Martinus Joko Lelono Pastor Katolik dan Pengajar Kajian Agama dan Dialog di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma

Meskipun Sulit, Kondisi Di Tengah Pandemi Tetap Harus Dilalui

3 min read

Source: suarajogja.id

Salah satu peran relawan Covid-19 saat ini adalah menyediakan peti mati. Sebagaimana dilansir oleh Detikcom (12/7/21) tentang upaya anak perusahaan Pertamina yang menyediakan peti mati dari dana CSR. Bantuan itu diserahkan kepada camat Matraman, Jakarta yang akan mengelola penggunaannya.

Kegiatan serupa juga dilakukan di daerah lain, tidak terkecuali di Yogyakarta. Relawan Aktivis Gelanggang Mahasiswa UGM juga turut menyediakan peti mati untuk keperluan di Rumah Sakit Sarjito.

Dalam sebuah kesempatan, saya menemui salah seorang penggagas gerakan ini di Yogyakarta. Dia menceritakan bahwa awalnya ia merasa begitu pesimis mengingat banyak orang yang masih berjuang untuk memberi semangat kepada warga masyarakat, khususnya bagi mereka para penyintas Covid-19. Tentu gerakan ini awalnya banyak dipertanyakan bahkan dipandang sebelah mata, mengapa harus membuat gerakan yang begitu menyedihkan dengan menyediakan peti mati.

Namun, setelah mendengarkan betapa besarnya kebutuhan akan peti jenazah yang tak bisa dipenuhi hingga keluarga harus menunggu beberapa hari, akhirnya ia pun akhirnya optimis bahwa memang aktivitas ini juga amat penting dalam menghadapi wabah pandemi Covid1-9.

Akhirnya, ia pun menerima tawaran untuk terlibat untuk menyiapkan peti mati ini. Awalnya, kegiatan ini menggunakan dana pribadi dari kantong masing-masing relawan, setelah itu banyak kalangan yang turut bernonasi memberikan sumbangan. Sejauh ini, aksi para relawan ini mampu menyediakan setidaknya 30 peti mati setiap hari untuk Rumah Sakit Sarjito, Yogyakarta.

Di tengah berbagai pembatasan, kita tahu bahwa di hadapan serangan wabah yang tak kenal lelah ini, kita hanya bisa bertahan. Pertahanan kita adalah membuat sebanyak mungkin orang tetap sehat, mulai dari diri kita dan keluarga kita masing-masing. Pertahanan kita adalah dengan saling mendukung satu sama lain, terutama menguatkan mereka yang sedang sakit. Pertahanan kita dengan menciptakan lagu-lagu penguatan, doa-doa penopang luka, dan sapaan-sapaan yang meneguhkan orang di tengah penderitaan.

Baca Juga  Pentingkah Belajar Hermeneutika untuk Membaca Teks?

Pertahanan kita adalah dengan mengikuti pilihan tindakan pencegahan dari pemerintah yang ditujukan untuk kebaikan bersama. Pertahanan kita adalah dengan mendukung mereka yang harus meratap ditinggal oleh orang-orang terkasih. Pertahanan yang terakhir ini salah satunya diwujudnyatakan dengan kehendak baik menyediakan peti jenazah gratis bagi keluarga yang berduka.

Faktanya, selain kehilangan orang-orang terkasih, masih ada diantara meraka yang harus tetap berjuang untuk sekedar mendapatkan peti jenazah. Bukan karena tidak mampu membelinya. Namun, alasan utamanya tidak lain adalah karena persediaan yang semakin terbatas.

Di sisi lain, salah satu godaan yang bisa jadi membelenggu kita saat ini adalah keinginan untuk sesegera mungkin melompat, melewati hari-hari ini menuju ke hari pembebasan ketika Covid-19 tak lagi menakutkan. Orang bisa membayangkan seperti halnya ada di pinggir jurang hendak melompat ke sisi jurang yang lain tanpa haris mengalami perjuangan membuat jembatan di antara dua jurang. Semua itu mustahil. Kita sedang membuat jembatan agar bisa melewati jurang yang tercipta akibat pandemi ini tanpa harus jatuh ke dalamnya.

Selama sikap batin kita masih terus menerus mendorong kita untuk melarikan diri dari kenyataan hidup hari ini, kita tidak akan tumbuh dewasa. Segala bentuk derita dan kematian hanya dianggap angin lalu dan tidak menimbulkan simpati dalam diri kita.

Kesulitan tenaga medis tak pernah melahirkan solidaritas bersama. Begitu pula dengan berbagai ikhtiar pemerintah yang hanya dianggap sebagai paksaan yang menyiksa diri kita. Bisa jadi bahkan, dan memang ada, orang berpikir bahwa situasi ini adalah konspirasi yang tak berdasar. Padahal, telah banyak nyawa melayang, lebih banyak lagi mereka yang harus mengalami kehilangan, banyak tenaga medis diperas kekuatan fisik dan psikisnya di dalam ketidaknyamanan dan kerasnya pekerjaan yang berlarut-larut.

Baca Juga  Membincang Jaringan Ulama Indonesia dan Makkah (1)

Pun demikian, tak terbilang lagi saudara kita yang hidupnya yang merasakan sulitnya mencari penghidupan, bahkan hanya untuk sekedar makan.

Maka, saya melihat bahwa untuk saat ini kiranya tak penting lagi virus ini dari mana, dibuat untuk kepentingan apa dan apakah benar-benar buatan manusia atau karena faktor alam. Karena, yang lebih penting adalah fakta bahwa banyak nyawa yang harus ditolong, jenazah yang harus dimakamkan, orang kekurangan yang harus ditolong dan berjuta manusia yang harus dikuatkan karena menjadi korban Covid-19 dalam bentuk apapun.

Di Sini, Saat Ini

Di dalam tradisi Jawa, ada satu ungkapan sederhana untuk membuat orang sadar akan tantangan yang sedang harus dihadapi. Ungkapan itu adalah, Gek Kudu Nglakoni yang secara harafiah diartikan sedang harus menjalani. Ungkapan ini menunjuk bahwa tantangan dan penderitaan ini memang harus dihadapi, tetapi di dalamnya juga terselip pesan bahwa peristiwa itu tidak abadi.

Akan tiba saatnya kita harus mengalami yang lain, tetapi sebelum mengalami yang lain semoga kita bisa menjalani yang saat ini dengan cemerlang. Moga-moga nanti ketika kita sudah melewati, kita bisa menatap perjuangan kita hari ini dengan bangga dan bersyukur. Ungkapan ini senada dengan ungkapan Bahasa Latin Hic et Nunc (Di sini dan Saat ini) yang mendorong orang untuk tak terbuai pada pencapaian masa lalu atau keinginan besar dan segera mengalami masa depan.

Ungkapan itu lebih menekankan pada kesediaan untuk mengalami saat ini dan di tempat ini, apapun rasanya dan bagaimanapun cara perjuangannya. Seperti halnya ungkapan bijak lainnya yang mengatakan, “Yesterday is history, tomorrow is mystery, and today is a gift” (kemarin adalah sejarah, besok adalah misteri, sekarang adalah rahmat).

Baca Juga  Kedewasaan dalam Beragama dan Realitanya

Ungkapan ini menunjuk kepada kesadaran betapapun berat kehidupan kita saat ini, kita tidak pernah bisa mengubah masa lampau, ataupun menentukan sepenuhnya masa depan, tetapi kita bisa memaknai hidup kita hari ini.

Seperti saat-saat bermain sepakbola, kita berjuang mati-matian menerima situasi ditekan dan melawan dengan sekuat tenaga, demikianlah kita menyadari musuh kita saat ini (pandemi) yang harus dihadapi dengan sekuat tenaga.

Sebagian kecil kontribusi yang bisa kita lakukan adalah meneguhkan yang bersedih dan terpapar, memakamkan yang meninggal dan menumbuhkan pengharapan bagi yang sedang patah semangat. Sebagaimana cuplikan dialog dalam novel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer; “Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Akhirnya, sebagai sesama warga bangsa Indonesia, saya ingin mengatakan bahwa kita bukan bangsa yang diajari untuk berlari dari kenyataan, melainkan bangsa yang tegak berdiri menghadapi berbagai tantangan. [AA]

Martinus Joko Lelono Pastor Katolik dan Pengajar Kajian Agama dan Dialog di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma