Muhammad Abdul Rahman Al Chudaifi Santri di Bumi Damai Al Muhibbin yakni salah satu pesantren di Tambakberas Jombang

Nalar Plural Gus Dur dan Problem Intoleransi Keberagamaan (2)

2 min read

Sumber: https://biografi.kamikamu.co.id/

Sebelumnya: Nalar Plural Gus Dur… (1)

Nalar Plural ala Gus Dur

Gus dur dikenal sebagai bapak pluralisme, sampai-sampai sahabat dekatnya, Djohan Efendi pernah diminta oleh Gus Dur suapaya kelak menuliskan dibatu nisannya: Di sini Dikubur Sang Pluralis. Mantan presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono juga sangat setuju dengan prediket Bapak Pluralisme yang tersemat pada sosok Gus Dur, dikarenakan gagasan-gagasan universal mengenai pentingnya menghormati perbedaan. Meskipun Gus Dur tidak terlalu sering berbicara tentang wacana pluralisme berikut dalil-dalil teologisnya sebagaimana banyak disitir oleh kebanyakan sarjana dan aktivis HAM, tetapi Gus Dur lebih sering mengamalkan, mempraktikkan dan memberikan contoh bagaimana sikap plural itu harus dilaksanakan, begitulah sepengetahuan KH. Husein Muhammad.

Kalaupun Gus Dur dimintai dalil agama soal pluralisme, ia sering menggunakan QS. Al Hujuraat ayat 13 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. Terma li ta’arafu (saling mengenal) di sini bukan sekedar mengetahui nama, wajah dan akun media sosial orang lain. Saling mengenal, dalam hal ini, memahami kebiasaan, ke-khas-an, tradisi, adat istiadat dan pikirian-pikiran yang tak sama. Sehingga apapun yang timbul dari hal tersebut adalah kearifan, bijaksana dan rendah hati satu sama lain. Bahkan dalam konteks sufisme kata tersebut dimaknai lebih mendalam lagi yakni menyerap pengetahuan ketuhanan melalui intuisi dan perjuangan batin.

Dalam satu kesempatan, Gus Dur menerangkan golongan orang-orang yang bertakwa dalam QS. Al Baqarah ayat 177. Kemudian beliau menerangkan bahwa Islam itu terdiri dari tiga pilar: rukun islam, rukun iman dan rukun tetangga. Meskipun ada rasa humor di sana, tetapi menurut KH. Husain Muhammad, terdapat makna mendalam dari ungkapan Gus Dur yang ringan dan menyenangkan itu. Rukun tetangga adalah rukun kemanusiaan. Tentu beliau tahu rukun ini dalam konteks Islam disebut sebagai ihsan (budi baik). Ihsan dalam pengertiannya yang luas adalah nilai-nilai kemanusiaan. Ihsan adalah moralitas luhur, budi pekerti yang mulia dan hati nurani yang bersih. Inti dari kesemuanya, ihsan adalah puncak keberagamaan seseorang.

Baca Juga  Pribumisasi Islam Adalah Idealisme Gus Dur (2)

Dengan demikian, Gus Dur ingin menggugah kesadaran kaum muslimin agar tidak mereduksi rukun kemanusiaan, sekaligus mengingatkan bahwa rukun tersebut menjadi tujuan agama dalam kehidupan manusia di dunia. Dalam prakteknya, Gus Dur langsung membela mereka yang martabat kemanusiaannya direndahkan, hak-haknya dikurangi, dirampas dan tidak dipedulikan.

Ketika pengikut Ahmadiyah diusir dan masjid-masjid mereka dirobohkan, Gus Dur hadir membela mereka. Ketika gereja-gereja diblokade, beliau lantang berteriak jangan. Ketika Inul Daratista dihujat karena goyangnya, beliau membelanya. Ketika Dorce Gamalama disorak karena berganti kelamin, beliau datang dengan penuh kasih. Ketika orang-orang Tionghoa meminta hari raya Imlek dan Barongsai, ia memberikannya dengan tulus. Ketika urusan Rancangan Undang-Undang pornografi hendak disahkan negara, beliau berdemonstrasi bersama istri dan orang-orang yang menghargai kemanusiaan. Dan masih banyak sikap Gus Dur dalam menjunjung keadilan.

Gus Dur bukan tidak paham bahwa ada yang tidak benar, keliru dan tidak disetujui dari orang-orang yang dibelanya. Namun beliau tetap membelanya, karena mereka ditolak hanya karena baju agama mereka berbeda. Ekspresi-ekspresi mereka dihentikan paksa oleh otoritas dominan. Padahal mereka sama sekali tidak melanggar hukum.

Menurut Gus Dur, ekspresi diri yang dianggap sebagian golongan salah, tidak boleh diintervensi oleh kekuasaan, tetapi harus diselesaikan sendiri oleh masyarakat dengan cara yang masyarakat miliki tanpa kekerasan dan main hakim sendiri. Dari sini dapat diketahui tentang pentingnya mengenal dan memahami manusia secara utuh.

Bagi Gus Dur, semua manusia sama, tidak peduli asal-usulnya, jenis kelaminnya, warna kulitnya, sukunya, ras dan kebangsaannya. Hal yang dilihat oleh Gus Dur adalah bahwa mereka itu manusia, dan bagaimana niat baik dan perbuatannya. Seperti sabda Nabi Muhammad saw “Tuhan tidak melihat bentuk fisik dan wajahmu, melainkan perilaku dan hatimu”.

Baca Juga  Menikmati Alquran Sebagai Spiritualitas Terdalam di Bulan Ramadan

Ajaran-ajaran tentang pluralisme sebenarnya sudah hadir ribuan tahun yang lalu,, salah satunya yang terserat dalam Baghawad Gita “Meski ada banyak serta beragam keyakinan dan praktik keagamaan, kesadaran spiritual yang mereka tuju pada dasarnya satu dan sama”. Maka, ketika praktik Gus Dur sudah menjadi sebuah gagasan dan wacana pluralisme, tinggal bagaimana masyarakat meneruskan perjuangannya, supaya toleransi keberagamaan -khususnya di Indonesia- tetap utuh terjaga bukan malah hancur dan terpecah belah. (MMSM)

Muhammad Abdul Rahman Al Chudaifi Santri di Bumi Damai Al Muhibbin yakni salah satu pesantren di Tambakberas Jombang