Thobib Al-Asyhar Dosen Psikologi Islam Program Kajian Timteng dan Islam SKSG Universitas Indonesia, Alumni Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak.

Mengelola Problem Psikologis Saat New Normal

3 min read

Masa New Normal Life (kehidupan normal baru) ramai dibincang. Selama pandemi Covid-19, memang banyak istilah baru muncul. Ada lockdown, physical distancing, protokol kesehatan, PSBB, OTG, ODP, PDP, dan lain-lain. Selain publik mumet karena tekanan ekonomi, istilah-istilah itu bisa jadi berkontribusi menambah stres.

Secara sederhana, “New Normal” itu kehidupan baru pasca #stayathome yang mengharuskan “bersahabat” dengan virus. Artinya, kita mesti mulai beraktivitas seperti biasa. Bekerja ke kantor, jualan ke pasar, belanja ke mall, beribadah ke rumah ibadah, belajar di sekolah, dan lain-lain dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Namun jujur, situasi kehidupan baru seperti ini membuat kebanyakan orang masih “gamang”. Kenapa? Karena beraktivitas di luar rumah dalam “ancaman” tertular virus, kapanpun. Setinggi apapun kewaspadaan seseorang, tetap saja muncul perasaan insecure (tidak nyaman). Secara psikologis muncul rasa tidak tenang, gelisah, dan takut akan kondisi saat ini. Apalagi manusia sering lengah dalam situasi tertentu.

Lalu bagaimana cara kita  mengelola perasaaan insecure dari ancaman penularan virus dan tekanan ekonomi saat New Normal ini? Pertanyaan ini penting diajukan supaya kita mampu menghadapinya dengan jiwa yang lebih tenang. Poin pokoknya adalah bagaimana kita tidak terbelenggu oleh kecemasan berlebihan yang dapat merusak spirit untuk dapat survive di tengah pandemi.

Lalu apa tips yang bagus untuk menekan perasaan tidak nyaman (insecure) di masa transisi ini? Banyak faktor yang mempengaruhi rasa seseorang, baik kognitif, afektif, maupun spiritual.

Pertama, pahami semua masalah yang timbul secara cerdas. Potretlah semua hal yang dirasakan dari banyak sudut pandang. Kemampuan kognitif untuk mengerti suatu masalah sangat dibutuhkan. Para psikolog banyak mengajarkan cara bagaimana peran koginitif dapat membantu menyelesaikan masalah psikologis. Tidak sedikit seseorang terjerumus dalam sikap dan perilaku nista karena rendahnya kemampuan kognitif untuk memahami suatu masalah.

Baca Juga  Melawan Kebencian dan Menebar Cinta-Kasih dengan Musik

Banyak problem hidup muncul justru berawal dari persepsi (pemahaman) yang salah atau berpikir berlebih (overthinking). Masalah menjadi besar atau kecil tergantung bagaimana kita memandang. Manusia diberi kemampuan oleh Tuhan dalam memberikan “nama” atau “sifat” atas sesuatu. Di sini peran akal sangat dominan. Nabi Adam diberikan anugerah oleh Tuhan berupa akal yang melebihi kemampuan dari malaikat (QS: 2: 31). Namun jika kita salah dalam mendefinisikan atau memberikan sifat atas sesuatu justru akan menjadi awal malapetaka.

Begitu banyak ayat Al-Quran yang menekankan agar manusia menggunakan kemampuan kognitifnya dalam banyak hal. Kognitif adalah unsur termulia yang diinsert Tuhan dalam diri manusia. Para psikoterapis hampir tidak pernah meninggalkan “terapi kognitif” dalam memulihkan jiwa pasien yang terganggu.

Masa New Normal ibaratnya api dalam sekam. Situasi yang dianggap “normal” di tengah ketaknormalan itu sendiri. Alasannya hanya satu, hidup harus tetap jalan. Hidup tidak boleh stuck tanpa arah yang jelas. Pada saat yang sama, muncul persoalan psikologis publik karena adanya ancaman penularan virus dan tekanan hidup. Ibarat kata, maju kena, mundur kena. Di sinilah peran kognitif menjadi sangat penting, agar tidak dihantui oleh rasa tidak nyaman sepanjang waktu.

