Bhinneka Tunggal Ika di Tanah Papua

3 min read

lamanberita.co

Indonesia begitu beragam, simbol kenegaraan kita Bhineka Tunggal Ika, berbeda tapi satu. Sebuah ideologi yang menggambarkan sebuah keharmonisan di negara kesatuan republik Indonesia. Tapi ada saja diskrimanasi terus dilakukan bagi masyarakat Papua. Belajar dari papua pengalaman penulis melihat bagaimana kopi dan rokok menjadi modal jejaring dalam kehidupan masyarakat di Asmat.

Keberagaman etnis di Asmat antara masyarakat asli dengan pendatang, menunjukan bahwa Asmat termasuk wilayah Papua yang sangat multikultur. Penulisan tentang modal sosial masyarakat Asmat tergambar dalam tulisan novel Sekarningsih berjudul “Osakat Anak Asmat” merupakan budaya gotong royong hakikatnya dapat menumbuhkan nilai-nilai kebersamaan, seperti yang dicontohkan oleh masyarakat Asmat dalam berbagai aktivitas.

Dengan kebersamaan, keselarasan cara hidup dan keharmonisan dalam lingkungan sosial akan terjalin dengan baik. Masyarakat Asmat telah membuktikan bahwa nilai kebersamaan yang menjadi prinsip dasar hidup mereka mampu menyatukan mereka (Sekarningsih, 2002). Penulisan ini berbeda dengan Sekarningsih yang lebih melihat pada relasi sosial budaya dari masyarakat lokal di Asmat. Sedangkan penulisan ini lebih kepada hasil pengamatan penulis terhadap relasi masyarakat lintas etnis selama berada di Asmat khususnya di kampong Atambut.

Selama empat bulan penulis tinggal di Asmat tepatnya di kampung Atambut. Kampung Atambut sendiri merupakan kampung yang jauh dari ibu kota Asmat yaitu Agats. Perjalanan untuk bisa sampai ke kampung Atambut, harus ke salah satu distrik Atsj. Waktu yang ditempuh dari Atjs kurang lebih 3-4 jam barulah tiba di kampung Atambut.

Transportasi laut yang digunakan untuk bisa tiba di kampung atambut menggunakan ketinting (sejenis perahu kecil) yang didesain dengan mesin. Kampung Atambut mayoritas masyarakat asli Asmat, namun karena masyarakat asli telah berbaur dengan para pendatang yang notabene adalah pengajar (guru) sekolah dasar, perawat dan pelayan khusus (Pendeta) yang di tugaskan melayani. Sebagian besar masyarakat di kampung Atambut masih menggunakan Bahasa daerah.

Baca Juga  Pemikiran Teologi Antroposentris Hassan Hanafi

Penulis awalnya kesulitan dalam berinteraksi, akan tetapi komunikasi masih tetap berjalan dengan cukup baik. Karena para siswa sekolah dasar telah mampu menggunakan bahasa keseharian umum misalnya sa (saya) dan ko (kamu) yang sering digunakan secara kolektif di Papua.

Dalam pengalaman semasa di Atambut, penulis mengamati bahwa kurangnya pendidikan, serta kebiasaan masyarakat yang bekerja di hutan, laut dan mencari kayu gaharu (untuk di jual ke pedagang), indikator lain ketertutupan terhadap pendatang baru. Ketiadaan trust (kepercayaan) membuat masyarakat tidak menginginkan berkomunikasi dengan orang dari luar (finjiru) atau berambut lurus. Akan tetapi ada hal yang menarik bagi penulis ketika melihat bahwa kopi dan rokok dapat menjadi modal jejaring dengan masyarakat asli di kampung Atambut.

Keseharian Masyarakat Atambut

Atambut merupakan kampung yang dihuni oleh sekelompok masyarakat pribumi di Asmat. Seperti yang diketahui banyak orang Asmat di juluki kota seribu papan. Bukan hanya kota Agats yang menjadi pusat kota Asmat. Namun seluruh kampung di Asmat masyarakatnya tinggal di atas papan. Masyarakat atambut masih sangat tradisional. Keseharian mereka jauh dari kemewahan, sangat sederhana, akses yang jauh dari kota. sehingga masyarakat tidak paham teknologi, proses mengenal teknologi berawal dari datangnya para guru, perawat yang mengabdi di kampung Atambut.

Begitupun proses interaksi dengan para pedagang yang berkunjung dan berjualan. Keseharian masyarakat atambut sebagaimana masyarakat biasanya memenuhi kebutuhan primer yaitu mencari makan. Befak (rumah panggung). Masyarakat di kampung Atambut dalam keseharian memiliki kebiasaan di rumah bujang (rumah jew). Rumah jew adalah rumah adat dari masyarakat di Asmat, berdasarkan lisan masyarakat di Asmat, rumah jew ini didirikan untuk tempat para laki-laki dibentuk untuk mampu melindungi kampung mereka dari bahaya eksternal.

Baca Juga  Pribumisasi Islam Adalah Idealisme Gus Dur (3)

Rumah jew selain sebagai tempat belajar strategis perang, ternyata memiliki kekuatan mistis sebab berkaitan dengan roh para leluhur. Namun rumah jew dalam keseharian digunakan oleh para laki-laki untuk tempat beristirahat, bercerita dll. Pengalaman penulis ketika berada di Atambut, pernah beberapa kali mengunjungi rumah jew, disana pada hari biasa (bukan disaat perayaan adat), rumah jew dapat dimasuki oleh orang dari luar. Rumah jew juga tempat yang di khususkan oleh kaum laki-laki, dan bukan untuk perempuan.

Sambil meminum kopi bersama, dan menghisap rokok.  Kebiasaan ini bukan hanya dilakukan oleh kaum laki-laki, namun perempuan dan bahkan anak-anak pun melakukannya. Bagi orang diluar sana hal tersebut di anggap aneh. Namun bagi masyarakat di atambut minum kopi dan menghisap rokok sudah menjadi kebiasaan turun temurun. Hal ini seperti yang dikemukakan Bourdieu dalam teorinya habitus yang merupakan kebiasaan dalam masyarakat.

Kebiasaan merokok dan minum kopi sendiri telah dilakukan sejak lama. Berdasarkan hasil cerita dengan bapak seorang anak mantan kepala desa, “kami di sini sudah biasa, dulu orang tua kami kenal kopi dan rokok dari para penginjil katolik. Mereka bawa itu banyak sekali dan di bagikan oleh masyarakat”. Jadi dapat dikatakan bahwa pola yang digunakan dalam missionaris dengan cara membiasakan masyarakat dengan kopi dan rokok.

Berbeda dengan pandangan Marx tentang agama sebagai candu masyarakat, dimana doktrin digunakan memanipulasi para pengikutnya. Dari hasil pengamatan penulis menemukan bahwa pada awalnya masyarakat tidak mengetahui kopi dan rokok sehingga ketika di kenalkan oleh para penginjil masyarakat seakan patuh dan mau mengikuti perintah yaitu mengikuti kepercayaan Kristen.

Kopi dan rokok sejauh penglihatan penulis dikonsumsi oleh seluruh masyarakat Atambut, mulai dari anak di bawah umur sampai dewasa (lintas gender). Hal demikian menjadi perhatian bersama ketika anak di bawah umur mengkonsumsi rokok. Berdasarkan hasil cerita dengan salah seorang pemuda bernama Habel, ia mengatakan bahwa hal tersebut telah menjadi kebiasaan turun temurun.

Baca Juga  Kartun Nabi, Potret Akumulasi Kapital di Industri Media

Seperti yang di kemukakan Berger dan Luckmann, tentang habit masyarakat adalah suatu kenyataan objektif yang di dalamnya terdapat proses pelembagaan yang dibangun dengan pembiasaan (habitualisation). Jika habitualisasi atau pembiasaan ini terus berlangsung maka akan terjadi pengendapan dan menjadi suatu tradisi (Berger dan Luckmann, 1990).

Penulis melihat bahwa kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat di Atambut ialah suatu kebiasaan yang di anggap bagi mereka suatu hal yang positif. Pernyataan dari salah satu ayah disana bahwa baginya merokok itu lambang seorang anak laki-laki “terlihat keren”. Dengan demikian perlu ditingkatkan kepedulian dalam beberapa bidang sosial masyarakat antara lain:

  1. Pendidikan

pemerintah perlu memperhatikan pendidikan di papua khususnya di atambut. sejauh ini penulis melihat hanya ada sekolah dasar di kampung tersebut, sehingga apabila ingin pindah ke jenjang menengah pertama dan menengah atas, mereka harus pergi ke distrik atsj. Berikut tenaga pelajar perlu ditambah dengan demikian pelajaran dapat berjalan dengan efektiv.

  1. Kesehatan

Dalam bidang kesehatan perlu ditingkatn, perlu sosialisasi dan edukasi bagi masyarakat. Kurangnya kepedulian terhadap kesehatan membuat masyarakat sering jatuh sakit. Secara nasional pernah dikagetkan dengan kekurangan gizi yang dialami masyarakat di Asmat.

Dengan demikian kita perlu belajar dari kampung terpencil di Papua-Asmat. Dalam kesederhanaan masyarakat dapat hidup harmonis satu dengan yang lain. Mulai dari ras, suku dan agama, masyarakat Atambut yang masih sulit menggunakan Bahasa Indonesia, namun memiliki jiwa nasionalisme yang begitu tinggi. (mmsm)