Muhammad Abdul Rahman Al Chudaifi Santri di Bumi Damai Al Muhibbin yakni salah satu pesantren di Tambakberas Jombang

Nalar Plural Gus Dur dan Problem Intoleransi Keberagamaan (1)

1 min read

Sumber: https://biografi.kamikamu.co.id/

Akhir-akhir ini, peristiwa yang menunjukkan intoleransi semakin marak muncul di berbagai daerah, baik intoleransi dalam keberagamaan maupun keberagaman suku dan ras. Di tahun 2019, riset Setara Institute for Democracy and peace telah mencatat dalam sebelas tahun terakhir saja, telah terjadi 2.975 pelanggaran terkait kebebasan beragama dan 378 gangguan terhadap tempat ibadah.

Bahkan di tahun 2020 di mana pandemi telah mewabah, kasus-kasus intoleransi semakin subur di santreo Nusantara. Kabar terakhir pada September 2020 hampir serentak dalam satu bulan terjadi sikap intoleransi beragama, Pertama, pelarangan pembangunan fasilitas rumah dinas untuk pendeta di Greja Kristen Protestan Pakpak Dairi kecamatan Napagaluh di Aceh Singkil, kemudian perlakuan tidak mengenakkan sekelompok orang terhadap prosesi ibadah Jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Kota Serang Baru (KSB) Bekasi, kemudian penolakan aktifitas ibadah oleh sekelompok warga Graha Prima terhadap jemaat Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) di Jonggol Bogor dan pelarangan aktifitas ibadah Umat Kristen di Bangsal Mojokerto.

Banyak dari kalangan Umat Islam sendiri yang mengecam tindakan intoleran seperti itu. Tetapi banyak pula yang membenarkan tindakan tersebut lantaran dianggap mengganggu ketertiban, meresahkan warga dan sebagainya. Mirisnya, Umat Islam sendiri pula lah yang melakukan aksi intoleran tersebut. Karena mengganggap diri mereka mayoritas, sehingga mampu mengendalikan siapa yang minoritas dengan dalih kerukunan bersama.

Mengapa semakin ke sini intoleransi keberagamaan semakin menguat? Padahal di saat yang sama, banyak dari tokoh kalangan agama, cendikia dan peneliti sangat aktif dalam menyerukan untuk bersikap  toleran baik dalam bentuk tulisan, seminar dan ceramah-ceramah. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, intoleransi keberagamaan semakin mewabah.

Akar Intoleransi

Manajer Riset dan Program The Indonesian Institute menyatakan bahwa akar permasalahan intoleransi khususnya di Indonesia adalah aturan yang sifatnya membatasi bahkan diskriminatif, padahal tauran dibuat harusnya digunakan untuk melindungi dan mengayomi masyarakat secara menyeluruh. Ditambah lagi sikap ekslusifisme agama, yang memiliki pemahaman bahwa satu-satunya ajaran agama paling benar adalah apa yang ia anut, maka selain apa yang ia anut itu salah, dan sikap yang salah seperti itu tidak boleh berkembang, sehingga muncullah diskriminasi agama yang akan berujung pada intoleransi keagamaan.

Baca Juga  Pendidikan Dalam Pembelajaran Di Era Society 5.0

Kegalauan masyarakat dalam memilih panutan juga menjadi biang sikap intoleran. Karena pesatnya media informasi sekarang, masyarakat semakin bingung untuk mengikuti siapa, yang satu menyeru melakukan sesuatu satunya sebaliknya. Salah-salah masyarakat jatuh dalam kajian-kajian terselubung yang menggiring pemahamannya agar bersikap intoleran.

Dalam disertasi Oki Setiana Dewi yang berjudul “Penerimaan Kelas Menengah Muslim terhadap Dakwah Salafi dan Jamaah Tabligh; Studi Pengajian Selebriti Hijrah (2000-2019)” disebutkan oleh Muhammad Hanifuddin, ada tiga poin yang membuat selebritis tertarik mengikuti kajian Salafi; Pertama, pendakwan Salafi selalu merujuk al-Qur’an dan Hadits. Kedua, pendakwan Salafi mudah dihubungi dan konten keagamaannya sersebar di media sosial. Ketiga, pendakwan Salafi tegas dan jelas. Meskipun sebagian orang berpendapat bahwa pendakwan Salafi sangat tekstualis, tapi faktanya, pribadi yang seperti itulah yang digemari oleh beberapa Selebriti hijrah. Sedangkan motivasi para Selebritis hijrah ke Jamaah Tabligh adalah; pertama, mereka ingin mempelajari agama lebih mendalam, khususnya adab dan prilaku Rasulullah saw. Kedua, belajar cara dakwah rasul kepada para Sahabat. Ketiga, kesederhanaan, kesetaraan dan pantang menyerah dalam berdakwah.

Tidak ada salahnya bagi seseorang memilih panutan, yang salah adalah sikap yang muncul dari hasil pemilihan panutan tadi, apakah sudah sesuai dengan ukhuwah basyariyah (persaudaraan antar manusia) dan akhlaq al karimah (budi pekerti mulia). Bukan malah memunculkan sifat ekslusif, diskriminatif dan fanatisme belaka. Dan sebuah tugas penting bagi pendakwah yang benar-benar paham akan agama untuk bermanuver dalam berbagai lapisan masyarakat.

selanjutnya: Nalar Plural Gus Dur… (2)

Muhammad Abdul Rahman Al Chudaifi Santri di Bumi Damai Al Muhibbin yakni salah satu pesantren di Tambakberas Jombang