Mohamad Ali Hisyam Dosen Fakultas Keislaman, Universitas Trunojoyo Madura

Menikmati Alquran Sebagai Spiritualitas Terdalam di Bulan Ramadan

2 min read

sumber: worldatlas.com

Di bulan penuh ampunan ini kaum muslim berkesempatan merefleksi tapak tilas perjuangan Nabi Muhammad, saat ia melepaskan ego kemanusiaannya untuk senantiasa mengasah energi ruhaninya di Gua Hira. Di dataran tinggi yang tandus itulah Muhammad berkomunikasi intens dengan Allah selama Ramadan, dan berujung pada turunnya wahyu pertama Alquran.

Walau saban tahun Ramadan rutin bertamu, akan tetapi limpahan rahmat dan rahasia kebesaran pahala di dalamnya selalu mampu mengusir jemu. Tak hanya itu, untuk menyambutnya manusia selalu ditikam rasa rindu. Setiap kita bersua dengan Ramadan, senantiasa ada nuansa kebeningan dan kedamaian yang berbeda, dari masa ke masa. Kesadaraan dan pemaknaan terhadapnya sanggup mengundang nilai-nilai relijius yang berdimensi baru dan menyegarkan.

Gema Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar adalah magnet kembar yang diburu oleh segenap muslimin ketika bulan puasa tiba. Peringatan turunnya Alquran salah satunya ditandai dengan bahana pembacaan terhadapnya di mana-mana. Umat Islam khusyuk mengakrabi kitab ini lewat media tadarus, sema’an, ceramah, hingga kajian-kajian ilmiah. Bila didekati dengan kejernihan kalbu, senandung Alquran mampu meluluhkan angkara murka menjadi penyesalan dan kepasrahan yang syahdu.

Keberislaman sahabat Umar adalah contohnya. Saat kemarahannya kepada Muhammad mencapai puncaknya, hadirlah provokasi dari Abu Jahal yang menganggap Umar tak lebih dari Macan Ompong dengan nyali yang kosong. Dengan kesumat yang mendidih, jagoan jahiliyah ini beranjak ke rumah Nabi sembari menghunus pedang di genggamannya yang kekar. Ia berbulat tekad hendak membunuh Muhammad. Belum sampai ke kediaman Rasul, Umar melintas di rumah saudara perempuannya yang sedang melantunkan ayat-ayat Alquran.

Tak disangka, surah Thāhā yang dibacakan sang adik membuat Umar tertegun. Ia menajamkan pendengarannya. Pada saat bersamaan Allah pun menajamkan kepekaan nurani Umar dengan membidikkan makna ayat tersebut langsung ke jantungnya. Pendekar Arab itu kemudian tersungkur dengan air mata yang mengucur. Keganasan Umar seketika hilang dan berganti tangis ketulusan masuk Islam. Ia pun membaiat diri sebagai pembela Islam dan pengikut Alquran yang sejati.

Baca Juga  Menjadi Muslim yang Disenangi Tuhan dan Banyak Orang, Why Not?

Oleh karena itu, sebagai pelaku puasa kita dituntut senantiasa tekun menelisik kisi-kisi seputar Ramadan. Salah satu caranya dengan merangkai kembali senarai kisah islami yang menyentuh dan inspiratif. Dengan membaca dan merenungkan kisah-kisah sarat hikmah secara holistik, kita berpotensi menemukan spiritualitas terdalam yang terkandung di bulan Seribu Bulan ini, guna kemudian mewujudkannya sebagai pijar kesadaran yang tervisualisasi dalam pikiran, sikap, perkataan, dan tindakan sosial yang nyata.

Menurut Muzaffer Aljerrahi (2009), pelita utama di balik kegemilangan Ramadan adalah dihadirkannya Alquran sebagai pedoman bagi manusia dan semesta. Alquran-lah media paling spesial bagi setiap hamba untuk berkomunikasi dengan Tuhannya serta menjadi tangga yang akan mengantarnya menuju surga. Karenanya, Alquran disebut sebagai garis kehidupan yang paling aman. Ujung yang satu berada di tangan Tuhan, sementara ujung yang lain menjuntai ke dunia menyapa setiap pembaca dan pengamalnya. Dengan Alquran, bentangan Ramadan menjelma bulan yang bercahaya.

Nabi pernah bersabda, “Surga sangat merindukan empat golongan di antara umatku. Mereka adalah para pelantun Alquran, orang-orang yang sudi menjaga lidah mereka dari pembicaraan palsu, para dermawan yang peduli memberi makan kaum lapar, serta pelaku puasa di bulan Ramadan.” Keempat karakteristik luhur ini sejatinya bisa ditunaikan sekaligus pada saat Ramadan. Tentu dengan bekal hati yang dilandasi iman dan ketulusan. Tak akan pernah ada orang yang menolak untuk dirindukan oleh surga.

Islam mengajarkan agar dari waktu ke waktu, manusia senantiasa berpikir dan introspeksi: seperti apakah ruh ibadah, lebih-lebih puasa, yang kita lakukan? Paling tidak, dari pembacaan terhadap esensi dan keagungan Ramadan, kita dapat memetakan pelaku puasa ke dalam tiga kategori. Pertama, puasa yang hanya sekedar menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan seksual semenjak fajar hingga surya terbenam. Sukar membayangkan bila manusia yang mengaku hamba Allah pada akhirnya hanya mampu menjalankan tipe puasa sejenis ini.

Baca Juga  Eko-Populisme dan Wajah Alam Semesta Pasca-Covid-19

Kedua, pelaku puasa yang tak hanya mampu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa namun juga mampu membentengi seluruh raga dan jiwanya dari perbuatan-perbuatan negatif dan memudarkan pahala puasa. Golongan ini merupakan sahabat “intim” Tuhan yang penuh kesetiaan mengamalkan ruh agama.

Sementara kategori yang ketiga, adalah pelaku puasa yang lebih dari sekadar menahan seluruh organ tubuhnya dari hal-hal yang membatalkan hukum dan pahala puasa. Kelompok ini berpuasa semata mengharap rida Allah. Mereka hanya ingin “bermesraan dengan Tuhan” tanpa sebersitpun mengharapkan pamrih dan balasan. Baginya, surga dengan segala kenikmatannya tidaklah sebanding dengan kebesaran Allah. Imam Al-Ghazali menyebut golongan ini sebagai elitnya para elit (khawās al-khawās).

Pada titik inilah, manusia sejatinya sedang diajak untuk berlomba menangkap manfaat dari pelbagai pahala yang digaransikan Allah dalam Ramadan, dengan jalan memenuhi waktu kita dengan aktivitas positif. Sebab, sejatinya Ramadan berlalu sangat cepat bagaikan lintasan kehidupan yang seolah tidak kita rasakan. Ramadan melaju seperti waktu salat yang tiba-tiba menghilang sekelebat kilat. Isilah Ramadan dengan mengurangi tidur, memperbanyak ibadah, dan menyalakan hati di kedamaian sunyi.

Di keheningan puncak Sinai, Musa pernah merajuk kepada Allah untuk diperkenankan menikmati perjumpaannya dengan Allah. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah menjawab, “Musa, bagaimana engkau mampu memandangi kemahaindahan-Ku jika terdapat 70.000 hijab di antara kita? Engkau takkan sanggup memandangku. Tetapi, menjelang Hari Kebangkitan kelak, Aku akan memberikan suatu bulan sebagai rahmat bagi umat Muhammad. Bulan tersebut dinamakan Ramadan.”

Mohamad Ali Hisyam Dosen Fakultas Keislaman, Universitas Trunojoyo Madura

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *