Indonesia Tanpa Pesantren
Pesantren tetap dibutuhkan karena berperan penting dalam pendidikan, pembentukan adab, dakwah, dan pelayanan masyarakat.
Pesantren tetap dibutuhkan karena berperan penting dalam pendidikan, pembentukan adab, dakwah, dan pelayanan masyarakat.


Dengan menelusuri perbedaan mendasar antara adab dan sistem feodal, artikel ini menunjukkan bahwa relasi santri dan kiai bukanlah bentuk penindasan atau paksaan, melainkan hubungan etis dan spiritual yang berakar pada penghormatan dan pencaria


Hubungan kyai dan santri bukan sekadar guru–murid, tetapi ikatan spiritual, intelektual, dan moral yang dilandasi kepercayaan serta adab.


Ruang aman di pesantren perlu ditegakkan dan ditegaskan, agar tidak ada korban yang bergelimpangan lagi.


Jangan lupakan oknum pesantren yang melakukan kekerasan seksual dan manipulasi juga merusak citra pesantren.


Tayangan media kerap menimbulkan stigma negatif terhadap pesantren. Padahal, pesantren berperan penting membentuk akhlak, tradisi, dan karakter bangsa.


Citra pesantren kerap tampil berbeda di layar media, antara kesalehan dan kontroversi. Artikel ini menelisik bagaimana framing media membentuk persepsi publik tentang pesantren, sekaligus mengajak pembaca melihat ulang realitas di balik “cermin retak” pemberitaan.


Melalui pendekatan hermeneutik dan etnosemiotika, tulisan ini membedah cara masyarakat menafsirkan pesantren, antara empati, kritik, dan bias modernitas, serta mengajak pesantren melakukan autokritik agar mampu berkomunikasi dengan dialek zaman tanpa kehilangan jiwanya


Artikel ini mengulas sejarah panjang santri di Indonesia serta empat tipe santri menurut Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara belajar dan berkhidmat sebagai kunci keberkahan dan kesempurnaan seorang santri


Nyai Khoiriyah Hasyim, ulama perempuan visioner, figur yang mendirikan sekolah perempuan pertama di Makkah. Pemikirannya melampaui zaman, membawa cahaya bagi perempuan dalam pendidikan, sosial, dan keislaman.

