



Peradaban Islam dimulai sejak Nabi Muhammad SAW membentuk Daulah Islamiyyah di Madinah (622-632 M). Kemudian dilanjutkan dengan masa Khulafah al-Rasyidin (632-660 M), Kekhalifahan Umayyah (661-750 M), Kekhalifahan Abbasiyah (750-1268 M), dan diakhiri dengan runtuhnya Kekhalifahan Turki Usmani (1924 M). Pada masa Kekhalifahan Abbasiyah (750-1268 M), khususnya pada masa khalifah Harun al-Rasyid dan kemudian Al-Ma’mun, peradaban Islam mengalami puncak kejayaannya. Peradaban Islam memberikan kontribusi yang sangat luar biasa terhadap perkembangan peradaban dunia, yang mana tanpanya, Barat mungkin masih terjebak dalam masa-masa kegelapan yang kelam.
Bagaimana dengan peradaban Islam sekarang? Apa kontribusi umat Islam pada perkembangan peradaban dunia dewasa ini? Sampai sejauhmana kontribusi masyarakat Islam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi?
Ketika kita sebagai umat Islam dihadapkan pada satu otokritik terkait dengan peradaban, sudah seharusnya kita sadar diri, berkontemplasi, mencari dan menemukan solusi. Akan tetapi, alih-alih kita berpikir dan berintrospeksi diri tentang kenapa kita menjadi seperti ini dan tidak segemilang dulu, banyak dari kita yang malah membual, mencari dalih, bahkan menghujat habis-habisan siapa yang mempertanyakan itu. Diakui atau tidak, begitulah adanya.
Mari kita renungkan sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari sebagai berikut.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ وَكَانَ أَصْحَابُنَا يَنْهَوْنَا وَنَحْنُ غِلْمَانٌ أَنْ نَحْلِفَ بِالشَّهَادَةِ وَالْعَهْدِ
Artinya: “Dari ‘Abdullah mengatakan, “Pernah Nabi SAW ditanya; “Siapakah manusia yang terbaik?”, Nabi menjawab: “yaitu generasiku, kemudian generasi sesudah mereka, kemudian generasi sesudah mereka, kemudian akan datang suatu kaum yang kesaksian mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului kesaksian mereka.”” (HR. Bukhari)
Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa generasi terbaik adalah generasi semasa Nabi Muhammad atau generasi para sahabat. Akan tetapi, apa kiranya yang membuat mereka menjadi generasi terbaik? Apakah mereka memiliki ilmu keislaman yang sangat luar biasa? Ternyata sangat tidak.
Kalau misalkan kita bandingkan soal hadis, Imam Bukhari mengetahui dan hafal setidak-tidaknya 100.000 hadis, jauh lebih banyak dibandingkan sahabat yang paling banyak hafal hadis, yakni Abu Hurairah dengan jumlah hafalan 5.374 hadis. Apalagi jika dibandingkan dengan Imam Ahmad bin Hanbal yang hafal sekitar satu juta hadis?
Sahabat terkemuka seperti Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali; mereka hafal hadis tidak sampai mencapai seribu. Jadi, jumlah hadis yang dihafal para sahabat dibandingkan dengan para ulama beberapa generasi setelahnya, jauh lebih sedikit. Lantas, kenapa para sahabat yang jumlah hafalan hadisnya jauh lebih sedikit dikatakan sebagai generasi terbaik?
Kalau misalkan soal Al-Qur’an, semua imam mazhab hafal Al-Qur’an di luar kepala. Semakin Islam tersebar ke segala penjuru, jika bicara jumlah, tentu jumlah penghafal Al-Qur’an pada era generasi sahabat kalah jauh dengan sekarang. Bahkan di era sekarang pun, anak-anak yang bahkan memiliki keterbatasan melihat, kelemahan otak, mereka bisa hafal Al-Qur’an.
Kembali ke pertanyaan awal, kenapa mereka dianggap sebagai generasi terbaik? Apa yang menjadi ukuran bahwa mereka adalah generasi terbaik?
Jawaban yang paling penting di antara semua jawaban untuk menjawab pertanyaan tersebut ialah karena para sahabat bukan sekadar penghafal, melainkan pelaksana. Setiap satu ayat turun, bersama Rasulullah SAW para sahabat pelajari dan pahami dengan sungguh-sungguh. Kemudian tanpa berkelit, mereka menjalankannya secara konsekuen. Jadi, para sahabat yang mempelajari Al-Qur’an kemudian merealisasikan dalam kehidupan sehari-harinya, itulah yang menjadikan para sahabat sebagai generasi terbaik.
Bagaimana dengan generasi muslim zaman sekarang?
Generasi muslim zaman sekarang sangat berbeda dengan generasi sahabat. Apa yang membedakan? Generasi muslim zaman sekarang ditekankan untuk menghafal Al-Qur’an, menghafal hadis, ilmu Fiqh, dan sebagainya; tetapi tidak dengan pelaksanaannya.
Mempelajari dan memahami Al-Qur’an, hadis, ilmu Fiqh, dan sebagainya tersebut apalagi sampai hafal, tentu itu adalah suatu keistimewaan tersendiri. Akan tetapi, jika itu tidak diterapkan dan direalisasikan dalam kehidupan, hanya berhenti di pikiran dan lisan saja, ya buat apa? Itulah problem generasi muslim zaman sekarang.
أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ عَالِمٌ لَا يَنْفَعُهُ بِعِلْمِه
Artinya: “Orang yang paling pedih siksanya di hari kiamat adalah seorang alim namun ilmunya tidak memberi manfaat baginya” (HR. Thabrani)
Coba lihat sekolah-sekolah Islam atau pesantren-pesantren. Dalam kajian pembelajarannya, ada bab yang mengatur tentang bebersih. Pun tidak jarang digaungkan, bahkan sampai dipasang stiker atau semacamnya berisi kalimat “kebersihan sebagian daripada iman” atau “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu”. Akan tetapi, kenapa sampah-sampah berserakan di luar halaman atau bahkan di dalam kelas sekalipun?
Dan lagi, santri-santri di pesantren Indonesia sangat identik dengan penyakit kulit skabies atau yang sering disebut gudik. Maraknya penyakit tersebut di dunia pesantren, yakin semata-mata karena cobaan untuk menjadi seorang santri? Atau karena kurang terjaganya kebersihan diri dan lingkungan?
Berdasarkan data dari IQAir, 8 dari 10 negara terkotor di dunia adalah negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim. Tidak terkecuali Indonesia, negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia. Jadi, mana bentuk implementasi dari apa yang diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah?
Seandainya generasi muslim zaman sekarang benar-benar menerapkan satu ajaran Islam misalkan tentang kebersihan, maka mereka pasti akan memenuhi dunia ini dengan kebersihan. Mereka pasti akan berjuang habis-habisan dalam upaya untuk menciptakan teknologi ramah lingkungan, mereka akan habis-habisan dalam upaya untuk mengurangi polusi dan lain sebagainya; mengingat dalam Al-Qur’an dan Sunnah diajarkan tentang menjaga dan memelihara kebersihan.
Coba kita datang ke negara-negara Eropa misal Prancis, Inggris, Swiss dan sebagainya yang katanya bukan negara-negara muslim, hampir saja kita tidak bisa menemukan sampah tercecer di sana. Akan tetapi coba kita datang ke negara yang populasi muslimnya banyak, Arab Saudi atau Pakistan misalnya; kita akan menemukan sampah tercecer begitu mudahnya, dan bahkan dalam jumlah yang banyak.
Adalah sebuah fakta bahwa negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim pada umumnya kotor. Apakah Islam tidak mengajarkan kebersihan dan memelihara lingkungan? Tentu tidak. Dalam Islam jelas-jelas ada dalilnya. Semua orang Islam tahu dan bahkan hafal betul dalilnya, hanya saja mereka tidak melaksanakannya.
Muhammad Abduh, seorang tokoh pembaharu Islam terkemuka dari Mesir, pernah mengatakan: “Aku pergi ke negara Barat, aku lihat Islam namun aku tidak melihat muslim. Dan Aku pergi ke negara Arab, aku melihat muslim namun tidak melihat Islam.”
Kenapa beliau mengatakan demikian? Karena beliau menyaksikan betapa indah, bersih, teratur, dan rapinya kota Paris; penduduknya semangat dalam bekerja, jujur, disiplin, tepat waktu, sopan, ramah dan bersahabat. Sementara kemudian beliau bandingkan dengan Kairo, yang mana pada waktu itu penduduknya pemalas, jorok, jam karet, menggunakan dalil-dalil agama sebagai pembenaran baginya bersikap brutal, mengganggu keamanan, dan merusak ketertiban lingkungan. (mmsm)
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga