Evi Nurul Auliyah Mahasiswa Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Menjadi Kaya Raya Seperti Sahabat Nabi

2 min read

sumber: merriam-webster.com

Menjadi kaya raya merupakan dambaan setiap manusia. Untuk mencapainya, banyak teladan yang bisa kita contoh dan ikuti jejaknya. Salah satunya adalah sahabat Nabi yang sangat kaya, pebisnis sukses dan sangat  dermawan bernama Abdurrahman bin ‘Auf. Namanya sangat terkenal di kalangan umat Islam, terutama kalangan pebisnis. Abdurrahman bin ‘Auf masuk dalam golongan 10 sahabat nabi yang mendapatkan kabar dari nabi Muhammad sebagai penghuni surga. Beliau juga termasuk delapan sahabat nabi yang pertama memeluk agama Islam.

Perjalanan Abdurrahman dimulai ketika ia ikut hijrah bersama Nabi Muhammad ke Madinah. Ketika itu, Nabi mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Saat itu Abdurrahman bin ‘Auf  dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi al-Anshari yang terkenal sangat kaya raya di Madinah dan memiliki kebun kurma yang sangat luas. Sa’ad berniat memberikan setengah dari hartanya kapada Abdurrahman bin ‘Auf sebagai saudaranya, namun Abdurrahman bin ‘Auf menolaknya dengan halus. Abdurrrahman hanya ingin ditunjukkan jalan menuju pasar, dan ia mulai berjuang menjalankan bisnisnya di sana.

Abdurrahman bin ‘Auf menjalankan bisnisnya dengan penuh kegigihan dan kejujuran, hingga ia menjadi pebisnis sukses dan bergelimang harta. Setelah merasa memiliki harta yang cukup, ia pun meminta izin kepada Nabi untuk melangsungkan pernikahan. Ia menikah dengan wanita dari kaum Anshar dengan mahar seberat dua biji kurma. Padahal saat itu jarang orang dari kaum Muhajirin yang dapat menikahi kaum Anshar. Hal itu merupakan salah satu kemuliaan yang telah diberikan oleh Allah kepada Abdurrahman bin Auff.

Meski telah menjadi orang kaya raya, Abdurrahman tak pernah pelit dan sombong. Nabi pernah memberikan nasihat kepada Abdurrahman bin ‘Auf. “Wahai putra ‘Auf, kamu adalah orang kaya, engkau akan masuk surga dengan merangkak. Karena itu, pinjamkan kekayaanmu pada Allah dan Allah pasti memudahkan langkah kakimu.” Karenanya, Abdurrahman bin ‘Auf tak pernah lupa untuk mensedekahkan hartanya untuk kepentingan umat di jalan Allah. Semakin bertambah banyak hartanya, semakin bertambah banyak pula sedekahnya. Semenjak itu, hartanya semakin melimpah dan bisnisnya semakin maju.

Baca Juga  Kritik M. Said Ramadhan al-Būtī terhadap Konsep Maslahat Najm al-Dīn al-Tūfī [2]

Dengan kekayaannya, Abdurrahman bin ‘Auf pernah memberikan seluruh barang yang dibawa oleh kafilahnya kepada penduduk Madinah: ia membagikan sebanyak 700 unta kepada penduduk Madinah sebagai kendaraan pengangkutnya, menyumbangkan 500 kuda untuk kepentingan pasukan perang, memberikan 1500 kendaraan penuh logistik perang, memberikan dua ratus uqiyah (1 uqiyah = 31,7475 gram emas)  emas untuk perang Tabuk.

Karena kedermawanannya, seluruh penduduk Madinah ikut menikmati kekayaaan Abdurrahman bin ‘Auf. Ia tak pernah merasa akan kekurangan dan rugi ketika menyedekahkan hartanya. Bahkan, karena kedermawannya, hartanya terus melimpah dan bisnisnya semakin maju. Ia menjadikan bisnis dan harta kekayaannya sebagai jalan untuk mendapatkan ridha Allah dan menegakkan agama Allah.

Suatu ketika, Nabi Muhammad saw menyampaikan pidato kepada umat Muslim sebagai bentuk penyemangat agar umat Islam menginfaqkan hartanya di jalan Allah. Maka tak butuh waktu lama, Abdurrahman bin ‘Auf langsung menginfaqkan separuh harta kekayaannya yang bernilai 2000 dinar atau setara 2,4 milyar.

Abdurrahman bin ‘Auf tak segan-segan menginfaqkan hartanya untuk kepentingan agama Allah, karena baginya, harta kekayaan merupakan titipan dari Allah dan juga merupakan tanggung jawab bagi setiap manusia. Harta bukan untuk menggapai kesuksesan dunia semata, namun juga kesuksesan akhirat. Karena sedeqahnya itu, ia didoakan oleh Nabi. “Semoga Allah memberikan keberkahan untuk sedekahmu dan hartamu, serta harta yang kau tinggalkan untuk keluargamu.”

Sepeninggal Rasulullah, Abdurrahman bin ‘Auf memiliki tanggung jawab untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan Ummahatul Mukminin (para istri Rasulullah). Bahkan setelah ia wafat, ia memberikan wasiat supaya memberikan kebun yang dibelinya seharga 400 keping emas untuk diberikan kepada para istri Nabi. Abdurrahman bin ‘Auf wafat meninggalkan harta yang sangat banyak. Di antaranya 1.000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3.000 ekor kambing, dan masing-masing istrinya mendapatkan 80.000 dinar. Jika semuanya ditotal mencapai 3.027 triliun.

Baca Juga  Muslim Indonesia Pengikut Syafiiyah, Bukan Syafi’i? Catatan Kritis untuk Ustaz Farhan Abu Furaihan

Karena kemuliaannya tersebut, saat beliau wafat, Ali bin Abi Thalib berkata, “Engkau telah mendapatkan kasih sayang dari Allah dan engkau telah berhasil menundukkan kepalsuan dunia. Semoga Allah senantiasa merahmatimu.”

Melihat perjalanan Abdurrahman bin ‘Auf, kita dapat memahami bahwa semakin banyak harta yang kita miliki, seharusnya menambah rasa dermawan dan rasa syukur kita kepada Allah. Karena harta orang yang bersedekah tidak akan pernah habis, justru sebaliknya, akan terus berlipat ganda. Sesuai sabda Nabi yang disampaikan kepada Abdurrahman bin ‘Auf, “Pinjamkan kekayaanmu pada Allah dan Allah pasti memudahkan langkah kakimu.”

Rezeki adalah titipan, jadikan harta kekayaanmu sebagai jalan menuju kesuksesan dunia, sukses membela agama dan sukses akhirat. []

Evi Nurul Auliyah Mahasiswa Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Ampel Surabaya