Muhammad Abdul Rahman Al Chudaifi Santri di Bumi Damai Al Muhibbin yakni salah satu pesantren di Tambakberas Jombang

Determinasi Teknologi: Membincang Pesantren di Tengah Pandemi

3 min read

iqra.id

Pandemi Covid 19 telah menghancurkan berbagai sistem kehidupan di semua negara baik itu kesehatan, ekonomi, politik dan pendidikan. Semua dipaksa menerima dampak pandemi ini. Namun di sisi lain, dalam sektor tertentu seperti pendidikan harus tetap berjalan baik dalam lingkup pendidikan formal maupun yang non-formal seperti pondok pesantren.

Eksistensi pondok pesantren sebagai institusi, tidak lepas dari fungsinya yang menyentuh dimensi kehidupan masyarakat sekitarnya sehingga melahirkan berbagai perubahan sosial di tengah-tengah masyarakat. Fungsi-fungsi pesantren tersebut menurut Eksan adalah sebagai lembaga pendidikan, lembaga dakwah, lembaga pengkaderan ulama dan lembaga pengembangan masyarakat.

Selama Pandemi, banyak pesantren di Indonesia mengikuti opsi pemerintah dalam menghadapi bahaya pandemi ini dengan melakukan Social Distanching, mengambil jarak sosial dengan cara mengembalikan para santri pada orang tua masing-masing. Terhitung  mulai minggu pertama bulan Maret 2020 hingga waktu yang belum ditentukan mereka diijinkan pulang ke rumah masing-masing. Pemulangan ini berlaku sampai batas waktu yang belum ditentukan dan menunggu perkembangan daripada pandemi itu sendiri.

Dari titik inilah, pembelajaran melalui ruang maya menjadi satu-satunya pilihan yang bisa dilakukan pesantren untuk menanggulangi kekosongan waktu santri ketika berada di rumah. Meskipun dalam penelitian Muhammad Murtadlo menyatakan bahwa di pesantren modern yang tidak hanya mengajarkan pengajian agama seperti bandongan dan sorogan, tingkat kesiapan melakukan pembelajaran online mencapai 61,7%, sedangkan pesantren yang umumnya salafiyah yang hanya mengajarkan pengajian agama ternyata menunjukkan bahwa hanya 45% yang siap mencoba pembelajaran online.

Gambaran ini dapat dipahami bahwa kesadaran pembelajaran dengan menggunakan tehnologi informasi sudah disadari hampir mendekati 50%. Akan tetapi, sebuah kesadaran bahwa pesantren perlu mengenal dan melaksanakan pembelajaran daring (dalam jaringan) itu cukup menarik dan perlu mendapatkan perhatian dan pembinaan.

Baca Juga  Urgensi Tarekat di Era Modernisasi

Determinasi Teknologi

Dengan sebuah  dasar pemikiran tentang perubahan yang terjadi diberbagai macam cara berkomunikasi yang akan membentuk keberadaan manusia itu sendiri, maka muncullah teori Determinasi. Salah satu pemicu perubahan adalah teknologi, karena teknologi dapat membentuk cara berpikir dan perilaku seseorang dalam masyarakat, dan teknologi pada akhirnya akan mengarah pada perpindahan manusia dari satu abad teknologi ke abad teknologi lainnya..

Dalam artian, baik secara langsung maupun tidak, teknologi merupakan penggerak utama roda perubahan sosial. Meskipun diakui atau tidak, teknologi memiliki kaitan yang erat dengan masyarakat. Fenomena inilah yang disebut dengan determinasi teknologi.

Marshall Mc Luhan, seorang tokoh determinian menyatakan bahwa budaya di bentuk oleh cara manusia berkomunikasi. Dia memaparkan sejumlah tahapan. Pertama, penemuan teknologi komunikasi menyebabkan perubahan budaya. Kedua, perubahan dalam jenis komunikasi akhirnya membentuk pola kehidupan manusia.

Ketiga, manusia membuat teknologi untuk berkomunikasi dan peralatan untuk berkomunikasi yang digunakan itu akhirnya membentuk atau mempengaruhi kehidupan mereka sendiri. Manusia merasa, berpikir dan belajar atas apa yang akan mereka lakukan dikarenakan pesan atau konten dalam teknologi komunikasi menyediakan hal itu.

Ada sudut pandang lain mengenai Teori Determinisme Teknologi. Feenberg memetakan dua konsep teori teknologi yakni instrumental dan substantif. Teori instrumental berfokus pada teknologi sebagai “alat” yang senantiasa melayani kepentingan pemakainya, sedangkan teori substantif memiliki keyakinan bahwa teknologi bersifat dinamis dan mampu mengubah kehidupan sosial.

Bingkai Teknologi Turats

Di saat pendemi seperti ini, pembelajaran kitab kuning selama pandemi terpaksa dilakukan dengan cara online. Salah satu teknisnya yaitu Ustadz membaca kitab secara direkam atau secara streaming yang diikuti para santri di rumah. kegiatan ini secara teknis dari pihak pengajar memang mudah, karena pendidik merekam materi pelajaran kapan saja untuk kemudian disiarkan bila sudah waktunya atau pada waktu yang sudah ditentukan. Dari sisi waktu dan tempat, memang pembacaan kitab dengan daring menjadi sangat fleksibel.

Baca Juga  Antara Sains dan Soto, Tak Harus Ada Seteru

Pembelajaran kitab turast secara online mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan pengajian kitab daring yaitu bisa menjangkau lebih banyak santri, karena bisa dilakukan kapan saja asal sudah ditetapkan waktunya. Sedangkan dari aspek kelemahannya adalah kurang terkontrol. Santri yang komitmen mengaji tidak bisa terkontrol. Secara daring, mereka hadir mengikuti pembelajaran, namun pada kenyataanya bisa jadi ada sebagian santri tidak mengikuti proses pengajian.

Model pembelajaran kitab online belakangan ini  memang menjadi salah satu alternatif pengajian, apalagi selama masa pandemi. Namun jauh sebelum pandemi beberapa kyai muda NU seperti Kyai Marzuki Mustamar Malang sudah memulai dengan tradisi pengajian dengan cara daring lewat pengajian Kitab kuning. Kegiatan ini memang sebagai ikhtiar dalam mengkaji kitab yang bisa diikuti seluruh lapisan masyarakat yang ada di berbagai penjuru dunia. Santri atau peserta didik tidak perlu masuk dan tinggal di pondok, namun dia bisa ikut dari mana saja.

Pemanfaatan teknologi komunikasi untuk kepentingan pembelajaran seperti yang digambarkan di atas menunjukkan penerapan pemikiran Mc Luhan dalam teori determinisme teknologi, yakni teknologi komunikasi menyediakan pesan dan membentuk perilaku dunia pesantren. Dalam situasi pandemi seperti ini, mereka belajar, merasa dan berpikir tentang apa yang akan mereka lakukan karena pesan yang diterima teknologi komunikasi (aplikasi perekam, video editor dan media sosial) menyediakan untuk itu. Dalam perspektif Feenberg, pemanfaatan media sosial untuk kepentingan pembelajaran online menunjukkan berlakunya substantif karena pemanfaatan teknologi tersebut disertai dengan keyakinan menjadi pengganti pertemuan tatap muka.

Akhirnya, selalu ada hikmah yang bisa diambil dari apa yang telah terjadi. Pesan itu merupakan salah satu filsafat utama dari Viktor Frankl yang sangat relevan saat ini. Seperti banyak bermunculannya pendakwah muda dari golongan pesantren yang ikut meramaikan media sosial dengan dakwah-dakwahnya yang sarat moderasi dan toleransi. Hal ini secara tidak langsung juga berfungsi sebagai kontra narasi dari kelompok radikal yang lebih dulu meleberkan sayapnya di jagat media maya. (mmsm)

Muhammad Abdul Rahman Al Chudaifi Santri di Bumi Damai Al Muhibbin yakni salah satu pesantren di Tambakberas Jombang