Kedua, rileks dengan mengendalikan emosi lebih tenang dan stabil. Selain aspek kognitif, satu unsur psikologis yang mempengaruhi “rasa” tidak nyaman adalah naik turunnya emosi (afektif). Emosi menjadi salah satu unsur paling rentan akibat masalah sosial di era New Normal ini. Kekhawatiran tertular virus dari orang lain banyak menimbulkan rasa curiga dan mudah berprasangka buruk kepada orang lain. Belum lagi karena tekanan ekonomi yang menjadi sebab semua problem baru menimpa, seperti masalah pertengkaran keluarga, pendidikan yang terbengkalai, pengangguran meningkat, kejahatan jalanan, dan lain-lain.sa

Baca Juga  Keberlanjutan Pandemi dan Akselerasi “Kecuekan” Sosial

Cara jitu agar emosi tetap stabil adalah santai (rileks) dalam menyikapi ketidakpastian kondisi, meskipun tetap menjaga kejernihan atau kewarasan berpikir. Bersikap rileks bukan berarti abai, bukan pula beranggapan secara berlebihan sehingga menimbulkan perasaan kacau dan tidak tenang. Ingat, pengendalian emosi akan menunjukkan kedewasaan individu dalam menyikapi fenomena kehidupan.

Ketiga, hadapi sepenuh jiwa dan pasrahkan kepada Dzat Yang Maha Berkehendak. Banyak motivator bilang, masalah bukan untuk dihindari, tapi harus dihadapi dan diselesaikan. Lari dari masalah malah akan menambah beban masalah itu sendiri. Bersikap realistis adalah pilihan yang tepat. Jika di belakang ada musuh dengan senjata lengkap dan di depan ada sungai, maka tidak ada jalan lain kecuali menyeberangi sungai, meskipun arus air sangat deras.

Jika kita mampu menghadapi semua rintangan dengan kesungguhan jiwa, maka Tuhan tidak akan membiarkan hamba-Nya menderita terlalu lama. Pepatah Arab mengatakan: man jadda wajada (sesiapa yang bersungguh-sungguh, ia pasti sukses). Hanya saja, di akhir usaha kita punya sikap yang utuh bahwa seluruh kehidupan kita serahkan kepada Yang Mahakuasa. Pasrah di ujung usaha maksimal adalah ciri utama orang beriman (QS: Al-Thalaq: 3).

Keempat, lakukan charging spiritual setiap saat. Spiritualitas adalah salah satu daya tahan manusia terhadap penyakit, krisis, tekanan hidup, dan seterusnya. Karenanya, saat kapanpun spiritualitas kita perlu “disegarkan” secara terus menerus. Spiritualitas adalah kekuatan terdalam manusia yang mampu membangkitkan pikiran dan emosi secara konstruktif dan positif.

Martin Seligman (2005), psikolog asal Amerika, mengemukakan bahwa untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan bermakna, hal yang harus dilakukan adalah dengan mengaitkan diri kepada sesuatu di luar diri (beyond to The Other). Semakin besar keyakinan (believe) dimana individu menambatkan diri, semakin tinggi kebahagiaan autentik bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itulah banyak orang mendambakan makna dan tujuan hidup dengan memperkuat aspek “spirituality”, khususnya melalui jalur institusi agama yang kita yakini sebagai bagian dari ekspresi psikologis yang mengharapkan intervensi ketuhanan.

Baca Juga  Rindu Gus Dur yang Akhirnya Tuntas Terlampiaskan

Kelima, yakini bahwa Tuhan pemilik segalanya. Kelanjutan terdalam dari upaya charging spiritualitas adalah pengakuan akan kelemahan diri manusia sekaligus pengakuan bahwa Tuhan adalah Dzat Pemilik segalanya yang ada dalam kehidupan ini. Tanpa ada rasa ini, kekuatan spiritualitas kita akan menjadi sia-sia karena masih menyimpan sikap takabbur (sombong) yang menjadi penghalang atas keluarnya pertolongan Tuhan.

Dalam khazanah sufisme, ada istilah khauf dan raja’, yaitu rasa ketakutan dan harapan kepada Allah sebagai bagian dari implementasi ketersambungan manusia kepada-Nya saat menjalankan komunikasi spiritual. Khauf dan raja’ merupakan dua pasang terapi yang dapat mengobati hati yang lemah. Keduanya adalah motivataor yang dapat menggerakkan dan membimbing pada kebaikan dan ketaatan sehingga akan mengantarkan puncak spiritualitas tertinggi.

Dari kelima cara menghadapi rasa tindak nyaman saat New Normal di atas dapat diperas menjadi lebih singkat, yaitu memahami masalah dengan baik, kemampuan mengontrol diri, menghadapi masalah dengan realistis, tingkatkan ketahanan spiritual, dan pengakuan atas kelemahan manusia sekaligus kemahaperkasaan Tuhan. Inti dari semuanya, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, kecuali  masalah itu dibiarkan. [MZ]

Thobib Al-Asyhar Dosen Psikologi Islam Program Kajian Timteng dan Islam SKSG Universitas Indonesia, Alumni Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak.