Mohamad Khusnial Muhtar Santri dan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Belajar Filsafat Pengorbanan dari Hari Raya Qurban

2 min read

Hari Raya Qurban adalah salah satu perayaan penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Selain sebagai momen kegembiraan, Hari Raya Qurban juga memiliki aspek filosofis yang mendalam. Di balik ritual penyembelihan hewan qurban, terkandung nilai-nilai pengorbanan yang menjadi dasar ajaran Islam. Artikel ini akan menjelajahi filosofi pengorbanan yang terkait dengan Hari Raya Qurban dan mengeksplorasi makna yang terkandung di dalamnya.

Hari Raya Qurban didasari oleh kisah Nabi Ibrahim yang terdapat dalam Al-Quran. Kisah di mana Nabi Ibrahim diperintahkan dan siap untuk mengorbankan putranya sebagai tanda ketaatan dan pengabdian kepada Allah SWT. Namun, Allah menggantikan korban tersebut dengan mengirimkan seekor domba gibas yang gemuk.

Dengan itu, ritual penyembelihan hewan qurban menjadi bagian penting dalam perayaan Hari Raya Qurban. Umat Muslim yang mampu secara finansial dianjurkan untuk menyembelih hewan qurban, seperti sapi, unta, kambing, atau domba. Hal itu bertujuan sebagai tindakan ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT, mengikuti jejak Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan yang paling dicintainya untuk Allah; sebagai lambang rasa syukur dan pengakuan akan karunia-Nya dalam kehidupan; dan ajang mempererat tali persaudaraan, kepedulian sosial, dan berbagi kepada sesama yang kurang beruntung.

Terkait pengorbanan, konsep pengorbanan dapat ditemukan dalam Al-Quran dan Hadis, yang merupakan sumber utama ajaran Islam. Al-Quran mengandung berbagai ayat yang menggarisbawahi pentingnya pengorbanan sebagai bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah. Dan Hadis, perkataan dan tindakan Nabi Muhammad SAW, juga memberikan petunjuk tentang pengorbanan dalam berbagai konteks kehidupan.

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj [22]:37)

Pengorbanan dalam konteks keagamaan memiliki makna yang mendalam. Ia mencakup pengorbanan jiwa, waktu, harta, dan usaha dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pengorbanan bukan hanya tentang tindakan fisik semata, tetapi juga melibatkan perubahan sikap dan pemikiran dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga  Neksus Jurnalisme dan Ajaran Islam: Pencarian dan Pengungkap Kebenaran

Adapun mengapa pengorbanan hewan menjadi bagian penting dalam Hari Raya Qurban? Pengorbanan hewan mengandung makna simbolis yang melambangkan pengorbanan diri manusia. Hewan-hewan ini menjadi perantara bagi umat Muslim untuk mengekspresikan pengabdian dan kesetiaan mereka kepada Allah, sebagaimana Ibrahim dan Ismail melakukannya.

Pengorbanan dalam Hari Raya Qurban menunjukkan kesetiaan dan ketaatan seorang hamba kepada Tuhan. Seperti Ibrahim yang siap mengorbankan putranya, pengorbanan dalam perayaan ini memperkuat ikatan spiritual antara manusia dengan Allah SWT. Ia menjadi wujud pengabdian yang mendalam dan kesediaan untuk mengorbankan yang paling dicintai demi ketaatan kepada-Nya.

Selain mengekspresikan kesetiaan kepada Tuhan, pengorbanan dalam Hari Raya Qurban juga merupakan bentuk pengungkapan kasih sayang dan kepedulian sosial. Melalui pembagian daging qurban kepada sesama yang membutuhkan, umat Muslim dapat memperlihatkan kepedulian dan kebersamaan dalam memenuhi kebutuhan orang lain.

Pengorbanan dalam Hari Raya Qurban mengajarkan umat Muslim untuk peduli dan berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Melalui aksi nyata membagikan daging qurban kepada mereka yang kurang beruntung, kita dapat memperkuat ikatan sosial dan membantu meringankan beban hidup mereka.

Pengorbanan dalam Hari Raya Qurban mengingatkan kita akan pentingnya pengorbanan dalam mencapai kedekatan dengan Tuhan. Pengorbanan tersebut melibatkan pengorbanan diri secara keseluruhan, termasuk jiwa, waktu, dan harta, sebagai bentuk pengabdian dan ketaatan kepada-Nya.

Dan Melalui pengorbanan dalam Hari Raya Qurban, kita diajarkan untuk menghargai nilai-nilai kehidupan dan menyadari keterbatasan manusia. Kita memahami bahwa kehidupan ini adalah anugerah yang harus dijalani dengan rasa syukur, dan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam mengendalikan takdirnya.

Hari Raya Qurban menjadi momen yang memperlihatkan betapa pentingnya pengorbanan dalam kehidupan seorang Muslim. Filosofi pengorbanan yang terkait dengan Hari Raya Qurban mengajarkan nilai-nilai seperti kepedulian, kesetiaan, dan kasih sayang. Dengan memahami makna filosofis di balik pengorbanan dalam Hari Raya Qurban, kita dapat mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari kita dan meraih kedekatan dengan Tuhan serta kesejahteraan sosial yang lebih baik.

Baca Juga  Antara Arabisasi Islam, Arabisasi Indonesia, dan Arabisasi Politik

Pengorbanan adalah cermin kebesaran jiwa yang mengilhami kebaikan kepada yang lain. Pengorbanan bukanlah kehilangan, melainkan investasi yang tak ternilai harganya dalam menciptakan dunia yang lebih baik. Ketika kita mengorbankan sesuatu yang kita cintai, kita membuktikan bahwa cinta bukan tentang kepemilikan, tetapi tentang kepedulian tanpa batas.

Pengorbanan adalah jembatan yang menghubungkan kedermawanan dan kesetiaan dalam menyelaraskan hati dan tindakan. Pengorbanan adalah pilar yang mengokohkan hubungan manusia dengan Tuhan dan dengan sesama manusia.

Mohamad Khusnial Muhtar Santri dan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya