Abdulloh Faizin Dosen Unisda Lamongan; Guru di MAN Babat dan MTs Al Balagh Bulutigo Laren Lamongan

Hijrah dan Produk Pasta Gigi, Apa Hubungannya?

1 min read

Fenomena hijrah ngawur sangat seporadis seperti akhir-akhir ini. Di antara produknya adalah “pasta gigi hijrah”. Bukan hanya melabeli pasta gigi saja dengan stempel hijrah, tapi banyak produk lain yang bermodus sama, membungkus produk dengan label agama agar kelihatan menarik, religius, plus nyunnah. Demi apa, tentu untuk menarik konsumen membeli produk tersebut.

Hijrah tak lagi sesuatu yang sakral dan agung. Malah praktik ini hanya berorientasikan materi tanpa menguatkan substansi/isi. Serendah itukah definisi hijrah yang selama ini digaungkan mereka? Jika kemudian hijrah dikonsiderankan hanya pada pasta gigi dan pakaian, hal itu jelas tak masuk di akal bahkan tak ada relevansinya dengan agama.

Apakah fenomena masyarakat Muslim dewasa ini sudah cukup cerdik memahami komodifikasi agama seperti ini? Bahwa simbol agama berupa produk pasta gigi yang dilabeli sunnah—dan contoh lainnya—telah mengalami komodifikasi; dikaburkan dan bahkan dieksploitasi sebagai komoditas “barang” untuk diperdagangkan demi sebuah keuntingan materi semata.

Simbol “agama” yang masuk dalam pasta gigi diharapkan dapat dinikmati begitu luas oleh kalangan masyarakat yang ingin terlihat lebih syar’i. Dalam konteks ini, netizen berperan menjadi seorang pengendali atau aktor dari suatu informasi yang sedang diperbincangkan, yaitu pengendali dalam memproduksi suatu pesan, yang melahirkan persepsi-persepsi masyarakat netizen lain.

Apakah dengan dengan menggunakan pasta gigi dengan bermerk tertentu dianggap telah sempurna dalam berhijrah? Segampang itukah mendeskripsikan hijrah? Apa hubungan pasta gigi dan hijrah yang sesungguhnya? Eksploitasi makna hijrah dengan ambisi keduniawian seperti ini seperti upaya ‘mempermainkan’ agama. Seperti firman Allah:

الذين اتخذوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الحياة الدنيا فاليوم ننساهم (نتركهم في النار) كَمَا نَسُواْ لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هذا (بتركهم العمل له) وَمَا كَانُواْ بئاياتنا يَجْحَدُونَ  (أي وكما جحدوا

Baca Juga  Cara Mahasiswa Menjadi Sufi di Era Digital

“Yaitu orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-mainan dan senda-gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.” Maka pada hari ini, hari kiamat, Kami melupakan mereka) Kami membiarkan mereka di dalam neraka (sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini) di mana mereka mengabaikan beramal baik untuk menghadapinya (dan sebagaimana mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami) sebagaimana mereka telah berlaku ingkar terhadapnya”

Mengapa iklan tersebut sangat disayangkan? Karena iklah itu turut menyeret agama dalam mencari harta dunia. Menggunakan istilah agama sebagai kedok untuk meraup keutungan tertentu hanya akan menempatkan agama pada posisi tidak mulia lagi.  Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah: 41:

{ وَلاَ تَشْتَرُواْ بآياتي ثَمَنًا قَلِيلاً } [ البقرة : 41 ] وقد مر ذلك وبالجملة فكان غرضهم من ذلك الكتمان : أخذ الأموال بسبب ذلك ، فهذا هو المراد من اشترائهم بذلك ثمناً قليلاً .

“Dan janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah” (QS. al-Baqarah: 41). Dalam Tafsīr al-Khāzin disebutkan bahwa tujuan menyembunyikan hukum-hukum Allah tersebut demi mengambil harta inilah maksud menjual ayat-ayat Allah dengan harga remeh dalam ayat ini.

Mari kita dengar pesan Habib Abdullah al-Syatiri:

كل بكسبك ولا تأكل بدينك

Artinya: Makanlah dengan hasil usahamu, bukan makan karena menjual agamamu.

Di sinilah entitas nilai agama dikerdilkan serta dikorbankan menjadi komoditas ekonomi. Produk tersebut hanya dijadikan alat dan strategi marketing. Entah kita yang pernah mendengar tentang iklan tersebut punya ghirah melawan atau diam dengan kemungkaran ini.

Mewaspadai produk-produk yang dijual dengan modus agama seperti di atas adalah perlu. Setidaknya masyarakat Muslim kita harus lebih cermat memahami segala produk hasil komodifikasi agama.

Berjualan itu penting demi sebuah kelangsungan hidup, tapi tak sepatutnya memperalat agama demi kepentingan individu semata. Ungkapkan dan tawarkan produk dagangan sewajarnya agar berkah dunia akhirat.

Abdulloh Faizin Dosen Unisda Lamongan; Guru di MAN Babat dan MTs Al Balagh Bulutigo Laren Lamongan