Nuzulul Qur’an: Momentum Memperkokoh Kerukunan Umat Beragama di Indonesia
Pada malam turunnya Al-Qur’an ini, perlu kiranya muhasabah diri untuk membangun kembali spirit kerukunan yang telah diperintahkan dalam Al-Qur’an.
Pada malam turunnya Al-Qur’an ini, perlu kiranya muhasabah diri untuk membangun kembali spirit kerukunan yang telah diperintahkan dalam Al-Qur’an.


Ajaran syariat Islam bisa diterapkan di masa para Khalifah, di masa Dinasti Islam dan seterusnya karena dahulu banyak yang dapat menerima amanah dan personal yang amanah. Ternyata sudah ditegaskan dalam hadis di atas bahwa amanah itu pertama dicabut dari umat manusia.


Penggunaan nazala dan derivasinya dengan makna “turun” itu dimaksudkan sebagai sebuah pengagungan akan kemahakuasaan dan kemahabesaran Tuhan, bukan hendak menunjukkan Tuhan berada di suatu tempat “di atas atau tinggi”, dan dari sana Dia menurunkan wahyu-Nya


Allah ada dimana-mana. Dia ada di setiap ruang dan waktu, dan tidak di ruang dan waktu tertentu saja. Akan tetapi, istilah ada dimana-mana itu tidak dalam arti menempati ruang dan waktu, karena ruang dan waktu yang merupakan bagian dari sifat alam ini adalah ciptaan-Nya. Melainkan dalam arti sifat-Nya. Atau bisa dikatakan, meminjam istilah kaum Sufi, Allah “meliputi” Ruang dan Waktu. Karena Dia Maha Meliputi (Muhithun bikulli syai’).


Gema Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar adalah magnet kembar yang diburu oleh segenap muslimin ketika bulan puasa tiba.

