, dan dari situ ia akan terus belajar untuk menjadi yang lebih baik.

Banyak hal-hal yang bisa mengapresiasi peran domestik perempuan. Melalui kerja-kerja domestik, kebutuhan untuk keberlangsungan hidup, kesehatan, dan kebutuhan aktivitas tertentu akan terjamin dengan baik. Barangkali masyarakat hanya melihat dari satu sisi saja bahwa kerja domestik dalam pengerjaannya hanya ada di belakang dan terlihat mudah dan sepele.

Itulah, pentingnya kita melihat sisi lebih dalam dan saling mengapresiasi bahwa kerja domestik itu berperan penuh dalam tercapainya keberlangsungan. Tanpanya, kita tidak memiliki daya penuh untuk berupaya melakukan sesuatu dan aktivitas tidak akan berjalan.

Ni'am Khurotul Asna Mahasiswa UIN Satu Tulungagung